Konsep Melayani Part 1: Senyum

Dalam beberapa tulisan ke depan mungkin saya akan membahas bab "melayani" ini lebih banyak. Terus terang, setiap melihat pelayanan di toko-toko, di instansi, di tempat-tempat yang tujuan utamanya mendapatkan keuntungan dari pelanggan atau ia dibayar untuk pekerjaannya melayani itu, saya suka "gregetan" jika ternyata pelayanan yang mereka berikan tidak sesuai standar minimal: senyum.

Mengapa susah tersenyum? mungkin karena mereka tidak menyukai pekerjaannya, hanya setengah hati untuk memenuhi tuntutan hidup. Atau mungkin sedang ada masalah? apapun alasannya, saya yakin semua pelanggan akan lebih menyukai seseorang yang melayani dengan sambutan senyum daripada yang wajahnya "datar-datar", atau bahkan sambil bermuka masam atau cemberut.

Ini seringkali saya alami. Dan jika saya temui, biasanya saya tidak membeli di tempat itu lagi. Apalagi masih banyak pilihan tempat yang menawarkan kualitas dan harga bersaing dengan pelayanan yang lebih murah senyum.

Saya yakin kita semua sepakat, bahwa senyum tulus seorang "pelayan" akan memberikan kesan yang baik bagi pelanggan, senyum itu akan mendatangkan senyum pula. Dan dengan itu akan ada kebahagiaan yang menyeruak. Saya yakin semua pengusaha menyadari hal ini. Oleh karenanya di beberapa toko saya melihat ada ditulis: "Anda berhak potongan senilai Rp 10.000,- jika petugas kasir tidak tersenyum dan mengucapkan terima kasih." Tetapi pada kenyataannya sangat sering tulisan itu hanya menjadi tulisan. Karena petugas kasir tidak tersenyum dan pelanggan tidak mendapatkan uang sebesar Rp 10.000,-

Kalau saya mengatasinya gampang, saya pasang CCTV di depan kasir. Siapa petugas kasir yang tidak senyum dan tidak memberikan "hadiah" buat pelanggan, ia harus membayar dua kali lipat ke saya. Kalau masih berkali-kali tidak bisa senyum, saya pecat saja. Beres!
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Konsep Melayani Part 1: Senyum "