Salah "Kamar"

Apakah kemudian saya menyesal karena mengubah haluan? seorang sarjana elektro yang mencoba menekuni dunia writerpreneurship? sama sekali tidak! justru saya sangat bersyukur karena mendapat pencerahan, menyadari potensi saya sebenarnya. Potensi yang diberikan Tuhan untuk mengelola hidup. Justru saya akan merasa berdosa jika tetap memaksakan diri menerapkan ilmu yang saya dapat ketika kuliah sementara hati saya tidak mengehendakinya. Saya yakin Allah pun lebih senang melihat hambaNya memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk bekerja yang manfaat dengan hati bahagia.

Berbagai tawaran pekerjaan saya tolak secara halus. Saya ingin fokus. Mengerahkan potensi dan daya kreatif saya untuk memberi manfaat bagi sesama, juga untuk menafkahi anak-istri. Tidak peduli banyak orang menertawakan atau yang paling halus, menggeleng-gelengkan kepala.

Sebagaian dari mereka bertanya, "Kalau begitu, sia-sia kuliah lima tahun kalau pada akhirnya hanya menjadi pedagang buku dan penulis?" bagi saya tak ada yang sia-sia dalam hidup selama kita bersungguh-sungguh dalam berproses. Saya banyak mendapatkan pencerahan selama menyandang status sebagai mahasiswa. Kampus dan luar kampus banyak membentuk sikap dan kepribadian saya. Saya bersyukur punya banyak teman yang baik, saya bersyukur bisa mengenal organisasi intra dan ekstra kampus, saya bersyukur bisa melatih mental menjadi penjual dengan hanya bermodalkan kartu mahasiswa, saya bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi.

Saya sudah menentukan pilihan dalam hidup ini. Pilihan yang memang harus saya bayar mahal. Saya tidak mengedepankan materi di atas segalanya, meski tentu itu juga penting. Saya mengedepankan karunia Allah yang menciptakan saya yang Dia bagi-bagikan kepada setiap hambaNya. Karunia berupa potensi alami. Potensi yang ketika terus dikembangkan maka akan mendatangkan kekuatan besar yang mengubah, tidak hanya diri sendiri tetapi juga peradaban. Potensi seperti yang dimiliki Thomas Alva Edison untuk terus meneliti bohlam. Seandainya Edison berhenti meneliti dan memutuskan menjadi tukang jahit maka tak ada karya luar biasa yang ia ciptakan. Potensi besar yang kita miliki tak boleh disia-siakan. Jika potensi kita bisa menulis dengan baik, maka menulis akan mengantarkan kita pada karya terbaik. Jika potensi kita menjadi seorang penjahit, maka karya terbaik akan lahir dari profesi kita sebagai penjahit.
Saya memang salah "kamar". Salah menempatkan diri sesuai gelar yang dimiliki. Tetapi bukankah gelar hanya bikinan manusia yang tak menjamin kesuksesan dalam karya? tetapi saya yakin tak ada ilmu yang sia-sia. Semua proses kita dicata olehNya. Hidup ini hanyalah cara mempersembahkan yang terbaik untukNya dengan cara terbaik sesuai petunjukNya.

bersama teman-teman

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Salah "Kamar""