Hamparan "Surga" Taman Bunga Nusantara

Begitu menginjakkan kaki di Bogor, adik saya langsung mengajak berwisata ke Taman Bunga Nusantara. Untuk sampai ke sana, harus melewati jalan menanjak dan agak berliku. Saat itu hujan turun sangat deras. Pandangan depan-bawah-atas-samping tertutup kabut. Jika menoleh ke kiri jalan dari mobil yang kami tumpangi akan tampak seperti gugusan awan atau menurut saya lebih menyerupai lautan.

Taman Bunga Nusantara yang menjadi tujuan kami sepertinya masih jauh. Apa mungkin karena saya yang sama sekali belum pernah ke kawasan puncak ya, ditambah lagi macet beberapa kali. Saya tak bisa membayangkan seperti apa macetnya kalau lagi liburan seperti yang sering diberitakan di tivi-tivi. Untuk menghindari kebosanan karena macet dan lamanya perjalanan itu, saya melihat-lihat pemandangan yang Masya Allah, sangat menakjubkan. Ada gunung yang menjulang dan sawah yang membentang. Di pinggir-pinggir jalan juga banyak makanan dan oleh-oleh khas yang menggiurkan. Hehe.

Ketika sudah dekat dengan lokasi Taman Bunga Nusantara (itu saya ketahui lewat penunjuk jalan), saya lihat banyak bunga-bunga indah di sepanjang jalan. Sepertinya dijual, untuk oleh-oleh para wisatawan, mengingat di taman bunga nanti pengunjung tak boleh memetik bunga sembarangan.

Singkat cerita, setelah mendaki gunung lewati lembah, akhirnya kami tiba di Taman Bunga Nusantara. Pemandangan mencolok yang terlihat mata pertama kali di lokasi parkir adalah, patung angsa raksasa dan air terjun super mini. Wah, belum masuk taman bunga saja pemandangannya sudah sedemikian indah begini. Hahaha lebay.

Tiket masuk per kepala 30 ribu rupiah. Pertama kali melewati pintu taman tepat pukul 15.07 wib, mata saya yang agak sayup-sayup langsung disuguhi dengan hamparan bunga yang warna-warni. Seketika wajah saya langsung cerah. Gairah hidup pun bangkit kembali. Apalagi ditemani gerimis tipis yang asyik sekali dan kecipak air terjun kecil yang mengalir membentuk genangan bening. Saya langsung ambil bagian dalam operasi selfie dan narsis.

Ada berbagai jenis bunga, dari dalam dan luar negeri. Saya tak hafal namanya satu persatu. Biarlah foto saja yang berbicara. Ada juga bunga-bunga yang dibentuk menyerupai berbagai macam hewan; burung merak, dinosaurus, dan yang lainnya. Saya juga menikmati terowongan yang atapnya tersusun dari bunga-bunga yang cantik dan berfoto ria di sana.



Ada taman Perancis yang sangat memesona. Rancangannya sangat apik dan tertata indah sekali. Di situ, kata adik saya, ada air mancur yang diiringi musik dan air mancur itu bergerak mengikuti nada musik. Sayang, saat itu saya tak bisa menikmatinya, air mancurnya tak keluar mungkin karena musiknya mati. Musiknya mati mungkin karena pita kasetnya rusak. Huaaahehe.

Di dekat toilet (maap, terpaksa saya sebutkan di sini) saya menemukan tumbuhan yang unik dan langka, yaitu, pohon siwalan yang berdaun daunnya pisang. Entah, mungkin saya yang katrok, norak, tak lulus pelajaran biologi, tapi bagi saya yang baru tahu dan baru melihat sendiri di depan mata, itu adalah pemandangan yang super "wow!".

Baiklah, abaikan saja toiletnya, eh pohonnya. Berikutnya ke Taman Amerika yang dipenuhi bunga-bunga merah terang. Sederhana tapi tak mengurangi keelokannya. Ada gazebo juga di sana, cocok sekali kalau mau berlama-lama menulis sambil menikmati pemandangan. Kalau tidak, mungkin sekadar tempat berteduh di kala hujan. Kalau tidak, ya buat tempat ngapain aja. Ah, gitu aja kok repot.

Keluar dari taman Amerika, kami sampai di arena yang saya tunggu-tunggu. Taman labirin! Yeee!! kami akan bermain petak umpet, eh bermain... bermain apa ya? bermain labirin. Ibu dan istri yang turut serta dalam petualangan ini hanya akan duduk manis di menara pengawas, menonton saya dan adik-adik yang akan berlomba masuk ke dalam labirin, mencapai tujuan, dan keluar lagi dengan cepat, dengan selamat, dan dengan tubuh yang masih utuh. Hiii, kok jadi serem? Ya, saya kebanyakan melihat labirin di film misteri sih.

Ternyata tak seperti yang dibayangkan. Saya bisa masuk dan keluar dari labirin dengan sangat mudah. Meski kadang-kadang tersesat juga. Mungkin karena hujan yang mengaburkan pandangan dan jalan yang mulai becek. Apapun itu, yang penting saya sudah berhasil keluar dengan selamat.

Berikutnya ke arena bermain. Ini khusus anak-anak, yang dewasa hanya mendampingi. Atau, mungkin juga boleh ya untuk dewasa? Pertama di Stasioen Tempo Doeloe. Anak saya naik kereta bersama omnya, kereta kecil dengan rel kecil yang mengitari taman. Setelah itu, naik Gocar. Kali ini saya yang mendampingi. Asyik juga naik-turun jalan menanjak. Anak saya senang, saya juga senang. Kapan lagi bisa naik mobil-mobilan. Hihi, sering ding.

Terakhir, kami menuju Jepang. Eh, taman Jepang. Keren juga, bisa keliling dunia hanya dalam 2 jam. Mulai dari Eropa, Amerika, sampai ke Asia. Tapi, kok buru-buru? bukan buru-buru tapi kami diuberu-uberu. Karena waktu sudah pukul 17.00 wib lewat, artinya Taman Bunga Nusantara sudah mau tutup. Anak saya yang mau main balon air saja sudah gak bisa, sudah tutup kata petugasnya.



Ya, sudah, ke Taman Jepang aja. Setelah itu langsung pulang. Di taman Jepang yang indah, dengan jembatan kecil dan kolam ikan, juga pohon bambu kecil dan bunga-bunga yang menawan, saya menikmatinya dalam-dalam. Tapi sayang, bunga sakura yang saya cari tidak ada di sana. Ohya, bunga sakura kan tidak bisa tumbuh di Indonesia?

Meski tak lama, saya cukup puas mengitari Taman Bunga Nusantara ini. Melihat hamparan bunga yang indah sangat menetramkan hati, apalagi udara yang sejuk dan bersih, hening, dan kesegaran yang merayapi seluruh tubuh. Seakan inilah potret surga yang terpercik ke bumi. (@RafifAmir)


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Hamparan "Surga" Taman Bunga Nusantara "