Menyusuri Museum Benteng Vredeburg

Kira-kira jam menunjukkan pukul 11 lebih ketika saya dan teman-teman FLP sampai di sekitaran Malioboro, Yogyakarta. Sebenarnya, ini di luar schedule. Sehabis silaturahim dengan teman-teman FLP Jogja di Masjid UIN Sunan Kalijaga, tiba-tiba saja ide ini muncul. Entah siapa, tapi sepertinya Bang Muhsin pelakunya. Hehehe...

foto dari luar museum benteng Vredeburg
Ketika teman-teman sedang bingung mencari objek dan lokasi yang menarik buat foto-foto, iseng saya melihat peta wisata Yogya yang kebetulan dibawa Mbak Zie dari rumah. Saya coba telusuri kira-kira ada apa aja di sekitar Malioboro. Sebenarnya, ada keraton yang ingin kami kunjungi. Tapi ternyata lokasinya lumayan jauh dari tempat kami parkir mobil. Sementara waktu kami tak banyak. Hanya satu jam saja.

Karena saya penyuka wisata sejarah, tiba-tiba mata saya ijo (ijo? emang lihat duit? hehe) ketika melihat di peta ada tertulis Museum Benteng Vredeburg. Kebetulan saya juga belum pernah ke sana. Maka dengan semangat 45, saya dan teman-teman menuju lokasi museum. Tentu saja dengan jalan kaki.

Rafif dan Monumen Kereta
Terik matahari Jogja menyambar-nyambar. Keringat pun mulai bercucuran. Sengaja kami lewat di sisi trotoar, meski panas tapi bisa jalan lebih cepat. Lewat sisi kiri yang dipenuhi orang jualan sebenarnya jauh lebih adem tapi jalannya macet. Nun, rupanya tak tahan, ia memisahkan diri dari rombongan sembari mencari oleh-oleh. Mbak Noer dan Fatma kami tinggal karena masih menunggu antrian beli jus. Tinggallah saya dan Mbak Zie yang dengan semangat membara masih menuju lokasi musem Benteng Vredeburg.

Rafif dan Patung Tentara Inggris
Ketika sampai di sana, tenyata sudah jam 12. Lima belas menit lagi harus segera balik. Membayangkan harus jalan kaki lagi, rasanya sendi-sendi langsung ngilu semua. Hehe.. Karena sudah terlanjur nyampek, akhirnya saya dan Mbak Zie foto-foto dulu deh di depan "kereta" dan papan nama. "Gak usah masuk, waktunya gak cukup," kata Mbak Zie. Saya hanya mengangguk meski mupeng.

Baiklah. "Kita foto di depan pintu masuk aja." Lumayan, buat kenang-kenangan, pikir saya waktu itu. Tampaknya memang kita ke sana hanya menarget foto-foto aja. Hehe. Tapi, setelah foto-foto rupanya Mbak Zie pun tergoda untuk melihat-lihat ke dalam Museum Benteng Vredeburg itu. Sepertinya juga gratis. "Kalo gratis kita masuk aja sebentar," ujar saya tetap dengan tampang mupeng.

Ternyata ada tiketnya. Tapi cuma dua ribu rupiah saja. Murah meriah, seharga ongkos parkir di Surabaya. Yaudah, masuk aja.

Rafif dan Patung Pejuang
Di halaman utama, kami melihat ada beberapa patung; patung tentara penjajah Belanda, Inggris, dan Jepang. Selain itu juga ada patung pahlawan baik dari TNI atau rakyat biasa yang bersenjatakan bambu runcing. Paling barat, ada patung Bung karno dan Bung Hatta. Ada juga patung meriam. Saya ingin foto di sana tapi di sekitarnya banyak dipenuhi orang yang sekadar duduk-duduk. Entah menunggu apa. Kami sendiri gak ada waktu duduk karena diuber waktu.

Alhamdulillah, Mbak Zie berhasil melobi Bang Muhsin untuk menjemput di Museum Benteng Vredeburg. Selain kami tak perlu jalan kaki lagi yang bikin persendian ngilu itu, kami juga masih ada kesempatan untuk menelusuri spot-spot lain yang ada di museum. Saya melihat ada beberapa diorama, dengan beberapa pintu ma
pintu masuk diorama
suk. Di dalamnya, ada monumen-monumen, patung-patung, gambar dan lukisan yang menggambarkan bagaimana perjuangan pra dan pasca kemerdekaan. Sayangnya saya tak bisa lama mengamati detilnya, lagi-lagi karena waktu yang tak cukup banyak dan lagipula targetnya hanya foto-foto. Mungkin detilnya nanti diamati lewat foto aja. Hehe...

Tapi beberapa, saya masih bisa mengamati dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Saya terkagum dengan perancang lukisan/patung di dalam kaca yang efeknya seperti 3 dimensi. Langit dan pemandangannya seperti asli. Berbeda dengan yang pernah saya lihat di Jatim Park, Malang. Ada juga patung Bu Fatmawati yang lagi jahit bendera sang saka. Benar-benar sangat menarik dan mengagumkan.

Di bangunan sebelah timur, tepatnya di lantai 2, sepertinya dijadikan tempat pemutaran film-film sejarah perjuangan. Kami tak sampai melihat ke sana. Bisa masuk ke diorama saja sudah sangat untung. Meski tak semua diorama bisa kami kunjungi. Mungkin lain kali, lain kesempatan, bisa lebih lama dari ini.

Kami sudah dijemput. It's time to go back. 
Rafif dan Diorama perjuangan 3D


Sejarah Museum Benteng Vredeburg

Sedikit saya mencari tahu tentang museum Benteng Vredeburg ini. Ternyata ia dibangun tahun 1765 oleh penjajah Belanda, dengan tujuan untuk mengamati aktivitas di Keraton. Jarak Kraton dengan benteng memang dekat, tak sampai satu kilometer. Benteng Vredeburg sendiri artinya Benteng Perdamaian, meski sebenarnya benteng itu juga dijadikan sebagai pertahanan Belanda. Buktinya ada menara pengawas, ada parit yang mengelilinginya dan di setiap pojok ada tempat bagi tentara Belanda untuk berjaga-jaga, siap melepaskan tembakan jika diperlukan.

Setelah Indonesia merdeka, Benteng Vredeburg ini dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai markas militer RI. Tahun 1980, atas persetujuan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, benteng dialihfungsikan sebagai pusat informasi dan pengembangan kebudayaan nusantara. Lalu tahun 1985 dipugar dan dialihfungsikan lagi sebagai museum perjuangan. Lalu dibuka untuk umum, dan tepatnya 23 November 1992, diresmikan sebagai Museum Khusus Perjuangan Nasional.

Begitulah sekilas Museum Benteng Vredeburg yang saya kunjungi dalam waktu singkat itu. (@RafifAmir)




loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Menyusuri Museum Benteng Vredeburg"