DukaMu Abadi

Ini bukan tentang Hujan Bulan Juni, meski di dalamnya kau akan menemukan Hujan Turun Sepanjang Malam, Gerimis Jatuh, dan Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang. Ini adalah buku puisi pertamanya, yang memuat 42 puisi tahun 1967-1968. Terbit pertama kali tahun 1969 sebelum akhirnya dicetak ulang oleh Pustaka Jaya tahun 1975. Jika benar tahun 1969 adalah untuk pertama kalinya penyair "hujan" ini mempublikasikan karyanya, maka berarti saat itu usianya sudah 29 tahun. Kalah start dengan Rendra yang sudah meniti karirnya sejak usia 17 tahun. Tapi tak mengapa, toh Sapardi hidup lebih lama. Dan ia bersinar di kala tua, saat hujan dan gerimis mulai langka. 

Tapi saya tak akan membahas hujan. Saya hanya akan menyebut tiga puisi dalam buku ini, untuk sedikit dikupas. Sedikit saja. Sonet: Hei! Jangan Kau Patahkan, Sebuah Taman Sore Hari, Pada Suatu Hari Nanti. Ya, tiga puisi ini. 

Hei! jangan kaupatahkan kuntum bunga itu/ia sedang mengembang; bergoyang dahan-dahannya yang tua/yang telah menhenal baik, kau tahu/ segala perubahan cuaca. Sapardi Djoko Damono (SDD) hanya bercerita tentang bunga. Bunga yang sedang mekar, yang tak peduli kapanpun dan kondisi apapun tetap setia mengalirkan wangi dan pesonanya. Lalu kita lihat pada bait akhir, bagaimana SDD menggambarkan kepedihan yang dibalur keindahan. Jangan, saksikan saja dengan teliti/ bagaimana Matahari memulasnya warna-warni, sambil diam-diam/ membunuhnya dengan hati-hati sekali/ dalam Kasihsayang, dalam rindu dendam alam;/ lihat: ia pun terkulai perlahan-lahan/ dengan indah sekali, tanpa satu keluhan. Seperti membunuh dengan satu sentuhan, sentuhan tipis dan lembut. Tapi memang begitulah bunga, ia hidup pada satu masa, mati, kemudian digantikan oleh bunga lainnya. Tapi ia tetap dikenang sebagai bunga yang sama. 

Sebuah Taman Sore Hari, saya hanya terpikat pada dua baris pertama. Dari sayap-sayap burung kecil itu/ berguguran sepi, sepiku. Saya bertanya-tanya, dalam diri sang penyair, apa hubungan antara (sayap) burung dengan sepi yang tengah melandanya. Apakah ia hanya ingin menceritakan bahwa taman sore dimana ia melihat burung saat itu telah membuatnya bahagia. Karena bahagia adalah kemeriahan sebuah pesta? atau sepi yang mengucuri penantiannya, berguguran dengan kehadiran burung yang mempesonakan jiwanya itu?

Lalu, Pada Suatu Hari Nanti. Saya harus menuliskan puisi ini secara utuh. Begini: kita mesti berpisah. Sebab/ sudah terlampau lama bercinta, sebab anak-anak kita telah mengusir ibu-bapanya/ dan sebab tak ada rumah lagi/ yang masih terbuka/ Mula-mula air mata, yang cepat mendingin/ kita pun pergi seperti apa kata kitab-kitab itu/ sehabis makan malam/ siapa yang mengantarkan kita?/ hati kita sendiri, lebih ungguh dari derita/ lebih unggul dari putus asa/ lebih unggul dari sepi; ditanamnya pohon jeruk/ di pekarangan bekas rumah kita, dicoretkannya/ kapur penolak bala di tiap ambang pintu/ lalu kita tusuk sendiri dua belah mata kita/ agar tak terlihat lagi adegan-adegan cinta/ agar tak sakit hati mengenangkannya/ Kita tinggalkan kota ini, ketika menyeberang sungai/ terasa waktun masih mengalir/ di luar diri kita. Awas, jangan menoleh/ tak ada yang memerlukan kita lagi/ tak ada yang memanggil kembali;/ perkara kita tak hanya sampai di sini. Mari... Ya, berpisah adalah keharusan saat jarak akan mengubur kenangan. Akan berlalu masa-masa penuh kenikmatan, dan kehidupan harus dilalui asam getirnya. Tanpa merasai sakit, kau tak akan menyelami hidup sebagai seorang manusia. Hati kita lebih unggul dari segala luka. Hanya hati yang bisa melawan semua kesedihan, hanya hati yang bisa mengubur silam. Selebihnya; kota, rumah, dan sungai, sejatinya hanyalah cara agar hati tak lagi mengenangnya. 

Book Review #51. Review DukaMu Abadi. Pustaka Jaya, C2, 1975. 52 halaman. Karya Sapardi Djoko Damono.
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "DukaMu Abadi"