Elegi Matinya Puisi

buku puisi Rafif
Sayang sekali, puisi atau buku kumpulan puisi tak banyak mendapat perhatian dalam dunia literasi kita. Saya tidak tahu kenapa, apa karena bahasa puisi yang terlalu rumit untuk dipahami. Jika ya, betapa berarti kita adalah bangsa yang malas berpikir, malas berkontemplasi, malas mencari makna-makna di balik keindahan bahasa. Atau mungkin, karena puisi cenderung hemat kata dan buku kumpulan puisi yang paling tipis sekalipun mahal harganya. Ahai, andai kita tahu bahwa puisi yang baik kadang butuh proses mencipta berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, bisa jadi justru butuh waktu lebih panjang dari penciptaan novel. Puisi yang baik lahir dari kegelisahan, kegeraman, kepedihan dan gelegak jiwa, kemudian melalui proses kontemplasi dan perenungan panjang.

Lalu apa lagi? apa karena puisi sama sekali kita anggap tak memberi arti bagi kehidupan. Padahal terkadang satu bait dari puisi yang baik, bisa membuat kita terngiang-ngiang dan akhirnya berubah total baik sikap, kata, dan perbuatan. Apa mungkin juga menulis dan memiliki buku puisi tak cukup membanggakan. Ya, karena kita sendiri yang menjadikannya begitu. Dalam sejarah peradaban, khususnya peradaban Arab di era jahiliyahnya sekalipun, begitu memuja dan menghormati para penyair, menempatkan para penghafal syair pada prestise yang tinggi, mereka pun mengajarkan anak-anak mereka menulis dan menghafal syair.

Lalu apa lagi? banyak yang menertawakan seseorang ketika membaca puisi dengan penuh penghayatan, namun justru begitu serius ketika mendengarkan musik yang lirik-liriknya begitu murah harganya, bahkan terkadang isinya hanya umpatan yang kasar.

Lalu apa lagi? ketika puisi sudah seperti tak dianggap bagian dari seni. Mereka memuja-muja musik begitu rupa dan tak peduli pada puisi lalu berkoar-koar mengatakan sebagai seorang seniman atau penikmat seni? seni yang bagaimana.

Lalu apa lagi? ketika kita melihat puisi sekarat, lalu ia masuk ke dalam prosa, di sanalah ia kembali hidup dengan nyawa baru. Tapi ia tak dikenal. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Elegi Matinya Puisi "