Menulis Puisi ala Linus Suryadi AG


Linus Suryadi, sumber: tempo.co
Linus Suryadi mulai menulis puisi sejak 1970. Awalnya ia mengaku puisi-puisi yang lahir dari tangannya sangat jelek. Itu terbukti ketika ia membandingkan puisi bikinannya itu dengan puisi-puisi karya Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, dll. Tapi justru dengan menyadari puisinya yang jelek itu ia banyak belajar. Ia selalu membandingkan puisi-puisinya dengan karya penyair-penyair tersohor. Tidak hanya dari dalam negeri tapi juga penyair kelas dunia seperti Conrad Aiken, T.S.Eliot, ataupun Alexander Pushkin.

Maka tak heran, setahun kemudian puisi pertamanya muncul di media. Ia semakin bersemangat. Bahkan pada bulan yang berakhiran suku kata "ber" ia menjadi sangat produktif (September, Oktober, November, desember.  Ia menyebutnya masa-masa "kumat" menulis. Kebetulan biasanya bulan-bulan itu biasanya bertepatan dengan musim penghujan sehingga banyak ide kreatif bermunculan. Mungkin mirip dengan Sapardi yang puisinya banya terinspirasi dari hujan.

Dalam menulis puisi, Linus selalu mengabaikan tujuan di awal. Ia membiarkan tulisan mengalir begitu saja, kemudian menetapkan tujuan di akhir. Mirip dengan proses kreatif saya dalam penulisan puisi ketika masa-masa SMA. Saya menjadi produktif karena membiarkan kata-kata muncrat begitu saja tanpa perlu ditahan-tahan atau diseleksi terlebih dahulu. Muncratan itu dari hulu nurani. Baru kemudian setelah selesai semua saya tuliskan, saya temukan maknanya. Saya revisi jika ada yang tidak mengandung makna apa-apa. Dalam puisi, setiap kata harus menambah cita rasa. 

Dan yang palin penting, dalam proses kepenyairan Linus, ia mengatakan begini: puisi yang baik bukan sekadar hasil kelihaian penyairnya beretorika, bukan sekadar kemahiran penyairnya mengartikulasikan kata-kata abstrak, melainkan kesanggupan penyairnya mentransformasikan pengalaman menjadi kata-kata intuitif, kongkret (Linus Suryadi AG,1984).

Maka puisi yang bagus dan kuat akan lahir dari proses transformasi pengalaman yang hebat, yang muncrat dari mata air nurani, yang menyembur dari kedalaman rasa pada saat dan suasana yang tepat. Kemudian menjadi kata-kata yang tiba-tiba membentuk formasi estetik dengan sendirinya. Seperti unsur-unsur yang bersenyawa, memadat dalam satu warna bahasa. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

2 Responses to "Menulis Puisi ala Linus Suryadi AG"

Dedi Setiawan mengatakan...

Wah, hebat, mirip Iinus proses kreatifnya hehe

Rafif Amir mengatakan...

hasilnya berbeda :D. btw, terima kasih sudah mampir, Mas Dedi