6 Alasan Kenapa Hukuman Mati Harus Tetap Ada

Hingga saat ini pro-kontra terhadap pemberlakuan hukuman mati di Indonesia terus bergulir. Para aktivis HAM mengatakan bahwa hukuman mati memasung hak hidup setiap warga negara, lebih-lebih hak untuk mengambil nyawa seseorang adalah hak mutlak Tuhan.

Berbagai alasan dikemukakan oleh mereka yang tak menginginkan penerapan hukuman mati. Mulai dari alasan kemanusiaan, dalil agama, negara-negara Barat yang menentang penghapusan hukuman mati, hingga alasan bahwa hukuman mati tak menyelesaikan persoalan. "Lagi pula, dengan membiarkan mereka hidup, akan memberikan kesempatan pada mereka untuk memperbaiki diri," tambah mereka.

Tak kurang, Adam Malik, wakil presiden ketiga RI pernah mewacanakan penghapusan hukuman mati ini. Ia beralasan, sebuah negara yang telah sampai pada peradaban tinggi seperti Indonesia tak layak menjadikan hukuman mati sebagai salah satu hukum pidana. Tapi hal itu dibantah keras oleh M. Natsir, tokoh Masyumi ini menyatakan bahwa hukuman mati harus tetap ada, tinggal bagaimana proses dan pelaksanaannya yang harus diperbaiki.

Terlepas dari kontroversi itu, saya sendiri bependapat bahwa hukuman mati tak perlu dihapus. Ada beberapa hal yang mendasari pendapat saya ini:

1. Kehendak Tuhan. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, maka wajar jika masyarakat menuntut haknya untuk menjalankan kehendak dan perintah Tuhan. Dalil tentang qisas ini bisa dilihat dalam surat Al-Baqarah ayat 178. Tetapi tunggu dulu, kajilah lebih jauh ayat ini, juga ayat-ayat setelahnya yaitu An Nisa' ayat 92-94. Jangan dibayangkan bahwa setiap pelaku kejahatan membunuh, mutlak harus dihukum mati. Yang jelas, yang ingin saya tekankan dalam poin pertama ini, untuk membantah orang yang mengatakan bahwa mencabut nyawa seseorang hanyalah hak Tuhan. Padahal Tuhan sendiri yang memberi ruang pemberlakuan qisas.

2. Prosesnya tidaklah mudah. Seperti yang telah saya sampaikan, eksekusi hukuman tidak serta merta, meski si tertuduh telah melakukan kejahatan berat sekalipun. Hukuman mati adalah jalan terakhir ketika sistematika penyelesaian tak menemukan titik terang. Bahkan bagi orang yang membunuh karena tidak sengaja maka hukumati mati tidak bisa diberlakukan. Bagaimana sistematika penyelesaian yang dimaksud? Surat Al-Baqarah ayat 178 pun telah memberikan solusinya. Hal yang terpenting adalah keridhaan keluarga yang ditinggalkan. Ada yang bersikeras untuk menuntut balas dan menginginkan qisas. Ada pula yang berlapang dada memaafkan atau yang pertengahan dengan menuntut ganti rugi atau diat (tebusan).  Proses musyarawah untuk menetapkan hukuman mati sendiri harus dilakukan orang yang ahli hukum dan paham agama. Serta melalui pertimbangan kemaslahatan.

3. Tujuan hukuman mati justru untuk melestarikan kehidupan. Jika ada yang beranggapan bahwa hukuman mati telah merampas hak seseorang untuk hidup, maka coba kita pikir dengan logika sederhana. Jika hukuman mati tidak diberlakukan untuk seorang pembunuh, maka akan semakin banyak manusia yang dengan mudah membunuh manusia lainnya. Atau bisa jadi si pembunuh tidak merasa jera, dan tanpa berpikir panjang meluapkan emosinya dengan cara membunuh, lagi dan lagi. Jadi, lebih baik mengorbankan satu orang untuk kehidupan jutaan orang. Coba dikaji Surat Al Baqarah ayat 179.

4. Menjaga perasaan keluarga yang ditinggalkan. Saya kira setiap orang pada dasarnya, jika menanyakan pada nurani masing-masing, justru menghendaki hukuman mati sebagai qisas. Kira-kira bagaimana jika yang dibunuh adalah orang terdekat yang sangat Anda cintai? apa yang akan Anda lakukan? menuntut hukuman yang setimpal? apa yang setimpal menurut Anda? hukuman mati, bukan? lebih-lebih jika yang dibunuh adalah tulang punggung keluarga. Maka di sinilah hikmah diturunkannya ayat yang membahas tentang diat. Agar seorang yang dibunuh tidak lantas menyebabkan anggota keluarga yang lain meninggal karena kelaparan atau karena kesedihan yang berlarut.

5. Mencegah hukum rimba. Karena perasaan tidak terima dari anggota keluarga yang dibunuh, maka bisa jadi mereka akan memburu si pembunuh dan membunuhnya juga tanpa proses peradilan. Seperti yang kerap kali terjadi di Madura, misalnya. Menuntut balas. Darah dengan darah. Yang terkadang dendam itu hingga turun temurun dan sudah banyak korbannya. Terang sekali, bahwa hukuman mati menjadi jaminan justru agar peradaban tak kembali ke zaman jahiliyah, dimana seorang bisa dengan bebas membunuh manusia lainnya. Bagaima jika si pembunuh ternyata memiliki motif kuat yang dalam kondisi darurat memang mengharuskan ia membunuh. Misal untuk melindungi anggota keluarganya yang hendak dibakar hidup-hidup, maka ia membunuh seorang yang hendak membakar itu. Di sinilah pentingnya kehati-hatian dalam memutuskan. Negara dan para ahli hukum agama yang berperan dalam hal ini.

6. Kematian adalah niscaya. Meski tak dijatuhi hukuman mati, setiap manusia yang bernyawa toh akan mati juga. Kematian bisa jadi gerbang baginya untuk segera merasakan nikmat jika ia sungguh telah taubatan nasuha. Namun jika ia tak bertaubat, azab yang pedih telah menantinya.

Tentu masih banyak hikmah lain yang sudah atau belum ditemukan mengenai kenapa hukuman mati menjadi bagian dari syari'at. Allah tidak akan pernah menzhalimi hambaNya. Syari'at dibuat justru untuk melestarikan kehidupan dan mengantarkan manusia ke setinggi-tingginya peradaban. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "6 Alasan Kenapa Hukuman Mati Harus Tetap Ada"