Laki-Laki Paling Dirindu



Sebuah pesan yang sangat singkat kuterima, "Sudah. Terima kasih". Pengirimnya, adalah laki-laki pertama yang kucium punggung tangannya. Aku menyimpan nomernya di daftar kontak telpon dengan nama: Ayahanda.
***
dok. Rafif
Laki-laki itu masih menduduki singgsana pertama diantara deretan laki-laki yang paling kuhormati. Tak ada yang berubah. Hirarki cinta ini masih menempatkan namanya di tangga puncak setelah, ibu. Aku mencintainya, hingga kini. Meski telah berpuluh-puluh purnama aku tak merasakan kasih sayangnya. Namun aku percaya, ia terus melantunkan doa-doa untukku, untuk anak yang pernah dibanggakannya. Aku percaya, ia akan terus menjagaku meski mungkin hanya dengan suara lirih yang ia kirim ke langit, meski hanya dengan cinta yang tak pernah padam di dadanya.
Karena aku pun demikian. Tak ada benci dan dendam. Laki-laki yang kupanggil “Bapak” itu adalah yang mengajariku kehidupan, mengajariku merangkai hari-hari dengan semangat tinggi, dan utamanya tentang agama yang kuyakini hingga saat ini: Islam.
Sebenarnya aku ingin menangis, tapi tak tahu untuk apa dan kenapa. Laki-laki itu terasa asing, padahal ia adalah pahlawan yang telah mendidikku menjadi manusia tegar. Ada rasa rindu, tapi selalu beku. Syawal terakhir adalah kali terakhir aku memeluknya. Pelukan yang disambut senyum dan tangis. Sebuah baju koko yang kubeli dengan hasil keringatku kupersembahkan untuknya. Setidaknya, agar ia tahu bahwa cinta itu masih ada. Menghapus segala prasangka yang kemudian ia tuduhkan, bahwa aku telah melupakannya.
Matanya berkaca. Kemudian ia tersenyum. Memandangku sambil berkata, “Terima kasih, Nak.” Hanya kalimat itu. Namun yang kutangkap jauh lebih banyak dari yang ia ucapkan. Seperti ada cahaya yang mendekapku, seperti keindahan yang meliputiku saat itu. Aku seperti terbawa jauh melewati ribuan hari ke masa silam. Masa saat aku menghabiskan hari-hari bersamanya.
Sebelas tahun yang lalu, aku masih mengingatnya. Mata laki-laki itu berbinar saat namaku tercatat sebagai peraih NEM tertinggi se-kecamatan. Seperti janjinya, ia membelikan jam tangan baru untukku sebagai hadiah. Esoknya, sebuah arloji digital berwarna hijau telah melingkar di lenganku. Aku bahagia. Bukan karena arloji indah pemberiannya, tapi lebih karena sorot kebahagiaan di matanya, seperti rasa bangga tiada tara atas prestasi yang diraih oleh putra sulungnya.
Padahal aku tahu, ini bukan karena aku! Dua belas tahun ia mengajariku mengeja kata-kata, tak pernah lelah siang dan malam menuntunku menghitung angka-angka matematika yang begitu rumit, membelikanku buku-buku pelajaran, membimbingku mengerjakan soal-soal. Saat kelas 6 SD, ia sekaligus menjadi guruku di kelas. Tapi satu hal yang aku kagumi darinya, ia tak pernah pilih kasih. Ia selalu memperlakukanku seperti ia memperlakukan siswa yang lain. Ia tegas, berprinsip, menghukumku jika aku salah, pernah juga memarahiku suatu ketika. Namun tetap yang kurasakan, kasih sayangnya beda. Cara ia menyayangiku berbeda.
Jelas, ini bukan karena aku. Bukan karena kecerdasanku. Ia begitu disiplin mengatur jadwal belajarku. Tak boleh ada TV yang menyala. Aku benar-benar belajar. Sesekali ia mengajariku cara-cara cepat  menyelesaikan soal-soal sulit penumlahan pecahan, mencari kelipatan persekutuan terkecil, dan segala hal tentang ilmu aljabar.
