Mimpi Menerbitkan Buku


Saya baru menyadarinya beberapa waktu lalu, saat saya kembali membolak-balik halaman buku Menerbitkan Buku Itu Gampang yang ditulis oleh Jonru.  Telah menjadi kebiasaan saya, setiap kali membeli buku saya akan menuliskan dimana dan kapan buku tersebut saya beli. Lantas saya juga akan menuliskan di halaman sampul sebuah kalimat atau frasa yang muncul tiba-tiba setelah rampung membacanya. Barangkali, inilah yang disebut dengan keajaiban mimpi. Mimpi yang tertulis! Biarlah nanti saya ceritakan. 


Sejak sekitar  tahun 2007 silam obsesi saya untuk menerbitkan buku begitu menggebu-gebu. Meski baru sekitar 1 tahun berusaha konsisten di dunia tulis-menulis, saya begitu optimis dan yakin bahwa saya --seperti halnya penulis-penulis lain- juga bisa menerbitkan buku. Setiap jalan-jalan ke toko buku saya selalu membayangkan buku karya saya nanti akan mejeng di sana bersama buku-buku karangan penulis terkenal. Rasa iri atas kesuksesan teman-teman FLP (waktu itu saya baru 1 tahun bergabung dengan FLP) menerbitkanbuku pertamanya membuat semangat saya semakin menjadi-jadi. 

Tapi saya tidak punya naskah! Inilah kelemahan saya. Tulisan-tulisan saya yang jumlahnya ratusan hanya terdiri dari puisi-puisi dan catatan harian di blog. Tak ada satu pun naskah yang siap untuk diterbitkan. Mengetahui kenyataan yang demikian, mendadak semangat saya ciut. Saya sangat paham bahwa jarang sekali penerbit yang mau menerima naskah puisi (saat itu saya belum mengenal self publishing) dan itu berarti saya harus berjuang dari awal untuk membuat naskah yang layak untuk diterbitkan.  Sementara mimpi saya untuk menerbitkan buku menuntut waktu yang tidak lama. 

Entah dorongan dari mana, maka saya mulai memburu buku-buku tentang cara menerbitkan buku. Semua saya baca dengan lahap, termasuk buku yang saya sebutkan dalam pembukaan tulisan ini: Menerbitkan Buku Itu Gampang. Dari sanalah saya tahu bahwa tulisan-tulisan di blog bisa dijadikan buku dan sudah banyak penulis yang melakukannya. Saya pun segera merapikan tulisan-tulisan saya di blog yang jumlahnya ratusan. Beberapa saya revisi, saya tulis ulang dengan ide yang sama, saya bagi dalam sub bab yang berbeda sesuai dengan tema dan bentuk penulisannya. Dan akhirnya, selesai. Namun saya harus menambahi beberapa halaman lagi karena rata-rata penerbit mensyaratkan minimal 100 halaman untuk naskah non fiksi.  
Setelah naskah saya jadi, saya mulai mengirimkannya ke penerbit. Berbulan-bulan saya menunggu, tetapi tidak ada jawaban. Hingga kemudian sepucuk surat dari penerbit yang bersangkutan datang. Awalnya saya sangat senang karena mengira naskah saya diterima. Tetapi kemudian saya kecewa setelah membaca isinya yang menyatakan naskah saya belum dapat diterbitkan karena temanya terlalu umum. 

Saya tak patah semangat. Untuk kedua kalinya saya mengirimkan naskah yang sama pada penerbit yang berbeda. Berbulan-bulan kemudian jawaban yang sama mampir ke tempat kos saya: Ditolak. Sedih rasanya, meski sebelumnya saya sudah tahu bahwa resiko naskah yang masuk ke meja redaksi penerbit jika tidak diterima ya ditolak. Saya sudah berusaha menyiapkan mental kalaupun naskah saya ditolak. Tetapi saya belum siap.  

Naskah tersebut saya biarkan terkatung-katung sembari terus rutin menulis di blog. Biarlah tidak menjadi buku, toh menulis di blog juga bisa mencerahkan, pikir saya waktu itu. Memang terkesan seperti upaya menghibur diri sendiri. Mau bagaimana lagi, saya benar-benar frustasi. 

Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Optimisme saya bangkit lagi begitu browsing asal-asalan di internet dan membuka situs menulisyuk.com di mana Arul Khan sebagai pengelolanya menawarkan jasa Agen bagi penulis. Senang sekali rasanya sayang mengetahui hal itu. Bagi saya, informasi itu telah menumbuhkan kepercayaan diri saya kembali dan membuka lagi jalan menuju gerbang mimpi yang sempat tertutup sementara. 

Tak berapa lama setelah naskah saya kirim, ada jawaban mengejutkan dari Kang Arul (sapaan akrab Arul Khan) bahwa ada penerbit yang tertarik dengan naskah saya. Saya diminta untuk merevisi beberapa hal terkait dengan naskah tersebut. Betapa senangnya saya mendengar kabar tersebut. Hari itu juga saya merivisi naskah dan langsung selesai dalam waktu satu hari. Saya kirim ulang dengan senyum yang mulai lebar. 

Kembali ke soal buku Menerbitkan Buku Itu Gampang yang saya beli saat masa-masa saya mengalami frustasi, setelah menuliskan tempat dan tanggal membeli buku tersebut di halaman sampul, saya menuliskan kalimat begini: “Tahun depan buku saya terbit!” saya sendiri tidak tahu bagaimana kata-kata sakti itu muncul  setelah saya mengetahui kenyataan dua penerbit menolak naskah buku saya. Memang, saya selalu menuliskan spontanitas apa yang terpikir setelah saya membaca sebuah buku. 

Beberapa waktu yang lalu, lebih dari dua tahun setelah saya menuliskan kalimat itu, saya menyadari bahwa kalimat singkat yang saya tulis itu telah menjadi kenyataan. Tepat setahun kemudian (dari waktu saya menuliskan kalimat itu) buku pertama saya benar-benar terbit! Subhanallah. Tepat setahun kemudian. Hingga saat ini saya masih setengah tidak percaya bagaimana kalimat tersebut menggerakkan alam bawah sadar untuk mewujudkannya lebih dari sekedar kata-kata, melainkan sebuah kenyataan yang bisa disaksikan mata. 

Beberapa hari setelah buku saya terbit dan saya juga telah menerima contoh buku pertama saya itu, impian dan imajinasi saya untuk bisa melihat buku saya dipajang di rak toko-toko buku sudah menjadi kenyataan. Saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri buku saya mejeng di toko buku terkemuka di Indonesia sejajar dengan buku-buku penulis terkenal. 

Sejatinya, banyak pihak yang terlibat dalam mewujudkan impian saya ini. Akan tetapi, mimpi itu sendiri yang menjadi kekuatan penggerak semesta untuk turut serta menerjemahkan kata-kata menjadi peristiwa-peristiwa, menjadi objek nyata, menjadi sesuatu yang lebih bermakna. 

Dan beberapa minggu kemudian, sebuah koran lokal mewawancarai saya dan menampilkan foto beserta kisah saya selama berjuang untuk menerbitkan buku.

Jember, 27 Maret 2011
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

1 Response to "Mimpi Menerbitkan Buku"

Bai Ruindra mengatakan...

Mimpi saya juga sama :)