Dodolitdodolitdodolibret dan Sekumpulan Cerpen yang Terlalu Biasa

Arif Bagus Prasetyo dalam epilog buku ini menyebut Dodolitdodolitdodolibret sebagai cerpen sederhana yang kompleks. Setidaknya Arif menangkapnya dari muatan pesan yang padat berjejalan, terutama tentang hakikat kebenara. Guru Kiplik, yang merasa doanya adalah yang paling benar sehingga tiada lagi yang paling benar merasa perlu mengajari penduduk di sebuah pulau tentang cara berdoa yang paling benar itu. Orang-orang mengatakan bahwa jikalau berdoa dengan benar pasti bisa berjalan di atas air, tapi Guru Kiplik tak mempercayainya. Sampai kemudian ia melihat dengan mata kepala, penduduk pulau itu berjalan cepat di atas air sambil berteriak padanya, "Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa bagaimana cara berdoa yang benar!"

Arif mengupas cerpen ini panjang lebar, bahkan mungkin lebih lebar dari amanat yang sebenarnya ingin dititipkan Seno. Saya, sebagai pembaca awam dan mungkin pembaca awam lainnya, ketika membaca cerpen yang didaulat sebagai cerpen terbaik Kompas 2010 ini tak bisa menjangkau sejauh itu. Lalu bagaimana sebuah pesan dari karya sastra akan sampai jika pesan itu tersembunyi begitu dalam dan hanya bisa dibuka-ditelanjangi oleh kritikus semacam Arif?

Setelah membaca keseluruhan buku ini, saya tidak sependapat bahwa Dododlitdodolitdodolibret adalah yang terbaik. Cerpen Budi Darma, Pohon Jejawi, menurut saya, berpeluang menjadi yang terbaik, meski saya akui Budi Darma gagal fokus pada tema di bagian-bagian akhir cerita. Sedangkan Arif, lebih menganggap cerpen ini memudarkan demarkasi antara fakta dan fiksi, yang pada akhirnya, menurutnya, membuat cerpen kehilangan aura dan pesonanya. Saya tidak setuju dengan yang terakhir. Betapapun fakta sejarah akan menemukan bentuknya sendiri-sendiri ketika disajikan dalam bentuk teks ilmu pengetahuan maupun cerita rekaan. Keduanya memiliki tujuan penciptaan yang berbeda, dikemas dengan narasi yang berbeda, dan sampai kepada pembaca dengan "rasa" yang berbeda pula.

Cerpen lain yang berpeluang menjadi cerpen terbaik, Ordil Jadi Gancan karya Gde Aryantha Soethama. Cerita langsung menanjak ketika Ordil berniat hendak membalaskan dendamnya dengan mengacaukan upacara ngaben terbesar dan termegah. Dendam terhadap ayahnya yang telah mati. Ayah yang menelantarkannya bahkan saat ia masih di dalam perut ibunya. Hanya karena, ibunya seorang babu. Setelah sukses menghancurkan bangunan ngaben, ia diburu oleh orang-orang sampai ke hutan. Tapi, inilah yang menjadikan cerpen ini gagal memoles kecantikannya menjadi sempurna: ending yang sangat biasa, seperti film-film Indonesia masa lampau. Ordil akan pergi ke kampung seberang dan mengubah namanya menjadi Gancan agar ia tak ketahuan.

Sementara itu, Ikan Terbang Kufah-nya Triyanto Triwikromo sudah berulangkali saya baca. Seru tapi kurang seru. Lagi-lagi pada ending yang-- bukan gagal, tapi di bawah kualitas cerita sebelumnya. Ending yang tak diharapkan, secara kualitas, bukan secara materi.

Cerpen Pengunyah Sirih, ending-nya sangat mudah ditebak, padahal sebelumnya, cerita sukses dibuka dengan ketegangan yang "wah". Mulut Sukro senantiasa memerah. Bibir, gigi, dan lidah lelaki setengah baya itu mengundang perhatian orang lantaran memerah. Tapi gagal ditutup dengan sempurna, lantaran saya sudah dapat menebak bahwa Pak Lurah terlibat dalam persekongkolan untuk memfitnah Sukro. Lagipula, judul cerpen kurang sesuai dengan isi cerita.

Agus Noor, seperti biasa dengan cerpen surealisnya. Kali ini Ada yang Menangis Sepanjang Hari, berkisah tentang tangisan yang tak henti-henti di sebuah desa. Tak ada yang tahu itu tangisan siapa. Tak ada yang tahu tangisan itu karena apa. Tangis yang terus mengalir hingga galaksi-galaksi paling jauh.

Kue Gemblong Mak Saniah juga terlalu biasa. Tak ada kelebihan dalam cerpen ini. Hanya tentang seorang pelanggan setia kue gemblong yang tiba-tiba mendapat surat sepeninggal Mak Saniah, penjual kue itu. Surat yang berisi resep cara membuat kue gemblong Mak Saniah. Tak lain, warisan satu-satunya.

Sirajatunda karya Nukila Amal. Mungkin cerpen ini satu-satunya yang menginspirasi saya melahirkan sebuah cerpen. Tentu tidak dengan tema dan alur yang sama. Bahkan sama sekali berbeda. Saya hanya tergelitik dengan tokoh "Aku" dalam cerpen ini yang tak kunjung menyelesaikan mahakarya-nya. Delapan tahun ia melakukan riset dan ketika hendak menulis, ia tak menemukan kalimat pertama yang terbaik. Setelah bersusah payah, akhirnya ia menemukan kalimat dengan nada sempurna: Panggil aku Samaratungga. Tapi lalu, ia hapus lagi, karena ia merasa tidak orisinil. Itu seperti kalimat pembuka yang digunakan Ishmael, Moby Dick, Herman Menville.

Cerpen-cerpen yang lain, saya tidak ingin membahasnya. Secara keseluruhan, menurut saya, beberapa dari cerpen dalam buku ini sangat biasa. Entah kenapa bisa masuk dalam cerpen pilihan, entah kenapa pula bisa masuk cerpen minggu Kompas. Mungkin karena pengarangnya yang sudah nge-top? mungkin karena tak ada yang lebih bagus dari ini? atau selera redaktur yang rendah karena lebih meneliti pesan tersembunyi seperti Arif, struktur, atau teori-teori kesusastraan lainnya daripada merasakan dan menikmati pelan-pelan bagaimana sebuah cerpen bak menyantap sebuah makanan lezat. (@RafifAmir)



Book Review #56. Review Dodolitdodolitdodolibret. Kompas, C1, 2011. 210 halaman. Karya Seno Gumira Ajidarma dkk


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

2 Responses to "Dodolitdodolitdodolibret dan Sekumpulan Cerpen yang Terlalu Biasa"

Doel mengatakan...

Di Kompas mungkin berlaku, “Awas! Minggir! Presiden mau lewat!”
dimana jalan raya adalah cerpen kompas, paspamres merupakan editor, dan presiden yaitu Seno Gumira Ajidarma.
Bahkan ketika diketahui konsep ceritanya mirip sekali dengan The Three Hermits karya Leo Tolstoy, tak ada geming dari Kompas. Ya, maklum.

Rafif Amir mengatakan...

hehe. Tiga Pertapa. saya sempat mengikuti kehebohannya.