Tapak Pertama di Kota Udang

Saya masih ingat betul, hari yang panas itu, Oktober 2008. Itulah pertama kali saya menginjakkan kaki di kota udang. Saya mendapat undangan dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur sehubungan dengan cerpen saya yang terpilih sebagai juara 3 Lomba Cerpen Se-Jatim. Judul cerpen saya "Dendam", mengangkat budaya carok di Madura.

infosda.com
Tepatnya di Buduran. Saya turun dari angkot dengan wajah kusut dan kebingungan. Tujuan saya, kantor Balai Bahasa, Jalan Siwalan Panji. Saya mencoba menelusurinya dengan jalan kaki. Tanya sana-sini. Berkilometer. Tak jua ketemu. Lebih dari satu jam berkeliling, kulit semakin hangus terpanggang matahri yang teriknya minta ampun.

Ketika saya sampai di gerbang pintu masuk Balai Bahasa, keringat sudah bercucuran gak karuan, merembes dan membasahi baju. Tapi semua itu terbayar, saat saya membawa pulang trophi dan uang yang nominalnya cukup besar buat ukuran mahasiswa seperti saya waktu itu.

Sungguh, saat itu tak terpikirkan dalam benak saya akan kembali atau bahkan menetap di kota udang. Tapi takdir menggiring saya kembali ke kota kenangan ini. Saya berjodoh dengan seorang wanita shalihah yang berasal dari sana. Tahun 2010 kami menikah, 2011 kami memutuskan tinggal di Sidoarjo. Meninggalkan semua kenangan di Jember.

Begitulah. Dan kini sudah ribuan tapak yang saya jejakkan. Mencoba membetahkan diri, menjalin relasi, memperbanyak berbagi, dan membaktikan diri di sini. Entah sampai kapan. Segalanya masih samar. Yang jelas, hingga hampir 5 tahun berjalan, suka-duka telah terekam rapi dalam memori. Sidoarjo telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan hidup saya yang entah kapan akan terhenti.
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Tapak Pertama di Kota Udang"