Natsir, Kartosuwiryo, dan Negara Islam Indonesia

Berkali-kali PKI menghantam Masyumi. Salah satunya, menyebut Natsir, tokoh sekaligus ketua Masyumi 1949-1958, sebagai pemberontak. Tuduhan ini semakin santer berkembang sejak Natsir diduga terlibat dalam PRRI, yang kemudian menjadi salah satu sebab Masyumi dibubarkan.

Mohammad Natsir
Padahal, Natsir adalah salah satu patriot Indonesia, yang mengorbankan segalanya demi cita-cita kemerdekaan dan tegaknya NKRI. Natsir adalah pahlawan meski pemerintah terlambat menyematkan gelar itu pada namanya. Inilah kisah, salah satu kisah diantara banyak bukti, bahwa Natsir di atas semua fitnah yang dialamatkan pada beliau, selalu memperjuangkan yang terbaik untuk bangsa dan tanah air Indonesia.

Adalah Kartosuwiryo, karib Natsir semasa di PSI (Partai Syarikat Islam) dan Masyumi, sebelum akhirnya Kartosuwiryo keluar dari Masyumi dan mendirikan DI (Darul Islam) di Jawa Barat, ia dan pengikutnya terlibat konflik dengan TNI. DI adalah wujud kekecewaan sebagian rakyat Jawa Barat yang ditinggal pergi oleh 35.000 prajurit TNI, sementara mereka harus menghadapi tentara Belanda yang merongrong wilayah mereka dengan didirikannya Negara Pasundan.

Kartosuwiryo
Konflik segitiga pun tak terelakkan. DI, TNI dan Negara Pasundan bentukan belanda. Puncaknya, Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1949 mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Hal ini semakin membuat TNI berang. Konflik bersenjata tak dapat dihindarkan. Hatta, yang saat itu masih menjabat sebagai wakil presiden, memerintahkan Natsir untuk menemui Kartosuwiryo yang bermarkas di Bayongbong, sebelah barat daya Garut, untuk melakukan perundingan damai. Langkah Bung Hatta ini bukan tanpa pertimbangan, mengingat seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kedekatan Natsir dengan Kartosuwiryo. Pun dengan TNI, Natsir sangat dekat.

Tiba di Jawa Barat, tepatnya di Hotel Homann Bandung, Natsir menulis surat untuk Kartosuwiryo yang kemudian dikirim langsung oleh A Hassan ke Bayongbong. Mula-mula Kartosuwiryo curiga bahwa surat itu bukan tulisan Natsir atau Natsir menulisnya di bawah tekanan, karena melihat kertas yang bertuliskan Hotel Homann. Natsir memang menggunakan kertas Hotel karena tidak menemukan kertas lain. Tapi kemudian, A Hassan meyakinkan bahwa Natsir telah menulis surat itu dengan tangannya sendiri.

Bagaimana reaksi Kartosuwiryo menerima surat Natsir yang berisi ajakan damai DI atau NII dengan TNI? Kartosuwiryo menulis surat balasan yang isinya; ia, sebagai pemimpin tertinggi NII tak bisa menelan ludah yang telah dimuntahkannya. Surat Natsir, kata Kartosuwiryo, datang terlambat. Terlambat tiga hari. NII sudah berdiri dan itu berarti tak ada pilihan lain, pertempuran NII dan TNI tak bisa dihentikan.

Pertempuran sengit dan cukup panjang itu, akhirnya reda, setelah Kartosuwiryo, karib Natsir itu, ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman mati pada 15 Agustus 1962.

Natsir mengenang peristiwa itu dan mengatakan, andai Kartosuwiryo mau mengalihkan langkah dan tentu saja masih bisa, maka sejarah tersiram darah itu tak akan terjadi. Dan tentu, andai surat itu tak terlambat tiga hari. (@RafifAmir)

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Natsir, Kartosuwiryo, dan Negara Islam Indonesia "