Pak Sari, Marbot Mushalla yang Merasa Terlahir Kembali

Seperti kata Kuntowijoyo dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, adakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin? Lelaki itu memanggul hidup yang keras, terjebak dalam lorong sempit, sebelum akhirnya memilih sebuah jalan yang lapang, jalan yang mengantarkan pada ketenangan jiwa, kedamaian, mereguk nikmatnya ibadah, karunia dan rezeki yang diberikan Allah.

Begitulah Pak Sari, lelaki 39 tahun ini menjalani itu semua. Meski hanya mampu menamatkan bangku SMP karena orangtuanya yang sakit-sakitan, ayah 3 anak ini kaya akan pengalaman hidup yang menginspirasi semua orang. Kami akan membagi kisahnya pada Anda untuk dijadikan renungan dan pelajaran berharga tentang kesabaran, syukur, dan qana’ah.

“Saya seperti dilahirkan kembali,” tuturnya. 14 tahun ia hidup dalam rutinitas yang menjemukan; 2 tahun berjualan bubur kacang ijo, 5 tahun kembali ke kampung kelahirannya di Lamongan bekerja sebagai penjual eskrim, 7 tahun berjualan tahu tek di Surabaya. Rutinitas yang seringkali membuatnya lalai dari mengingat Allah. Dengan alasan kesibukan, tak jarang ia meninggalkan shalat lima waktu. Lingkaran pergaulannya pun dipenuhi dengan orang-orang yang semakin membuatnya jauh dari Allah. Ia hidup di tengah-tengah preman kampung dan jalanan yang mungkin hanya mengingat Allah ketika tertimpa musibah.

Lalu kesempatan itu pun datang. Laki-laki yang harus bekerja keras semenjak usia 17 tahun ini, membuat sebuah keputusan besar dalam hidupnya; ia meninggalkan semua pekerjaannya. Meski ia mengaku pekerjaan itu telah memberikannya penghasilan bulanan yang cukup menggiurkan, tapi ia sadar bahwa keberkahan jauh lebih baik daripada harta yang berlimpah. “Duit yang saya dapatkan mengalir, seperti air,” ujarnya mengenang masa-masa itu,”Hari ini dapat uang , besok sudah habis semua.”

Dari bekerja sebagai marbot mushalla yang mulai dilakoninya sejak 2010 silam itu, ia mendapatkan lima ratus ribu rupiah. Tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan yang ia dapatkan dari berjualan keliling. Tapi sekali lagi, adakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin? Jika dengan itu kemudian ia mengaku menjadi rajin beribadah, rezekinya pun barakah. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, ia masih dapat menyisakan sebagian uangnya untuk sedekah. Alhamdulillah… Allah membukan pintu rezeki lain. Lelaki anak pertama dari 4 bersaudara buah cinta Pak Awi dan Ibu Rani ini, sering mendapat pesanan kue dan makanan dari jama’ah mushalla. Dengan keterampilan yang dimilikinya, tentu ia menyambutnya dengan senang hati.

Pak Sari dan istrinya, Suwarti, merasa sangat bersyukur kepada Allah yang telah membukakan jalan terbaik bagi mereka. Dengan kehidupannya yang sekarang, mereka juga memiliki cukup waktu untuk mendidik ketiga anaknya yang semakin tumbuh menjadi generasi  penghafal Al-Qur’an. Salah satunya, Lailatul Haniah. Putri sulungnya ini bahkan mendapatkan beasiswa dhuafa dari Dompet Qur’an.

Di akhir pertemuan, dengan mata berkaca-kaca, Pak Sari mengucapkan terima kasih kepada para donator Dompet Qur’an dan mendoakan semoga semua donatur diberikan kelapangan rezeki oleh Allah dan dimudahkan segala urusannya serta senantiasa diberi keberkahan dalam hidup. (Rafif Amir)


dimuat di Majalah SQ Edisi Januari 2016
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Pak Sari, Marbot Mushalla yang Merasa Terlahir Kembali"