Kekuatan Lahir Vs Kekuatan Batin



beritafotojakarta.wordpress.com

"Kita terus terang mengakui, bahwa persenjataan kita saat ini masih kurang, bila dibandingkan dengan persenjataan musuh yang lengkap dan modern. Oleh karena itu, perjuangan kita harus kita dasarkan atas kesucian. Dengan demikian berarti perjuangan antara jahat dengan suci. Kami percaya, bahwa perjuangan suci itu akan mendapat pertolongan dari Allah. Apabila perjuangan kita sudah berdasarkan atas kesucian, maka perjuangan ini pun akan berwujud kekuatan lahir melawan kekuatan batin..." (kutipan pidato pertama Jenderal Soedirman sesaat setelah dianugerahi gelar "Panglima Besar")

Sesuai judul tulisan ini, saya ingin menggarisbawahi kalimat terakhir kutipan pidato Jenderal Soedirman di atas, sebagai tanda bahwa dua kekuatan itulah yang selalu mendominasi dalam setiap pertempuran Al-Haq melawan Al-Bathil. Dua kekuatan yang sepertinya tidak seimbang namun berkali-kali sejarah telah membuktikan bahwa kekuatan batin hampir selalu berhasil memenangkan pertarungan.

Perang Badar, Perlawan rakyat Palestina terhadap Zionis Israel, atau yang paling dekat, adalah kemenangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda, Portugal, Inggris, dan Jepang. apakah masuk akal jika bambu runcing dan ketapel mengalahkan rudal dan meriam? tentu, orang yang paling cerdas sekalipun akan mengatakan: tidak! Bagaimana mungkin seorang jenderal penderita TBC bisa memimpin peperangan dengan gemilang dari atas tandu dengan kondisi fisik yang sedemikian lemah. Tapi Panglima Sudirman membuktikan bahwa apa yang ia katakan bukanlah hanya untuk menggembirakan pasukannya. Ia adalah keniscayaan yang menyertai sejarah.

Memang di luar nalar jika kita memandanya dengan perspektif lahir belaka. Satu orang bertubuh kerempeng tanpa senjata dan tak menguasai bela diri akan terasa mustahil mengalahkan dua orang berbadan tegap, bersenjata, dan mahir bergelut. Namun, itu dengan satu syarat, mereka memiliki situasi batin yang sama. Tetapi jika tidak, perkelahian itu bisa jadi akan seimbang atau bahkan mungkin si kurus kerempeng bisa memenangkan perkelahian itu sebagaimana Thalut dan Dawud yang kecil mengalahkan Jalut dan tentaranya yang besar.

Sejarah juga membuktikan, ketika sang panglima perang muda, Muhammad Al-Fatih, hendak menaklukkan Konstantinopel, ia memilih prajurit-prajuritnya bukan hanya yang memiliki kekuatan fisik belaka, tapi ia menyeleksi dengan ketat prajurit-prajurit yang memiliki ketangguhan batin, memiliki kekuatan ruhiyah yang paling puncak, yang memiliki amalan-amalan terbaik dan paling ketat menjauhi maksiat.

Dan kemenangan Al-Fatih gilang gemilang, dicatat oleh sejarah dengan tinta emas!

Maka, sekarang, ketika kita perlahan menuju era gelombang ketiga, yang oleh Alvin Toffler, dikatakan sebagai era informasi. saat peperangan tak lagi dengan mengangkat senjata, hanya cukup dengan perangkat teknologi informasi yang salah satunya menghasilkan peluru media massa, sudah bisa "membunuh" banyak orang, lembaga, atau negara dalam satu waktu sekaligus. Apakah kemudian kekuatan batin tidak diperlukan lagi?

Saya akan menjawab: kekuatan batin yang optimal akan memenangkan pertempuran di segala zaman. Partai politik yang dedengkotnya bermain kotor menjelang pemilu dan memiliki niat busuk setelah berkuasa akan dikalahkan oleh partai yang memiliki integritas yang baik, yang diperjuangkan oleh orang-orang dengan kualitas batin yang baik dan memiliki cita-cita yang mulia untuk rakyat.

Tak ada kekuatan lahir sebesar apapun yang bisa mengalahkan kekuatan batin yang puncak, tak ada! percayalah, sebagaimana kita meyakini bahwa pada akhirnya Al-Haq selalu menang atas al-Bathil. Apalagi jika kekuatan batin yang baik itu ditunjang dengan kekuatan lahir yang juga kokoh. Percayalah, pertolongan Allah itu hanya atas orang-orang baik dan orang yang memiliki tujuan kebaikan.

Tapi mungkin masih ada yang meragukan ini, dengan bertanya, "Lantas, mengapa kita yang memperjuangkan kebenaran masih selalu kalah?" saya tidak akan menjelaskannya panjang lebar. Silakan baca buku Manhaj Tarbawi, Sistem Kaderisasi Dalam Sirah Nabi karangan Syaikh Munir Al-Ghadban. Saya hanya ingin menyampaikan satu saja: terkadang kita menyangkan kita sudah maksimal dalam berjuang, terkadang menyangka bahwa kekuatan batin kita sudah yang paling puncak padahal sejatinya belum ada apa-apanya. kita bisa bercermin pada para panglima pemenang pertempuran seperti Al-Fatih, dan kita bisa mempelajari bagaimana pada akhirnya ia bisa menyongsong kemenangan.

Belajarlah pada sejarah para pemenang dan belajarlah pada sejarah yang telah kita buat sendiri. Yakinlah satu hal, kekuatan batin yang kita maknai sebagai kekuatan iman, kekuatan ruhiyah, dan kesucian hati, adalah modal paling asasi untuk memenangkan setiap pertempuran. (rafifamir.com)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Kekuatan Lahir Vs Kekuatan Batin"