Dua Jenazah

jenazah, sumber: muslimahcorner.com
Seminggu ini dua kali aku menangis. Kabar tentang kematian selalu membuatku menangis. Dulu, waktu kakekku meninggal, aku masih kecil. Aku menangis meski aku tak tahu kenapa aku menangis. Mungkin aku sedih melihat bapak yang matanya sembab dan merah, mungkin aku menangis karena semua orang menangis. Entah, lama-lama aku terbiasa menangisi kematian. Belakangan aku tahu, bahwa kematian berarti kehilangan. Dan kehilangan seseorang yang dicintai adalah peristiwa paling menyedihkan dalam hidup.

Aku seperti turut kehilangan.

Senin malam, seorang sahabat yang kerapkali membersamaiku melingkar di majlis cahaya kehilangan laki-laki yang paling dicintainya. Stroke yang telah bertahun diderita telah melewati ambang batasnya. Beliau meninggal di RSUD Sidoarjo setelah pada serangan ketujuh jasadnya tak sanggup lagi menampung ruh.

Ketika kabar itu kuterima, aku sedang menulis. Aku bergegas menuju rumahnya yang tak terlalu jauh. Sampai di sana, aku menyesal karena shalat jenazah sudah selesai didirikan. Menyalatkan jenazah selain berpahala, membuatku mengingat satu hal: bahwa jika tiba saatnya kematian datang, orang-orang menyalatkan, telahkah kita termasuk orang-orang yang berusaha menyempurnakan shalat atau orang yang lalai dan seringkali meninggalkannya dengan sengaja?

Jenazah ayah sahabatku itu, telah siap untuk dikebumikan. Aku berjalan di belakangnya, berusaha meraih keranda, meski hanya sekali, karena orang-orang berebut ingin meraih keutamaan mengantar dan memikul jenazah. Begitulah seharusnya umat Islam, selalu berebut dalam urusan kebaikan bukan malah memperebutkan dunia yang nilainya sangat kecil dan hina.

Saat telah sampai di pemakaman, aku menemui sahabatku itu sedang tersedu sedan. Aku memeluknya, mengingatkannya untuk bersabar menghadapi musibah ini. Aku bisa merasakan kesedihannya, ia yang telah sekian lama dengan ketulusannya merawat bapaknya yang sakit. Ia telah mengorbankan apapun, segalanya. Terakhir, saat kami melingkar di rumahnya, belum ada sepekan yang lalu, ia harus bolak-balik ke kamar merawatnya bapaknya yang muntah.

Hari itu, terakhir pula aku mendengar suara beliau.

Dua hari berselang, kabar duka kembali kudapatkan. Ayah seorang teman di FLP, yang biasa memanggilku "babe", telah berpulang. Sungguh aku menyesal karena ketakpekaan saat ia menuliskan curahan hatinya di FB tentang ayah, seorang yang teramat spesial dalam hidupnya. Seorang yang sepuluh hari lalu, aku masih duduk berhadapan dengannya, berbincang tentang banyak hal. Tentu, juga tentang masa lalu yang memberikan banyak pelajaran tentang hidup.

Aku tak menyangka akan secepat itu beliau pergi. Meski pada saat aku bertamu, beliau memang sedang sakit, penyakit darah tinggi dan lambung. Tapi esok hari, saat aku jalan-jalan menghirup udara segar, beliau sudah tampak bugar, bahkan sudah beraktivitas di luar rumah. Aku mengira beliau akan dikaruniai hidup lebih lama.

Tapi kematian seringkali tak terduga. Hari itu adalah pertemua pertama sekaligus terakhir dengan beliau. Beliau dipanggil Allah dalam usia 62 tahun. Memoriku masih merekam wajah beliau dengan baik, tawanya, keramahannya, cerita-ceritanya, harapan-harapannya. Mengingatkanku pada sosok serupa di Jember, namanya Pak Mustaqim.
   
Aku hanya bisa berdoa, memohon kepada-Nya, agar ayah kedua temanku itu diberikan kelapangan dalam kuburnya, diampuni segala dosanya, dan dimasukkan dalam surga bersama orang-orang tercinta.

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Dua Jenazah "