Jilbab dan Keyakinan yang Hampir Tergadai

Sejak sebelum nikah, saya suka mengoleksi jilbab.

Sebenarnya ketertarikan saya pada jilbab sudah sangat lama, sejak saya masih SMA. Ketertarikan itu saya tuangkan dalam sebuah esai yang dimuat di majalah Annida ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMA. Dalam esai itu bahkan saya tuliskan tentang impian saya untuk memiliki istri yang berjilbab syar'i di kemudian hari.

Lalu saya mengalami saat-saat kritis, saat saya hampir terlempar dari dien yang syamil ini. Namun Allah memberikan hidayah lewat tulisan yang saya tulis sendiri. Ya! esai tentang jilbab itu. Saya baca berkali-kali. Sampai nancap di dada saya, sampai pulih kembali keyakinan bahwa tidak ada dien kecuali islam yang mengatur masalah pakaian. Dan jilbab, saya telah melihat sendiri, telah memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan. Tidak hanya pada pribadi seorang muslimah, tapi bagi kehidupan sosial-masyarakat.

Saya bersyukur, saat saya telah berada di tepi jurang yang teramat curam dan dalam, saat yang terpapar di hadapan hanyalah kegelapan. Kegelapan yang pekat. Allah menyelamatkan saya, Allah mencintai saya. Saya menangis sejadi-jadinya. Saya bersimpuh, bermunajat, memohon petunjukNya meski tarikan-tarikan yang hendak mengantarkan saya pada "kematian" terasa begitu kuat. Bisikan-bisikan itu. Entah berasal dari mana.

Perlahan, saya melihat cahaya. Noktah cahaya. Lalu seakan ada yang mendorongku menjauh dari jurang itu. Jilbab. Jilbab. Jilbab. Saya membayangkan muslimah dengan wajah anggunnya, mengenakan jilbab menutup seluruh tubuhnya. Diakah wanita yang telah bertahun lalu kutulis dalam esai itu?

Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan? saat cahaya telah menyelimuti tubuhku. Saat saya telah kembali menjadi muslim seutuhnya. Saat jilbab memberikan energi besar, agar saya melawan tak menyerah pada tarikan-tarikan gaib itu. Saat saya memenangkan perdebatan panjang tentang kesempurnaan dan kemuliaan Islam. Jilbab seakan-akan menjadi tangan Tuhan agar saya kembali padaNya, menyembahNya dalam keyakinan total. La raibafiih...

Itulah awal, kemudian saya tergila-gila pada jilbab. Saya kagum dan hormat pada setiap muslimah yang konsisten berhijab, yang menjadikan jilbab tak hanya sekadar pakaian jasad tapi memperindah pula tutur kata dan sikap. Saya mulai mengoleksi jilbab. Entah untuk apa, saya pun tak tahu. Jilbab-jilbab itu tersimpan rapi di lemari bersama pakaian saya yang lain. Sesekali saya pandangi. Saya beri pewangi. Saya cium.

tulisan saya tentang jilbab. dok. Rafif
Betapa hidayah Allah tak ternilai. Jilbab menjadi perantara hidayah itu. Tulisan saya 10 tahun yang lalu itu masih tersimpan rapi. Ia adalah kenangan, tentang masa silam yang penuh ujian dan masa depan yang penuh perjuangan bersama mimpi yang telah tunai, menuju mimpi-mimpi berikutnya. 



Sungguh, jika kau ingin mengetahui keunggulan Islam dibandingkan agama lainnya, cukuplah dengan jilbab. Cukuplah dengan jilbab. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Jilbab dan Keyakinan yang Hampir Tergadai "