Gigih Merevisi Karya

Dan tentang kegigihan merevisi karya, belajarlah pada Katherine Anne Porter, penulis peraih pulitzer prize 1965. Ia merivisi satu karyanya berjudul "Maria Concepcion" sebanyak 15-16 kali. Tapi tak selalu begitu, ia tahu kapan ia harus merevisi dan kapan tidak. Itu sangat tergantung tentang apa yang ia pikirkan tentang karya yang ditulisnya. "Flowering Judas", misalnya, cerita pendeknya itu ditulis pukul tujuh malam dan pukul satu lewat tiga puluh menit pada dini hari, ia telah memasukkan karyanya itu ke kotak pos. Menunggu terbit.

Kegigihan Porter dalam menulis dan merivisi karyanya berbuah manis. Di usia 75 tahun ia menuai hasil dari kerja kerasnya. Pulitzer Prize, National Book Award, setelah sebelumnya, novelnya yang berjudul Ship of Fools yang ditulis selama 20 tahun diangkat ke layar lebar. Inilah yang menjadikannya kaya dan terkenal.
sumber gambar: en.wikipedia.org

Kembali ke soal merivisi karya. Memang tak semua penulis mau melakukannya, sebagian dengan terang-terangan mengatakan bahwa daripada merivisi lebih baik mencipta karya baru. Tetapi belajar dari apa yang dilakukan oleh Anne Porter, kegigihan merivisi terhadap karya yang memang harus direvisi, adalah cara agar selalu menghasilkan karya yang berkualitas. Meski tidak semua karya berkualitas harus melalui proses revisi, setidaknya dengan revisi apalagi setelah melalui proses bedah karya atau kritik-kritik dari para ahli dan kritikus, karya yang dihasilkan akan semakin mendekati sempurna.

Maka merevisi karya menjadi sesuatu yang tak terelakkan dalam proses kreatif seorang penulis. Dalam hal ini pembacaan ulang sangatlah penting. Janganlah bosan berkali-kali membaca karya sendiri, karena seringkali ditemukan hal-hal yang mesti diperbaiki di dalamnya. Terkadang kesalahan logika cerita, karakter yang tidak konsisten, paragraf yang tidak koheren, konflik yang kurang greget, hingga alur bercabang dan kurang fokus.

Saya tidak tahu, apakah ada penulis Indonesia yang segigih dan sedisiplin Anne Porter hingga ia layak memimpikan hadiah sastra bergengsi tingkat dunia. Semoga saja banyak yang bekerja lebih keras dari dia.
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Gigih Merevisi Karya "