Pernikahan Dini Seharusnya Terjadi

Mulai marak kembali iklan yang menyarankan kita menunda-nunda pernikahan. Alasannya supaya matang, menunggu mapan. Pernikahan dini dikhawatirkan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari ketika biduk rumah tangga telah berlayar menyusuri samudra kehidupan.

Saya kira iklan ini mirip bisikan setan yang dihembuskan kepada setiap pemuda muslim yang sudah ba'ah. Syetan tak senang orang Islam menikah di usia muda, kesempatan ia untuk menggoda kepada maksiat semakin sempit. Padahal senjata utama yang ia tikamkan kepada pemuda sehat yang masih tegap dan kuat itu ialah umbaran syahwat di bawah perut.

Maka, sesuai judul tulisan ini, saya mengutuk iklan yang melarang secara halus orang Islam untuk menikah di usia muda sama seperti halnya saya mengutuk godaan iblis yang datang dari depan-belakang, kanan-kiri, atas-bawah setiap saat, tak henti. Pernikahan dini bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Saya kira muda atau tua bukanlah ukuran layak atau tidak layak menikah. Pun usia bukanlah halangan sehingga harus diundang-undangkan batasan minimumnya seperti terjadi sekarang. Islam hanya mensyaratkan tamyiz, artinya sudah bisa membedakan salah dan benar. Imam Syafi'i pernah bangun untuk shalat malam dan melihat anaknya yang sedang tertidur, maaf, kemaluannya tegang. Esoknya, beliau carikan calon istri untuk anaknya dan langsung dinikahkannya di usia muda. Buya Hamka, seorang ulama yang tersohor itu menikah di usia 21 tahun dengan seorang gadis yang masih berusia 15 tahun kala itu. Orang tua kita, kakek-nenek kita dulu banyak yang menikah di usia muda dan kehidupan mereka makmur sentosa, bahagia lahir-batin bahkan bisa menghasilkan banyak keturunan yang kelak menjadi muslim-muslimah yang shalih dan shalihah. Jadi sebenarnya, tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan pernikahan dini.

Saya sendiri menikah di usia yang belum genap 23 tahun dan sudah merasa terlambat. Sedih melihat orang Islam yang sudah berumur bahkan sudah berkepala 3 dan 4 masih tenang-tenang saja dan sibuk dengan pekerjaannya yang segudang. Jika ia tak merasakan godaan syahwat, mungkin masih dimaklumi, tapi kalau sudah bertubi-tubi ia diserang godaan perempuan belum juga hinggap keinginannya untuk menikah dengan segudang alasan, saya kira ini sudah sangat keterlaluan.

Sedih pula saya melihat kenyataan di sebagian masyarakat kita sekarang. Jika ada yang menikah di usia muda maka timbul pikiran buruknya, jangan-jangan ada "kecelakaan" atau hal yang tak diinginkan. Tapi diacuhkannya anak-anaknya sendiri yang bebas bergaul, sampai kelewat batas dengan teman berlainan jenis. Sampai menginap-nginap di rumah dan kos, pulang larut malam atau pagi menjelang subuh. Dibiarkannya anak-anaknya sendiri mengkonsumsi media-media porno dan setelah "kecelakaan" itu menimpa mereka, lantas dinikahkan. Inikah yang lebih baik dari pernikahan dini?

Seharusnya kita sadar, karena kita sudah tahu bahwa menikah adalah bagian dari menyempurnakan dien. Maka sebaiknyalah disegerakan jika tak ada aral melintang. Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnahnya menempatkan bab nikah setelah bab-bab mengenai rukun Islam. Itu menandakan pentingnya menikah sedini mungkin. Asal sudah ba'ah dan siap berumah tangga, maka tunggu apa lagi? ba'ah bukan berarti memiliki penghasilan tetap, tetapi sudah memiliki kemampuan dan keinginan mencari nafkah bagi si laki-laki. Siap berumah tangga itu berkaitan dengan ilmu, maka mempelajarinya suatu keharusan.

Jadi, bersegeralah asal jangan tergesa-gesa! (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Pernikahan Dini Seharusnya Terjadi"