Tag


Menegangkan, sekaligus membingungkan. Saya yakin hampir semua penonton film ini akan mengatakan demikian. Benar saja, ketika saya coba search di google dengan kata kunci "Review film" atau "sinopsis film Tag", saya tak menemukan satu pun yang mengulas jalan ceritanya dengan cukup memuaskan. Maksud saya, review yang membahas film tentang sesungguhnya Tag itu. Reviewer yang menulis agak panjang pun hanya menceritakan karakter tiga tokoh utama dalam film ini. 


Tidak puas, saya menjelajah reviewer luar negeri. Rob, salah seorang kritikus film berkata bahwa bisa saja film ini menimbulkan kebingungan dan kemarahan penonton. Namun memang, film ini tidak untuk dipahami secara harfiah. Singkatnya, menurut saya, film Tag ini memang tidak untuk dipahami jalan ceritanya, tetapi lebih bagaimana ide dan pesan sang sutradara sampai pada pemirsa.

Sion Sono, sutradara film Tag ini dikenal kontroversial karena sering melecehkan isu pemuliaan perempuan. Tapi dalam film ini, saya justru menangkap hal yang sebaliknya. Supaya jelas, saya akan sedikit membocorkan spoilernya.

Film dibuka dengan perjalanan wisata anak-anak SMA dengan dua bus. Di bus belakang, duduklah tokoh utama, Mitsuko yang diperankan Riena Triendl. Ia asyik menulis puisi saat teman-temannya yang lain sedang bercanda dan sebagian konsentrasi melihat ke depan. Lalu teman-temannya mengganggunya, sehingga pulpennya terjatuh. Dan saat itulah sebuah peristiwa besar tengah terjadi. Bus dan semua penumpang terbelah menjadi dua, kecuali Mitsuko karna saat itu ia sedang jongkok di lantai bus mengambil pulpennya.

Lalu ia dikejar angin yang membelah teman-temannya menjadi dua bagian. Ia berlari, dan singkat cerita sampai di sekolah. Ia merasa sangat ketakutan tapi seseorang yang mengaku sahabatnya, Aki (Yuki Sakurai) menghiburnya. Tak berapa lama, suasana bahagia di sekolah menjadi mencekam saat guru-guru tiba-tiba menjadi pembunuh dengan menembaki semua muridnya. Mitsuko lari, dan lagi-lagi selamat. Ia sampai di sebuah pos polisi, bertemu polisi perempuan yang mengenalnya sebagai Keiko. Ia melihat cermin dan wajahnya berubah. Suasana kembali bahagia, sebelum kejadian mencekam terulang. Lagi-lagi ia berhasil lolos, dan menjadi Izumi.

Begitulah. Saya tidak akan menceritakannya panjang lebar. Sepertinya, Tag memang tidak untuk dinikmati alurnya. Ia, mungkin, semacam cerita surealis yang hanya akan mengarahkan penonton pada sebuah pemaknaan yang dalam terhadap kejadian-kejadian yang dialami tokoh utama. Dan dengan subjektivitas yang tinggi, saya mencoba untuk menggali pesan dari film ini.

Pertama, Jika sang sutradara, Sion Sono dinilai "benci" perempuan, saya justru menilai bahwa film ini sarat dengan dukungan terhadap isu-isu yang sering digulirkan aktivis kesetaraan gender. Mulai dari awal, tidak ada satu pun tokoh utama maupun figuran yang berjenis kelamin laki-laki. Hanya ketika menjelang ending, baru tokoh laki-laki itu muncul. Disebutkan pula Keiko yang hendak menikah dengan perempuan yang ternyata berkepala babi.

Kedua, di bagian akhir, kakek tua yang bermain game mengatakan bahwa Mitsuko telah meninggal 10 tahun lalu, di tahun 2034. Dan di masa depan, si kakek menjadikannya tokoh dalam permainan game. Ia meminta Mitsuko menyerah pada takdirnya. Tapi rupanya, Mitsuko tak seperti ketika SMA dulu. Ia berontak, sebelum membunuh dirinya sendiri. Mungkin ini ingin menunjukkan bahwa selama ini kaum perempuan selalu menjadi objek kesenangan laki-laki, termasuk juga menjadi objek komersil.

Ketiga, sesuatu yang disampaikan oleh teman Mitsuko yang selalu terngiang-ngiang untuk berani mengubah takdir. Dan bunuh diri Mitsuko itu menyiratkan bahwa seseorang bisa mengubah takdir dan menyelamatkan banyak orang dengan mengambil keputusan besar untuk mengorbankan dirinya sendiri. Mitsuko, keiko, dan Izumi bunuh diri untuk mengubah takdir peristiwa besar yang menewaskan banyak orang karena seseorang yang memburunya.

Keempat, peralihan yang cepat dari kebahagiaan ke kesedihan dan ketakutan, seakan membeberkan demikianlah hidup yang dijalani manusia. Terkadang semua orang harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, dan ketika itu tiba menjadi kuat dan tegar adalah keharusan. Latar musik dalam film ini juga sangat mendukung. Suatu saat lembut dan indah, tapi dengan tiba-tiba berubah menyayat.

Kelima, Perubahan besar yang terjadi dalam diri Mitsuko, sahabat-sahabatnya berperan besar. Saat SMA ia masih sangat lugu, kemudian saat menikah mulai berani memberontak, dan kelak setelah ia berani mengabulkan permintaan Aki untuk membelah tubuhnya menjadi dua bagian, ia sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Perubahan menuju ke kedewasaan.

Bagi yang tidak tahan untuk melihat hal-hal yang sadis seperti tubuh terbelah, kepala hancur, darah yang muncrat, sebaiknya tidak menonton film yang kabarkan sudah rilis sejak Juli 2015 ini. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Tag"