***
Satu-satunya adegan yang membuat aku menangis ketika menonton Sang Pemimpi, adalah saat Ikal memeluk bapaknya karena nilai raportnya yang turun.
Entah, mungkin bagi yang lain adegan ini biasa-biasa saja. Masih banyak adegan lainnya yang lebih luar biasa, lebih mengharukan. Namun itulah kenyataannya. Aku  menyukai adegan ini. Aku menyukai saat Ikal harus berlari mengejar bapaknya hanya untuk meminta maaf dengan caranya; maaf karena telah membuat orang yang ia anggap paling berjasa se-dunia kecewa.
Andai aku tak memiliki Bapak, mungkin aku tak akan mampu merasakannya. merasakan seperti apa yang dirasakan Ikal. Aku menangis bukan karena seperti dalam adegan itu; karena mengecewakan Bapak -meski aku yakin pernah melakukannya- tapi lebih karena aku telah cukup lama kehilangan kasih sayangnya.
Dulu, aku mengenal bapak seperti yang digambarkan Ikal tentang bapaknya. Itu sebelum peristiwa yang membuat ibu saya menyandang status sebagai janda. Aku belajar banyak hal dari bapak, dan kebanggannya itu yang sulit kulupa. Rasa bangga yang sama seperti saat bapak Ikal menerima raport Ikal dan Arai kali pertama. Sebuah senyuman tanpa kata-kata. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia.

Laki-laki itu adalah bapakku. Seorang yang menjagaku sejak dalam kandungan, hingga aku bayi dan kemudian tumbuh besar. Ia yang mengaliriku darah dari nafkah yang halal. Namun kini, jarak antara kami seperti sangat jauh. Tak pernah lagi kutemui candanya, seperti saat ia menggelembungkan perutnya yang terbuka ketika pura-pura kutiup menjelang kami berbaring bersama di tempat tidur. Seperti waktu kecil dulu.. seperti saat aku dan dia melewati separuh malam bersama.
Dulu, ia begitu dekat. Ia pula yang mengajariku dekat dengan buku. Sepulang mengajar, ia membawakan banyak buku untuk kubaca. Aku sangat senang. Bagiku, buku adalah sahabat terbaikku. Saat pulang ke rumah nenek tiap bulannya, tak lupa ia juga selalu membelikan majalah Mentari kesayanganku.
Tak henti-hentinya. Tak bosan-bosannya ia mengajariku berpuisi saat ada acara lomba puisi tingkat sekolah. Dan aku selalu menjadi juara, meski hanya di posisi kedua. Aku menjadi sangat bahagia, bukan karena hadiahnya, tapi karena melihat sorot bangga di matanya.
Hanya itu yang kucari. Melihatnya tersenyum adalah kebahagiaan tersendiri.
Namun itu dulu. Sebelum sebuah tragedi mengubah segalanya. Sebuah badai yang menimpa biduk rumah tangga. Bapak dan Ibu bercerai. Lalu Bapak memilih menikah lagi. Waktu itu, aku masuk kuliah semester pertama. Aku seperti tak percaya. Aku masih merasa semuanya baik-baik saja. Seperti saat aku, bapak, ibu, dan adik-adik berkumpul bersama, bercanda, bercerita tentang masa depan, membicarakan masa lalu sambil sesekali bapak menyeruput kopi kesukaannya.
Saat aku pulang ke rumah, menatap kedua wajah orang yang kukasihi itu, yang kutemukan hanya sendu dan hujan airmata. Bapak, yang beberapa bulan lalu masih kulihat perkasa, terbaring di atas dipan sambil menahan sesak di dadanya. Baru kali ini kulihat ia menangis. Wajahnya yang tirus dan tubuhnya yang menjadi kurus seakan cukup bagiku untuk mengatakan, “Bapak terluka.”
Tapi Ibu, kulihat ia tak jauh berbeda. Ia seperti menyimpan sesak, dan tumpah tiba-tiba saat aku datang untuk mencium tangannya. Aku tak tahu harus berpihak pada siapa. Yang kutahu hanyalah, mereka adalah kedua orang tuaku, yang membesarkanku dengan jerih payah, memungut rupiah demi rupiah agar aku bisa berpakaian layak dan sekolah.
Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Laki-laki yang kupanggil Bapak itu sangat teguh memegang prinsip, pekerja keras, suka bercanda, namun tegas dalam segala hal. Aku ingat saat aku masih kecil dan nakal, aku selalu mendapatkan cambukan darinya. Saat aku tak mau berangkat ngaji ke TPA, ia selalu tak kehilangan akal untuk merayuku. Saat aku..Ah, ia memang bukan laki-laki sempurna, namun salahkah aku memujinya? Menjadikannya pahlawan, meski kini ia tak pernah datang saat aku membutuhkan.
Tetapi bukankah aku besar karena jiwa-jiwa pahlawan yang tertancap di dadanya, saat kami bersama dulu?
Lalu bagaimana mungkin, sebuah ikatan darah harus terpisah oleh sebuah perceraian ibu-ayah. Jasanya melebihi jasa samudra saat membiarkan kapal-kapal berlayar dengan tenang. Ia telah melakukannya lebih dari itu. Dan buku ini: buku karya Lukman yang dihadiahkan untuknya, adalah juga lahir dari jerih payahnya menanamkan nilai-nilai moral, membelikan majalah Mentari tiap bulan, membawakan buku-buku untuk kulahap habis. Muhasabah Cinta tak akan lahir tanpa dirinya.
Di halaman persembahan buku pertamaku itu kutulis: Untuk Bapak dan Ibu yang cintanya semerbak kasturi.
Bahkan mungkin lebih. Aku tak tahu bagaimana harus menggambarkannya, karena sejatinya aku pun tak mampu membalasnya.
Tak terasa aku sudah memiliki istri, sudah berumah tangga. Sudah bekerja dan mandiri, tak perlu ia kirimi uang saku lagi. Namun aku merasa ia semakin jauh, tak terjangkau. Bukan! Bukan karena ia tak hadir di upacara sakral pernikahan layaknya upacara walimah pada umumnya, tapi karena ia tak pernah lagi menyapaku.
Tiba-tiba aku rindu. Sangat merindu.
Aku rindu dengan sapaan-sapaan kecil meski lewat SMS seperti dulu, “Bagaimana kabarnya?” mesti aku yang harus memulainya terlebih dahulu, menyapanya dalam maya. Apakah benar ia melupakanku? Ah, tak mungkin rasanya.
Beberapa waktu lalu kami bertemu. Wajahnya mulai keriput, pun seperti menyimpan perasaan duka yang sulit diungkapkan. Sebagai seorang anak yang ditubuhku juga mengalir darahnya, aku bisa merasakannya. Aku tahu bapakku tak bahagia dengan kehidupannya sekarang. Meski sebentar lagi, ia akan dikarunia anak bersama istrinya yang baru.
Aku yakin. Aku percaya ia tak akan bisa melupakan dua puluh tahun menjadi seorang Bapak bagi tiga anak laki-lakinya. Mengungkapkan cinta secara sederhana, namun selalu disambut dengan luapan bahagian oleh ketiga anaknya.
Hingga kini, aku masih banyak mengingat nasihat-nasihatnya, pelajaran-pelajaran ilmu agama yang ia berikan, nilai-nilai moral yang ia tanamkan. Bagiku, ia tetaplah seorang bapak yang luar biasa. Aku sadar, tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa didikannya.
Hanya saja aku tak tahu bagaimana harus memecah kebekuan itu. Selalu, saat kami bertemu. Saat bertegur sapa dalam ruang nyata atau pun hanya melalui SMS atau telpon. Tragedi itu telah meruntuhkan semuanya. Ia menjadi sangat pendiam. Jauh lebih pendiam dari sebelumnya. Bahkan saat aku bertanya panjang lebar melalui telpon, ia hanya menjawabnya singkat-singkat saja. Dan pesan singkat yang kutulis di awal tulisan ini salah satunya, saat kutanya, "Pak, bukunya sudah nyampek?"
Aku rindu, sungguh sangat merindunya. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Laki-Laki Paling Dirindu"