Pengarang dan Tontonannya

Jika kau ingin menjadi pengarang yang baik, sudahi menonton sinetron-sinetron Indonesia. Memang tidak semua, tapi lebih banyak alurnya klise, atau kejadian-kejadian tak masuk akal yang sengaja dibuat untuk menciptakan konflik, atau adegan-adegan lebay yang terlalu tiba-tiba hanya untuk membuat penonton terkejut setengah hidup. Tentu tanpa penceritaan yang baik, lebih banyak menonjolkan permorfance tokoh yang notabene artis kelas bintang.
love in harvard

Ada yang ceritanya begini: seorang laki-laki yang pacaran dengan seorang perempuan cantik yang juga dukun beranak. Saat hubungan mereka ingin lebih serius, bapak si perempuan tidak setuju. Begitu pun dengan ibu si lelaki. Penyebabnya, karena bapak si perempuan dan ibu si lelaki pernah pacaran waktu masih muda dulu dan putus karena pertengkaran. Saat bertemu, keduanya terlibat adu mulut. Si bapak syok dan pingsan. Si ibu pun juga syok, tapi kemudian merasa kasihan dengan si bapak. Singkat cerita karena kejadian tersebut si bapak dan si ibu merestui pernikahan anak mereka. Ketika pernikahan sedang berlangsung, tepat saat ucapan ijab baru selesai dan akan di-qabul kan oleh si lelaki, ada seseorang yang memotong. Ia mengatakan istrinya mau melahirkan dan dalam keadaan gawat. Maka keduanya pun segera lari menuju rumah calon pasien itu. keduanya tak jadi menikah. Para undangan hanya melongo.

Coba perhatikan alur cerita tersebut. Terkesan sangat "maksa" sekali ingin menciptakan kejutan bagi penonton, mungkin juga ingin menciptakan ending tak terduga yang tetap berakhir dengan bahagia. Tetapi bagaimana si juru cerita bisa mempertanggungjawabkan: pertama, tentang si ibu dan si bapak yang tiba-tiba sadar hanya gara-gara sama-sama syok dan pingsan. Bagimana juga, acara akad nikah yang tinggal menyelsaikan ucapan qabul saja harus ditunda karena yang mereka anggap "tugas mulia". Apakah tak ada bidan lain? masuk akalkah cerita ini?

Jika ingin lebih baik dalam membangun alur, belajarlah paling tidak pada serial drama korea yang jauh lebih anggun dalam penceritaan. Salah satunya misal "Love in Harvard". Tidak hanya menghibur, sinetron ini juga banyak mendidik daripada sinetron-sinetron picisan remaja kita yang kurang-lebih bercerita tentang orang baik yang selalu disakiti oleh tokoh antagonis, rebutan pacar, cinta-cintaan yang "kasar", dan mungkin pelajaran agar tidak belajar di sekolah.

Silakan memilih, jika tetap ingin benar-benar menjadi pengarang, saran saya tinggalkan tontonan film atau sinetron-sinetron picisan dan beralih ke tontonan yang lebih memperkaya teknik kita dalam membuat cerita. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Pengarang dan Tontonannya"