Jangan Malu Mempublikasikan Karyamu!

Saya masih ingat betul, saat duduk di bangku SMP adalah masa-masa produktif saya menulis puisi. Saya menulis puisi di buku tulis biasa. Dalam sehari saya bisa menulis 3-4 puisi. Lama-lama puisi saya semakin banyak.

sumber gambar: lecturelist.org
Tapi saya merasa ada yang kurang hanya dengan menulis dan menyimpan kumpulan puisi itu. Saya ingin orang lain juga membacanya. Maka saya berikan buku "kumpulan puisi" saya itu kepada teman-teman satu kelas untuk dibaca secara bergilir. Saya minta mereka untuk memilih puisi mana yang menurut mereka paling bagus dan mengomentarinya. Dengan cara itu, selain memotivasi saya untuk menulis puisi lebih banyak lagi, juga membuat saya tahu bahwa karya yang banyak disukai orang itu begini dan lahir dari proses kreatif yang begitu. Saya tertantang untuk menulis puisi yang lebih bagus lagi. Dan usaha saya ternyata tidak sia-sia. SMA, puisi saya untuk pertama kalinya dimuat di majalah Islam terbesar di Indonesia, majalah Sabili.

Mungkin karena itu, saya jadi agak gregetan jika ada teman yang punya karya yang bagus-- setidaknya menurut saya, tapi enggan mempublikasikan karyanya. Ini saya alami sendiri. Alih-alih mengirim karyanya ke media massa, dibaca teman-temannya sendiri pun ia tak sudi. Bahkan saya yang agak "memaksa" untuk membacanya, ia minta untuk menghapus file karyanya itu begitu selesai membaca. Gregetan saya bertambah jika mengingat ia adalah anggota sebuah organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia, Forum Lingkar Pena (FLP) yang salah satu cikal bakal lahirnya adalah karena banyaknya teman Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia yang hanya memendam tulisan mereka di laci-laci meja.

Sejelek apapun karyamu menurutmu, publikasikan saja. Belum tentu yang jelek menurutmu juga jelek menurut orang lain. Toh, kalaupun orang lain juga menganggap karyamu jelek, itu masih jauh lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Jika masih belum bisa, jika rasa malu masih mengalahkan segalanya. Baiklah, begini saja. Simpan rapat tulisanmu itu sampai kapanpun atau bakar saja agar tak ada lagi kemungkinan orang lain membacanya.

Minimal mempublikasikannya di blog atau di media sosial. Saya yakin, rasa malu atau takut itu hanya muncul di awal saja. Berikutnya, kau akan merasakan manfaatnya. Betapa menyenangkan berbagi dengan tulisan. Atau kalau ingin lebih menantang, bisa mencoba cara yang dilakukan Stephen King. Ia menonton film The Pit and Pendulum dan menulisnya menjadi sebuah novel. Ia cetak sendiri karyanya itu dengan biaya sendiri. Cetak stensil sekitar 40 eksemplar. Lalu ia menjualnya sendiri di sekolah. Dan ia berhasil menjual hampir semuanya. Aku merasa sedang bermimpi, katanya, tidak percaya bahwa aku tiba-tiba menjadi kaya! King tetap tebal muka, meski setelah itu ia mendapat teguran dari kepala sekolah yang mengatakan bahwa sekolah bukanlah tempat berjualan, lalu menyebut novel The Pit and Pendulum-nya itu sebagai sampah.

Jika kau punya motivasi yang besar, maka rintangan macam apapun akan diterjang demi mempublikasikan karyamu itu. Apalagi hanya sekadar malu! motivasi itu bisa bermacam-macam, mulai dari uang seperti yang dilakukan Stephen King atau karena ingin menginspirasi sebanyak mungkin orang, ingin terkenal, juga bisa jadi hanya karena ingin mendapatkan pengakuan.

Jika mereka yang membuat tulisan jorok dan cabul saja semacam De Sade dalam film Quills, begitu gigih mempublikasikan karyanya meski sedang berada dalam penjara, mengapa kamu yang menulis hal-hal yang baik, memotivasi, dan menginpirasi enggan untuk berbagi? (@RafifAmir)

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Jangan Malu Mempublikasikan Karyamu!"