Jingga dan Obsesi Besar yang Mengantarnya Pada Kehancuran

25 Milyar. Itulah obsesi Jingga. 25 Milyar dari sebuah undian spektakuler untuk mewujudkan mimpi besarnya: sebuah rumah di tepi danau yang penuh ikan dan angsa berlarian dengan halaman berumput hijau.

Hingga pada pertemuannya dengan seorang lelaki di pintu taksi, mimpi itu terus berlarian di alam imajinasinya. Laki-laki itu, yang begitu ramah dan baik, telah mencuri secuil hatinya untuk kali pertama. Dan untuk seterusnya.

Ya, diam-diam Bentang pun menaruh hati. Itu jelas terbaca, pada satu momen yang menggetarkan, di depan pintu lift. Hanya saja ia tak tahu bahwa ia terjebak pada skenario yang dibuat Jingga dan Igor. Jingga dengan obsesinya, Igor pun demikian pula.

Siapa bisa menolak cinta lelaki kaya-raya, yang memiliki perusahaan dimana-mana, yang bahkan memiliki sebuah pulau? maka saat Bentang begitu menggebu mengucapkan cinta setelah melihat Jingga berduaan dengan Igor, Jingga tak dapat menampiknya, meski hampir saja sebenarnya ia bertindak bodoh.

Inilah yang ingin saya kemukakan. Alur dari novelet ini. Saat Bentang menarik tangan Jingga sampai di muka lift, Bentang ingin mengajaknya ke suatu tempat lalu ditampik oleh Jingga dengan cukup kasar. Bentang pergi meninggalkan Jingga. Beberapa detik berpikir, Jingga mengejar Bentang, menghentikan mobil Bentang yang baru melaju dari parkiran. Terlalu sinetron sentris menurut saya. Bagaimana jika dibiarkan saja Bentang pergi atau Jingga mengejar tapi tak terkejar. Memang, alur cerita akan lebih panjang untuk menuju pada ending yang sama, tapi terkesan lebih natural.

Back to story. Bentang dan Jingga jadian. Bentang memberikan semua hal kepada Jingga sebagaimana yang diinginkan oleh banyak wanita: rumah, mobil, perhiasan, dan kemewahan lainnya. Tapi tidak dengan satu hal, pernikahan. Bentang tak menginginkan pernikahan bahkan ia mengancam Jingga agar tak berkoar-koar hamil untuk mendapatkan pernikahan.

Tapi nyatanya, Jingga benar-benar hamil. Inilah kemudian yang menyebabkan Jingga memilih meninggalkan Bentang. Ia berjanji akan mengembalikan semua yang diberikan Bentang. Ia sangat menginginkan pernikahan yang "terlalu mewah" itu. Dan Igor datang, menawarkan diri untuk menikahi Jingga. Tapi Jingga tak mencintainya, apalagi setelah tahu bahwa Igor menyiapkan skenario hubungan Bentang dengan dirinya justru untuk mendapatkan Jingga.

Jingga pergi, meninggalkan Bentang. Igor geram karena obsesinya tak tercapai. Ia menjebak Jingga dengan memasukkan narkoba di kopernya. Saat petugas bandara menemukannya, Jingga ditangkap. Itulah awal mula keguncangan besar yang dialami Jingga. janinnya keguguran, ia mengalami delusi, ia tak bisa mengingat apapun, tak bisa mengenal siapapun.

Sebuah ending yang menyedihkan. Di bagian akhir buku ini disebutkan, Novelet Jingga yang pernah dimuat di tabloid Nyata ini banyak disukai pembaca dan banyak yang meminta untuk melanjutkannya menjadi sebuah novel dengan ending yang bahagia.

Apapun, saya lebih suka ending yang seperti ini. Meski mungkin terasa terlalu "kejam" menjadikan Jingga sebagai korban. Tapi begitulah memang yang dihidangkan oleh fiksi. Tokoh utama harus melewati pengalaman hidup yang dahsyat agar dapat menguras emosi pembaca. Meski ketika saya berdiskusi dengan istri, ia mengatakan bahwa pernah menonton film yang alurnya persis sama dengan novelet ini.

Terlalu Barat-sentris memang, meski tak menutup kemungkinan juga terjadi di Indonesia. Lihatlah sosok Bentang dengan gaya hidupnya, Jingga dengan obsesi dan impiannya. Lebih banyak mewakili budaya hidup orang Barat.

Terlepas dari itu semua, Novelet ini bisa memberikan sajian yang pas dan menarik perhatian, setidaknya bagi saya. Apalagi jika dibandingkan dengan dua novelet lainnya: Mimpi Bayang dan The Desert Dreams yang juga ada dalam buku ini. Jujur, ketika membaca dua novelet itu saya tidak ngeh. Saya mengkhatamkannya, tapi saya tidak mendapatkan apa-apa, saya tak mengikuti apalagi menikmati alurnya.

Itulah mengapa saya tidak menceritakan dua novelet itu dalam review ini. Jingga, bagi saya, satu-satunya yang berkilau.

Book Review #58. Review Mimpi Bayang Jingga. Bentang, C2, 2013. 192 halaman. Karya Sanie B Kuncoro. Selesai baca pada 17 Desember 2015
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Jingga dan Obsesi Besar yang Mengantarnya Pada Kehancuran"