Perjalanan Tiga Kota; Dari Tumpeng Hingga Semangka

Lumajang, Jember, Bondowoso. Turba perdana FLP Jatim ke tiga kota itu terpaksa diwakili tiga orang saja. Setelah pada last minute, beberapa pengurus mendadak berhalangan tidak bisa ikut. Saya, mbak Zie, dan Noer. Karena sudah diagendakan, dan juga sempat molor seminggu dari jadwal yang sedianya tanggal 8 November, mau tidak mau turba harus tetap jalan. Ohya, Turba ini singkatan dari turun ke bawah, program FLP Wilayah Jatim silaturahim ke cabang-cabang.

Lumajang, Tumpeng di Warung Kembang 

Sabtu siang, sekitar 13.30 kami berangkat ke Lumajang. Bermalam di rumah Noer, yang disambut hangat oleh kedua orangtuanya, di Klakah. Dekat dengan stasiun Klakah. Lepas maghrib, kami bergegas ke rumah Mbak Novi, calon ketua FLP Lumajang. Rumahnya di kota, butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan dari Klakah. Saya dijemput teman lama sewaktu kuliah di Unej, Ribut Hadi. Noer dan Mbak Zie boncengan mengikut dari belakang. Mereka berdua sempat kesasar (tentang hal ini, saya mendapat pesan sponsor untuk di-skip. Biarlah yang bersangkutan saja yang menceritakan).

Intinya, nyampek, gitu aja. Biar lebih singkat dan tulisan ini tetap terlihat serius. Di rumah mbak Novi Istiana yang kerap disapa Bunda Novi ini, kami telah disambut beberapa calon pengurus dan anggota FLP Lumajang. Di sana ada rumaj baca juga lho! koleksi bukunya seru!

sharing bersama FLP Lumajang
Kami ngobrol santai tentang persiapan acara esok, tentang ke-FLP-an, sharing dan motivasi, setelah sebelumnya ramah tamah dan berkenalan. Rata-rata pengurus FLP Lumajang nanti adalah pendidik. Ada juga yang menjadi penyiar dan wirausahawan. Luar biasanya, di divisi media, ada seorang penderita Cerebral Palsy, yang menjadi pimred sebuah majalah beken di Lumajang. Ia juga pernah berbagi kisahnya di beberapa stasiun TV swasta. Namanya, S Hadi Wasito.

Minggu pagi sekitar pukul 09.00 kami dijemput dengan mobil, meluncur menuju Warung Kembang atau biasa disingkat Warkem. Sebuah kafe yang didesain menarik; ada taman baca dan space untuk aktivitas komunitas. Saya sempat ngobrol dengan pemiliknya, Pak Iwan, yang ternyata juga punya minat tinggi dengan dunia literasi.

Acara langsung dibuka dengan sambutan dari saya selaku ketua FLP Jatim, dilanjutkan dengan pembacaan SK FLP Lumajang sekitar pukul 10.15 (anggaplah begitu, angka unik). Terakhir, pemotongan tumpeng dan foto bersama.

Penyerahan SK FLP Lumajang

Serah terima tumpeng dari Ketua FLP Jatim ke Ketua FLP Lumajang
Sayang, kami tidak bisa lama karena harus segera terbang ke Jember, bertemu teman-teman FLP Jember. Seperti yang saya sampaikan dalam sambutan, semoga FLP Lumajang menjadi penggerak literasi di Lumajang dan menjadikan Lumajang sebagai kota seribu penulis.

Jember, Kota Kedua dan Dua Anggota 

Saya belum sepenuhnya loading, ketika bus mendarat di terminang Tawangalun, Jember. Dua orang yang penuh semangat: Rifka dan Rizqon sudah stand by untuk menjemput. Langsung saja kami diboyong ke Rumah pembesar sekaligus mantan ketua FLP Jember, Syahrizal, begitu kadang-kadang ia disebut. Ohya, karena kami bertiga, terpaksa si Noer harus ngojek (sekaligus ini trik biar ia aman dan tidak kesasar).

Sebenarnya, Rifka ingin mengajak kami makan bakso kabut sebentar. Tapi karena waktu yang berkabut tidak mengizinkan kami berlama-lama. Setelah pinjam motor istri Syahrizal buat tunggangan Noer ke Bondowoso, kami langsung cabut. Agenda sharing bersama FLP Jember dijadikan satu dengan Bondowoso. Selain karena diburu waktu, anggota yang bisa diajak ngobrol hanya mereka berdua; Rifka dan Rizqon.

Bondowoso, Ridho dan Semangka 

Butuh waktu 30 menit lebih untuk sampai di rumah Mbak Diana di dekat terminal Bondowoso. Persis, ketika kami baru duduk, hujan mengguyur lebat. Alhamdulillah.

Sambil menunggu Ridho yang masih otw ngonthel dari ponpes Al-Ishlah, Mbak Diana telah menyiapkan hidangan yang Masya Allah bikin alarm di perut saya berbunyi. Kami makan dengan lahap.

Tak lama, Ridho pun datang. Jenggotnya mirip Ridho Roma. Baru saja ia duduk dan menarik nafas beberapa kali, kami langsung menodongnya untuk menjadi ketua FLP Bondowoso.

Setelah dibujuk dan dirayu, syukur kehadirat Allah, Ridho bersedia menerima amanah. Kami optimis, di tangan Ridho, FLP Bondowoso akan kembali bangkit dari kevakumannya yang cukup lama.

Sebagai simbolisasi, dari beberapa kue dan makanan yang terhidang di meja, kami memilih sepiring semangka untuk serah terima. Semangka dengan warnanya yang menyala dan sekaligus singkatan, Semangat Kakak!
dari kiri ke kanan: Ridho, Rizqon, Rafif, Diana, Zie, Noer, Rifka

serah terima SEMANGKA dari ketua FLP Jatim ke ketua FLP Bondowoso (Ridho)
FLP Bondowoso beres. Berikutnya, sharing dengan Rifka dan Rizqon tentang dinamika FLP Jember. Suasana yang semula penuh tawa, sekarang berubah agak serius. Masalah yang dihadapi FLP Jember memang bisa dibilang cukup serius. Pengurus yang aktif hanya tiga orang. Anggota banyak yang masuk-keluar. Berbagai permasalahan, dari komitmen yang rendah hingga lunturnya semangat dakwah. FLP Jember Insya Allah akan kembali berbenah.

Pulang

Malam, menjelang isya, kami pulang. Sungguh saya bahagia sekaligus haru, bertemu dengan pejuang-pejuang pena yang luar biasa. Mereka yang telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk suksesnya dakwah bil qalam ini. Mereka yang seakan tak pernah lelah, selalu dengan senyum dan tawa menyambut kami bertiga. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Sidoarjo, sehari pasca turba, 16 November 2015

baca juga catatan dari mbak Zie: http://www.duniazie.com/2015/11/turba-pertama-flp-jatim-dari-mengenal.html?m=1

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Perjalanan Tiga Kota; Dari Tumpeng Hingga Semangka "