[BOOK REVIEW #47] PUTRI FAJAR



Ada dua cerpen dalam buku ini: Putri Fajar dan Sepotong Bistik. Baik kita mulai dari Putri Fajar, tidak terlalu istimewa menurut saya. Hanya tentang dua orang laki-laki yang memperebutkan seorang perempuan jelita. Mereka mempertaruhkannya lewat sebuah perlombaan kereta luncur. Harrington dan Louis Savoy, yang bertanding dengan kemampuan terbaiknya. Ditutup dengan sebuah ending menggantung. Pertandingan yang tak selesai.

Sepotong Bistik justru yang membuat saya berdecak kagum atas kepiawaian Jack London memainkan kata, alur, mengeram kepedihan tokoh dan menggiringnya pada klimaks. Pembaca akan hanyut dan ikut tegang “menyaksikan” 11 ronde pertandingan tinju yang dikisahkan dengan sangat jitu. Tom King, nama tokoh petinju itu. Seorang juara tinju kelas berat yang sudah memasuki usia 40. Petinju tua, begitu pengarang menjulukinya, yang hanya bertanding untuk bertahann hidup. Ia akan melewati pertandingan dengan seorang muda dengan kondisi perut kosong dan sepotok bistik yang sangat diinginkannya. Saat ia telah tua dan menjadi miskin seperti itu, bahkan untuk sepotong bistik pun begitu sulit rasanya didapat. Saat sang istri melepasnya, berangkat bertanding, kata-kata keluar dari mulutnya, “Jika menang, aka nada cukup uang untuk melunasi hutang-hutang. Jika kalah, aku tidak punya apapun lagi, bahkan untuk ongkos pulang. Aku telah mengambil semua bagian yang diperuntukkan bagi yang kalah. Selamat jalan, perempuan tua. Aku akan langsung pulang jika aku menang.”

Dan ia berjalan kaki, menuju tempat pertandingan sejauh dua mil. Jalan kaki dua mil, tulis Jack London, bukanlah cara yang baik untuk memulai sebuah pertandingan. Tapi Tom King terpaksa harus melakukannya. Tak ada lagi taksi yang menjemputnya seperti dulu di masa-masa kejayaannya. Maka kemudian kita akan disuguhkan pada adegan demi adegan, ronde demi ronde yang jauh dari kata membosankan. Bahkan mungkin lebih seru daripada kita menonton pertandingan tinju sungguhan. Setiap pukulan tak bisa diprediksi oleh pembaca, bahkan tak ada yang bisa menduga bagaimana akhir dari kisah ini. Begitu dramatis, begitu menyesakkan. Seolah-olah kita merasakan Tom King, petinju tua itu, adalah kita. Bagaimana tangannya merasakan nyeri, bagaimana ia tiga kali merobohkan Sandel, petinju muda lawannya itu. Bagaimana King, harus bertahan dari gempuran dan jab-jab, hingga pada akhirnya… kepalan tangan itu mendarat. King merasakan sengatan tajam seperti terkena setrum. Di sekelilingnya ia merasa ditabiri dengan kegelapan. King harus menuai kekalahan, saat kemenangan justru sudah didepan matanya. Kurang satu pukulan terakhir yang harus ia sarangkan pada lawan, tapi kakinya yang digunakan berjalan sejauh dua mil, sudah terlalu berat, tak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Ia tersungkur. 

Ia telah kalah, tulis Jack London, dan itu semua gara-gara sepotong bistik. Tom King berjalan, tak ada sepeserpun uang di kantong. Ia merasakan lapar yang sangat, sakit yang hebat. Ia menangis tersedu, sebagaimana ia dulu pernah melihat Bill tua, lawan yang pernah dikalahkannya menangis di kamar ganti. Kini ia mengerti mengapa Bill menangis. 

Rafif, 12 September 2015. 19.58 wib
Review Putri Fajar. Jembar Publishing, C2,2008. 75 halaman. Karya Jack London
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "[BOOK REVIEW #47] PUTRI FAJAR"