Menunggu Karya Terbit

sumber gambar: lettersoftnote.com
Barangkali saya termasuk orang yang mudah kecewa ketika tulisan saya ditolak sebuah media. Ya, mungkin mencoba mengirimkan ke media yang lain sebanyak 5-10 kali. Dan saya kira itu sudah maksimal. Jika kali kesepuluh tetap ditolak, maka saya menganggap tulisan saya itu jelek dan tak layak muat.

Tapi saya tercengang ketika membaca cerita Marianne Moore, penulis peraih peraih pulitzer prize itu, ia mengirimkan satu karyanya ke 35 media yang berbeda-beda dan ia ngotot sampai karya itu benar-benar dimuat. Wow, 35 media! tentu waktunya tidak bersamaan. Kalau kita asumsikan masa tunggu media di sana seperti di Indonesia yakni 1-3 bulan. berarti ia harus menunggu 35-105 bulan (sekitar 3-9 tahun) untuk satu karya yang ia kirimkan.

Setelah saya pikir ulang, apa yang dilakukan Moore adalah cara untuk memperpanjang kebahagiaan sekaligus melejitkan produktivitas. Memperpanjang kebahagiaan karena salah satu hal yang membuat penulis bahagia, saat karyanya dikirim ke media dan kemudian diterbitkan. Melejitkan produktivitas karena dalam masa tunggu yang demikian lama, ia akan terus menulis, lagi dan lagi. Mungkin saat mengirim ke media ia menganggap sedang membuang tulisannya ke keranjang sampah. Ia tak berharap banyak, sehingga ia akan menulis lagi tanpa beban, lalu "membuang"nya lagi. Begitu seterusnya.

Benar. Terkadang muncul dalam pikiran kita, saat merasa tulisan kita sangat banyak, rasa enggan dan malas untuk menulis. Tetapi jika menganggap karya kita sangat sedikit atau bahkan tak ada, maka kita terpacu untuk menulis yang terbaik.

Mungkin demikian yang dialami oleh Moore. Kegigihannya untuk mempublikasikan karyanya pun sungguh luar biasa. Ia tak ingin karyanya hanya menumpuk di meja dan ia baca sendiri. Karena tujuan dari menulis itu sendiri sejatinya adalah berbagi atau menyampaikan sesuatu kepada pembaca. Tak ada pesan yang akan sampai jika sebuah karya tak pernah dipublikasikan.

Marianne Moore seakan-akan hendak mengatakan, "Jangan berhenti menulis dan jangan putus asa menerbitkan karya!" sebuah pesan penting bagi saya dan mungkin Anda yang seringkali menyerah begitu karya kita ditolak oleh beberapa media.

Mungkin di zaman Moore, saat media sosial belum segencar sekarang, media cetak adalah satu-satunya pilihan. Tapi di zaman informasi seperti saat ini, tak ada lagi alasan untuk tidak menerbitkan karya. Namun jika tujuannya hanyalah untuk mendapatkan uang semata, media cetak mungkin pilihan utama, meski peluang mendapatkan penghasilan dari menulis di blog juga tak kalah menjanjikan. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Menunggu Karya Terbit "