Journey to Sumbawa Part 2: Mengunjungi Istana Dalam Loka

Istana Dalam Loka

Sebagai pecinta bangunan bersejarah, Dalam Loka bak magnet langsung menarik hati saya. Ditemani seorang guide, Pak Dani namanya, saya menyusuri ruangan-ruangan istana tua tempat tinggal para raja Sumbawa ini. Saya pun tak bosan bertanya, sambil sesekali mencatat di handphone, mengambil gambar dengan kamera pocket dan mengimajinasikan cerita-cerita yang dituturkan Pak Dani.

Kita mulai dari bagian depan dulu ya. Ada 25 anak tangga menuju pintu masuk utama. Jumlah anak tangga persis sama dengan jumlah nabi dan rasul yang wajib diimani oleh umat Islam. Di sebelah kiri dekat pintu masuk, terdapat pladang, yaitu tempat duduk para tamu sultan. di situlah para tamu menunggu sebelum akhirnya diperbolehkan memasuki ruangan. Sejajar dengan tempat duduk para tamu (di sebelah kanan) adalah tempat senjata yang dibawa para tamu diletakkan. Biasanya berupa tombak, senjata tajam, dan lain-lain.

Bersama guide, Pak Dani
Istana Dalam Loka terdiri dari dua rumah panggung kembar yang disebut Bala Rea (Graha Besar). Bala Rea disangga dengan 99 tiang besar yang melambangkan asmaul husna. Di bagian depan adalah ruangan besar bernama Lunyuk Agung, tempat berlangsungnya resepsi, musyawarah, dan acara penting lainnya. di ruangan ini, saya melihat banyak foto bersejarah masa kejayaan kesultanan Sumbawa dipajang. Dalam Loka dibangun pada tahun 1885. Saat itu yang menjadi Sultan adalah Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III.

Di sebelah barat dari Lunyuk Agung, adalah ruang shalat atau mushalla. Lurus ke utara, adalah kamar tempat peraduan sultan. Ruangannya cukup besar. Ke utara lagi, adalah kamar tidur para putri. Paling utara dengan  ukuran memanjang adalah ruang dapur.

Jendela yang terbuka adalah tempat putri menonton pertunjukan
Sekarang kita beralih ke sisi sebelah timur. Paling utara adalah ruang inang atau pengasuh putri raja. Tiga kamar lainnya diperuntukkan putra/putri raja yang sudah berkeluarga. Di ruang dalam inang saya sempatkan berfoto, karena melihat ada banyak payung yang biasa digunakan di sisi tempat duduk raja.

Sudah selesai? belum. Masih ada lantai kedua. Saya masuk menuju ruangan tempat bermain para putri raja. Dari sanalah para putri raja menonton pertunjukan dan kegiatan-kegiatan yang seringkali diadakan di masjid besar. Ohya, tepat di sebelah barat Istana Dalam Loka berdiri megah Masjid Agung Sumbawa. Saat saya shalat dhuhur di sana, jamaahnya lumayan rame. Nah, kembali ke soal ruang bermain putri tadi. Para putri biasanya menonton pertunjukan dari jendela paling selatan. tinggal menolehkan kepala sedikit ke arah barat, maka halaman masjid tempat pertunjukan berlangsung sudah dapat terlihat jelas.

Masih di lantai dua, yang ditopang oleh 10 tiang yang melambangan jumlah rasul, saya menaiki tangga menuju ruang tempat nenun. Ada 17 anak tangga yang melambangkan jumlah rakaat keseluruhan shalat wajib. Ruang nenun cukup luas dengan jendela yang sangat banyak. Hanya ada dua bangunan di ruang atas melanmbangkan dua kalimah syahadat.

Dalam Loka yang konon dibangun dalam waktu 9 bulan 10 hari (seperti masa usia kandungan) memang sarat filosofis religius. Tak heran, mengingat kesultanan Sumbawa saat itu sebagai sebuah kerajaan Islam. Namun bangunan ini sudah lama tak difungsikan. tepatnya sejak 1932. Kini hanya menjadi museum dan cagar alam meski sebagian bangunannya sudah tak asli lagi.




loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Journey to Sumbawa Part 2: Mengunjungi Istana Dalam Loka "