Abu Nawas dan Empat Langkah Emas Menghasilkan Karya Terbaik

Konon, Abu Nuas, yang sering kita sebut Abu Nawas itu adalah penyair yang lambat dalam berkarya. Bukan karena malas membuat syair, tapi justru karena ketekunan dan kesungguhannya yang luar biasa. Begitu ada ide, ia endapkan dulu berhari-hari, dituliskan, lalu membacanya berulang-ulang. Setelah itu, ia sunting puisinya dengan membuang bagian-bagian yang jelek, sehingga yang tersisa hanyalah kata-kata yang indah dan baik.

Abu Nawas juga sangat bergantung mood saat menggubah syairnya. Aku nyaris tidak pernah dapat menggubah syair indah, katanya, kecuali bila hatiku sedang cerah, atau berada di dalam taman yang menyenangkan serta di dalam keadaan yang menyenangkan.

Mungkin kita mengira syairnya yang paling terkenal adalah "Ilahi lastu" yang biasa diperdengarkan di masjid atau surau menjelang adzan maghrib. Padahal kata beberapa peneliti, syair itu tidak ada dalam kitab kumpulan syair karangan Abu Nawas. Memang ada syair yang mirip maknanya tapi tidak sama bait-baitnya.

'Ala kulli hal. Yang perlu kita contoh dari sosok Abu Nawas adalah bagaimana obsesinya untuk melahirkan karya-karya terbaik. Bagaimana ia melalui tahap demi tahap yang bagi sebagian penulis merupakan proses yang membosankan. Mari kita telaah satu-persatu tahap yang dilalui Abu Nawas ini.

1. Mengendapkan ide. Meski berulangkali kita mendapat petuah bahwa begitu ada ide yang melintas segeralah tangkap, tentu hal ini tidak berlawanan dengan proses mengendapkan ide. Kita boleh mencatat bagian-bagian pentingnya, sambil terus kita endapkan di kepala, sehingga tersusunlah kata-kata yang indah. Atau paling tidak misalnya, kita menemukan kalimat pembuka yang paling menarik.

2. Menulis. Semua tahu fase ini. Apalagi Abu Nawas. Hehe

3. Membaca berulang-ulang. Dalam puisi, pembacaan ulang akan megukur sejauh mana rasa yang kita dapat saat membaca karya kita itu. Dalam cerpen, misalnya, kita meneliti lagi kesalahan logika atau alur yang agak mampet.

4. Menyunting. Maka mulailah otak kiri kita fungsikan. Mulai ejaan, kesalahan tanda baca, kita perhatikan sedetil mungkin. Jika dalam puisi, kesalahan penulisan satu huruf saja, bisa mengubah makna dan rasa. Begitupun peletakan tanda baca, pemisahan kata, dan lain-lain juga bisa menciptakan kesan yang berbeda.

Sebenarnya, empat langkah dari Abu Nawas ini bukan lagi sesuatu yang baru. Tapi seringkali satu atau dua hal darinya kita lewati begitu saja, mengingat kita ingin cepat-cepat menghasilkan sebanyak mungkin karya. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Abu Nawas dan Empat Langkah Emas Menghasilkan Karya Terbaik"