Ballada Orang-Orang Tertjinta

Kita mulai dari Ballada Lelaki2 Tanah Kapur. Rendra, tak habis-habisnya membangkitkan gairah seorang ksatria dalam puisi-puisinya. Seringkali, perjuangan yang harus ditebus dengan kerja keras dan darah, dan nyawa. Seperti puisi ini, lelaki-lelaki tanah kapur yang harus berhadapan dengan penyamun. Tak ada pilihan, karena menghindar darinya adalah aib bagi anak-istri. Tanpa menang tiada kata pulang/ pelari akan terbudjur di halaman/ ditolaki bini dan pintu berkuntji. Menang atau mati sebagai pahlawan. Bilamana mereka pulang dengan tubuh luka-luka dan kemenangan yang digenggamnya, perempuan-perempuan menghambur dari pintu/ mendjilati luka-luka mereka/ dara-dara menembang dan berdjengukan/ dari djendela. dan pada anak lelakinja ia berkata: anak lanang jang tunggal!/ kubawakan belati kepala penjamun bagimu/ ini, tersimpan di daging dada kanan.

Ballada Tebunuhnja Atmo Karpo. Atmo Karpo, seorang pemberontak yang mencuri harta kerajaan, seperti Robin Hood, ia membagikan harta-harta itu kepada orang-orang miskin yang menderita. Tetapi malang, suatu ketika, warga desa memburunya. Segenap warga desa mengepung hutan itu/ dalam satu pusaran pulang-balik/ Atmo Karpo mengutuki bulan betina dan nasibnja jang malang/ berpantjaran bunga api, anak panah di bahu kiri. Tapi Atmo Karpo tak menyerah.  Anak panah empat arah dan musuh tiga silang/ Atmo Karpo masih tegak, luka tudjuh liang. Setelah berhasil menebas semuanya, ia mencari Djoko Pandan. Djoko Pandan! Di mana ia!/ Hanja padanja seorang kukandung dosa. Lalu muncullah Djoko Pandan, mereka bertarung habis-habisan. sama-sama kuat, sebelum akhirnya, pada langkah ketiga, Atmo Karpo roboh. Panas luka2, terbuka daging kelopak2 angsoka. Djoko Pandan memenangkan pertarungannya. Lalu, Djoko Pandan menegak, mendjilat darah di pedang/ ia telah membunuh bapanja. Djoko Pandan membunuh bapaknya sendiri, Atmo Karpo.

Ballada Penantian. Tentang seorang wanita yang menunggu lelakinya setelah direnggut kedaraannya. Ia menanti depan djendela, terurai rambutnja/ kail tjinta membenam pada rabu, dilarikan ke lubuk-lubuk jang dalam/ tiada terlepas djuga dan tetes darahnja dilulur kembali ke dada. Adiknya-adiknya telah menikah, telah menimang bayi pula. Sementara ia, semakin tua didera usia, bahkan ibunya telah meninggal tiga tahun lalu. Semakin tua, ia masih menanti, dan rambutnya telah kelabu. Ia menunggu, bukan lagi untuk cinta, tapi dendam. Dendamnja yang sutji memaksanja menanti di situ/ dikubur di bawah djendela.

Ballada Sumilah. Sajak terakhir dalam buku ini, sekaligus sajak terpanjang. Sumilah, seorang gadis yang: tubuhnja lilin tersimpan di keranda/ tapi halusnja putih pergi kembara. Ia merindu pada seorang lelaki, Samidjo namanya yang matanya belati. Tapi malam itu, Belanda menyerbu dari utara. Demi hati berumahkan tanahibu/ dan pantjuran tempat bertjinta/ Samidjo berperang dan mewarnai malam/ dengan kuntum-kuntum darah/ perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang. Sumilah melarikan diri, karna Belanda hendak memperkosanya. Ia berhasil mempertahankan kehormatannya, belum lagi!/ demi air daraku merah: belum lagi!, itu yang ia ucapkan saat nenek Sutji Hassan Ali memergokinya di suatu semak dan menuduhkan telah ternoda. Tapi apa daya, berita beredar cepat bahwa Sumilah telah terenggut kesuciannya. Dan demi berita noda teramat tjepat kerna angin sendiri/ noda Sumilah djuga di hutan-hutan djati/ lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangnja/ dan Samidjo kerahkan segenap butir darah/ lebih setan dari segala kerbau djantan. Hingga Sumilah dan Samidjo bertemu, Samidjo tak percaya gadisnya masih suci. Ia marah, tatapnya tajam, bahkan hingga berkali-kali Sumilah meyakinkannya. Samidjo, ambil tetesan darahku pertama/ akan terketjap daraku putih, daramu seorang. Tapi Samidjo tak padam marahnya, ia mengutuk dan, tanpa omong dilepas tikaman pandang penghabisan/ lalu berpaling ia menghambur ke djantung hutan djati/ tertinggal Sumilah digajuti kojak-mojaknja. Sumilah gila karena kepedihan yang mencapai puncaknya. Ia menjumpa ajal di palung sungai.

Sumilah! Sumilah! 
Tubuhnja lilin tersimpan di keranda 
tapi halusnja putih pergi kembara
rintihnja tersebar selebar tudjuh desa
dan di udjung setiap rintih diserunja: 
--Samidjo! Samidjio!
matamu tuan begitu dingin dan kedjam 
pisau badja jang mengorek noda dari dada
dari tapak tanganmu angin napas neraka 
mendera hatiku berguling lepas dari rongga 
bulan djingga, telaga kepundan djingga 
ranting2 pokok ara 
terbentjana darahku segala djingga 
hentikan, samidjo! Hentikan, ja tuan!


Book Review #53. Review Ballada Orang-Orang Terjinta. Pustaka Jaya, C2, 1971. 55 halaman. Karya Rendra.
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

3 Responses to "Ballada Orang-Orang Tertjinta "

nur hidayati mengatakan...

Cool post

nur hidayati mengatakan...

Cool post

Rafif Amir mengatakan...

Terima kasih, Mbak Nur, sudah berkenan singgah :-)