Saat "Aktivis Dakwah" Menghancurkan Dakwah

Mungkin sebagian dari sobat kaget membaca judul tulisan ini. Aktivis dakwah tapi menghancurkan dakwah? bagaimana logikanya? Maaf, jika terlalu ekstrim, tapi yang akan saya sampaikan adalah kenyataan yang sebenarnya. Sebaian yang mengaku aktivis dakwah terkadang tidak sadar bahwa dirinya justru telah menjadi penghambat laju dakwah bahkan terkadang menghancurkan dakwah yang telah dibangun dengan keringat, airmata, dan darah.

Meski pahit, tapi inilah yang terjadi. Kita boleh saja menyalahkan orang-orang yang terus gemar melakukan maksiat, namun di sisi lain keberhasilan dakwah di kalangan mereka semakin sulit tercapai karena para aktivis dakwah melakukan kesalahan-kesalahan fatal, baik disadari atau tidak.

Apa saja kesalahan-kesalahan itu? Maafkan jika saya tidak mampu menjabarkannya secara detil. Cukuplah menjadi pelajaran agar selayaknya seseorang yang menyandang predikat sebagai aktivis dakwah lebih berhati-hati dalam setiap gerak dan langkahnya.

Tidak Amanah

Sebagian dari aktivis dakwah yang telah menikah, disibukkan dengan mengurus keluarga barunya. Tentu hal itu adalah kewajiban, tapi yang menyedihkan, di waktu yang sama ia menelantarkan amanah yang diembannya. Apalagi jika, ia memegang peranan vital dalam sebuah organisasi dakwah, semisal sebagai ketua umum. Hal ini akan menjadikan gerak dakwah dalam wajihah itu menjadi terseok-seok. Bayangkanlah bagaimana manusia yang kaki, badan, dan tangannya bergerak maju, sementara kepalanya tetap di tempat yang sama. Program kerja akan terbengkalai, perjalanan untuk mencapai tujuan agar terasa semakin panjang.

Bagi saya, para aktivis yang menelantarkan dakwah dan sibuk dengan urusan pribadinya, sebaiknya ia tanggalkan amanahnya, jika memang ia sudah tak bisa lagi memperbaiki diri bahkan setelah banyak sahabat memberikan nasehat padanya. Berikan amanah itu pada yang lain, yang ia siap untuk berjibaku, berkorban lebih banyak untuk cita-cita mulia dakwah.

Pribadi yang Buruk

Seperti kata Nabi, iman terkadang naik terkadang turun. Pribadi seorang aktivis pun terkadang tak sesempurna yang dibayangkan. Sebagai manusia yang tak luput dari khilaf dan dosa, tentu sah-sah saja. Tetapi jika kesalahan itu menjadi kebiasaan dan ia hidup dalam masyarakat dimana seharusnya ia menjadi teladan dan agen perubahan, justru ia menunjukkan perilaku yang tak bermoral, akhlak yang buruk. Sehingga bukan simpati yang didapat, malah dijauhi dan dibenci. Dakwah tidak akan pernah sampai manakala para aktivisnya justru jauh dari nilai-nilai yang diajarkan Islam. Dan ini benar-benar terjadi. Tak perlu saya kisahkan lebih jauh di sini. Biarlah kita mengambil ibrah, bahwa sudah merupakan suatu keharusan bagi seorang aktivis dakwah untuk senantiasa berakhlakul karimah.

'Ashabiyah

'Ashabiyah adalah sikap mengagungkan kelompoknya dan menganggap remeh kelompok lain. Menganggap hanya kelompoknya yang benar, bahkan pada tataran yang ekstrim, menganggap bahwa hanya kelompoknya lah yang akan masuk surga. Sikap seperti tak bisa dibiarkan, dan tidak boleh ada dalam diri aktivis dakwah. Ia harus mengetahui betul kelompok mana sajakah yang benar-benar sesat dan menyimpang serta kelompok mana yang sama-sama memperjuangkah dakwah Islam, hanya saja mungkin caranya berbeda.

Inilah yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Aktivis harakah A, menghujat harakah lain yang berbeda cara dalam menyampaikan dakwahnya. Padahal keduanya benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Di suatu acara dakwah, mereka tak segan menyabotase hanya karena tak ingin kelompok itu yang mengadakan. Lebih jauh lagi, di tataran negara, mereka menjegal langkah kelompok lain yang hendak menjadikan negara diatur dengan syariat dan nilai-nilai Islam. Sungguh, merupakan bencana yang menyedihkan. Di sisi lain, orang-orang kafir berlomba menjegal dakwah tapi justru dalam tubuh umat Islam sendiri berpecah-belah satu sama lain. Seperti kendaraan yang mengangkut banyak penumpang, saling bertabrakan. Sampaikah mereka pada tujuan?

Menjadi Parasit dalam Tubuh Jama'ah

Meski menyandang sebagai aktivis, ia justru lebih sering bersikap pasif. Bahkan berperilaku sebagai parasit dalam tubuh jamaahnya. Ia hanya hadir ketika mendapatkan sesuatu yang menguntungkan secara mataeri untuk dirinya. Selebihnya, ia mencari keuntungan melalui koneksi yang sudah terjalin sesama aktivis. Ia mempunyai ambisi pribadi dan menjadikan dakwah sebagai topeng untuk mencapai ambisinya itu. Ia tak memberikan kontribusi apapun, yang terjadi ia malah seringkali menciptakan masalah di dalam tubuh jamaah. Orang seperti ini, jika tak bisa diperingatkan, sebaiknya "dibersihkan".

Konflik Internal 

Bisakah sesama aktivis dalam satu kelompok berkonflik? sangat bisa, bahkan sudah banyak kasusnya. Mereka mungkin tak menyadari konflik yang mereka buat, baik yang sifatnya pribadi maupun dalam organisasi jika tak segera diselesaikan, dibiarkan berlarut-larut, akan mengganggu kerja-kerja dakwah berikutnya.

Sebenarnya, saya yakin masih ada lagi hal-hal yang menjadi sebab hancurnya dakwah di tangan para aktivis ini. Biarlah nanti kita sambul lagi. Atau silakan jika ada pembaca yang ingin berbagi.

Dalam judul, sengaja saya beri tanda kutip pada kata "Aktivis Dakwah" karena mungkin mereka adalah yang dikenal dan merasa sebagai aktivis tapi menghambat bahkan menghancurkan dakwah. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Saat "Aktivis Dakwah" Menghancurkan Dakwah"