Pesona Pantai Gili Labak yang Tak Ada Duanya

Sejujurnya, nama Gili Labak sebagai tempat wisata baru saya dengar ketika beberapa teman membicarakannya. Beberapa foto yang mereka posting memperlihatkan pesona pantainya yang begitu indah; pasir putih dan air laut yang bening. Lalu saya coba telusuri lebih jauh tentang Gili Labak ini di Google dan amazing! saya menemukan puluhan gambar yang benar-benar menakjubkan, memukau, dan membuat saya terperangah. Maka pada detik yang sama saya jatuh cinta padanya. Lebih tepatnya, ingin sekali berkunjung ke sana. Hehe.

Akhir Desember 2015, belum berselang dua minggu sejak saya mupeng itu, saya dan teman-teman FLP mengadakan pertemuan di Pantai Toraja. Entah mengapa tiba-tiba ada yang terbersit ide berlayar ke Gili Labak yang jarak perjalanan dengan perahu dari Pantai Toraja kurang lebih 2 jam.

Teman-teman FLP Sumenep yang menjadi tuan rumah, tampak juga tidak keberatan. Maka disusunlah rencana untuk berangkat ke sana. "Air sedang surut," kata seseorang yang menyewakan perahu, "Kalau jadi kita berangkat agak siang. Mungkin jam 11." Kami hanya manggut-manggut saja. Mengenai biaya sewa kapal PP kami dapat harga 600 ribu. Harga ini sudah harga pertemanan. Jika berangkat dari Kalianget, biasanya biaya sewa 750-800 ribu. Satu perahu bisa muat sampai 20 orang. Tapi saat itu, kami hanya bersembilan.

Siang, saat air laut mulai pasang, kami berangkat. Pelayaran dimulai. Sepanjang jalan kami menikmati pemandangan yang masya Allah sangat menakjubkan. Sesekali berbincang meski harus dengan setengah teriak karena kalah sama suara mesin perahu yang bising. Kami juga menyantap bekal makan siang di atas perahu yang dinahkodai oleh seorang bapak berseragam itu dengan sangat lahap. Selain karena kelaparan, mungkin juga karena perasaan senang. Konon, rasa senang bisa menambah selera makan.
Nahkoda perahu, by Rafif

Pulau Talango by Rafif
Saya melihat kupu-kupu beterbangan di atas perahu, saya juga melihat penangkaran ikan yang sempat saya abadikan, dan sebuah pulau. Pulau Talango. Konon di pulau ini terdapat makam salah satu keturunan pewaris kerajaan Majapahit. Dari atas perahu, juga terlihat Gili Yang, meski tampak kecil, sebuah pulau yang berdasarkan penelitian, kandungan oksigennya adalah yang terbaik kedua di dunia. Penduduk pulau ini sudah berusia lebih dari seratus tahun.

Setelah melewati Pulau Talango, ombak terasa semakin besar, mengguncang-guncang perahu yang kami tumpangi. Olle-ollang paraona alajare, saya jadi ingat lagu itu. Juga lagu abantal ombak asapok angin yang mengingatkan tentang perjuangan nelayan mencari nafkah di tengah lautan. Mereka harus bertarung dengan ganasnya ombak dan gelombang. Mungkin ombak yang kami rasakan menggoyang-goyang perahu sehingga layar perahu harus diturunkan ini belum ada apa-apanya. Belum seberapa jika dibandingkan kegigihan nelayan mengadu hidup di lautan.

Beberapa orang dari kami sepertinya ada tanda-tanda mabuk laut. Pusing, mual, dan akhirnya merebahkan badan. Tapi sebagian besar masih kuat dan malah masih asyik tak henti-henti berselfi ria.

Gerimis jatuh lagi. Dan perahu yang kami tumpangi masih terus melaju. Gili Labak sudah kelihatan. Ombak besar yang mengombang-ambingkan perahu mulai agak tenang. Semakin dekat. Laut yang dalam dan tampak hitam dari kejauhan berganti hijau bening. Kami sampai di Pantai Gili Labak.

surga yang tersembunyi by Rafif
Apa yang dilakukan pertama kali ketika menginjakkan kaki di pantai impian ini? selain bersyukur, mengagumi indahnya alam ciptaan Tuhan, ritual foto bersama dan selfi ria adalah menu wajib yang tak boleh dilupakan.

Google tak berdusta. Pantai Gili Labak ini benar-benar indah nan memesona. Kalau pasir putih mungkin bisa ditemukan di banyak pantai, tapi yang paling membuat saya takjub adalah air lautnya yang bening kehijauan. Ketika kaki saya nyemplung ke dalamnya saya bisa melihat dengan jelas kaki saya itu. Pasirnya juga lembut. Keindahan itu dimanfaatkan oleh para pecinta snorkeling, tidak hanya dari kota-kota di Indonesia tapi juga dari berbagai belahan dunia.

air lautnya yang bening kehijauan by rafif

pesona laut, pantai, dan cakrawala by rafif

Ya, konon, Gili Labak sudah dikenal dunia. Meski pulau ini sendiri sebenarnya sangat kecil dan hanya menampung 33 keluarga. Saya mencoba mengitarinya, dan benar kata teman saya yang mengatakan,"Butuh waktu tidak lebih lama dari mengisap sebatang rokok untuk mengelilingi pulau ini." tapi saya tidak sempat menghitung berapa menit atau jam tepatnya, karena sebagian besar waktu saya habiskan untuk berendam. Nyemplung di laut dengan berpakaian lengkap. Saya benar-benar tak bisa menahan diri untuk tidak merasakan segarnya air laut Gili Labak ini.

pose terakhir sebelum nyemplung :)
Senja yang indah. Saya menceburkan seluruh tubuh dan menikmati air yang meresap ke dalam kulit saya. Rasa air lautnya tidak begitu asin, apalagi jika dibandingkan dengan Laut Gili Rakit di Sumbawa. (sepertinya saya cocok sebagai peneliti kandungan garam air laut. Hehe)

Shalat jamak qashar pun saya dirikan di pantai itu. Tanpa sajadah, tanpa alas. Saya biarkan pasir putih nan halus itu menempel di wajah dan kedua telapak tangan saya. Sudah agak lama saya tidak shalat di tempat terbuka seperti ini (selain saat idhul fitri dan idhul adha tentunya). Terakhir, kalau saya tidak salah ingat, saat kemah di Pantai Lombang, kira-kira setahun silam.

senja yang memisahkan
Senja yang mempertemukan dan senja pula yang mengantar kami pulang. Kembali naik ke perahu, adurmas air tawar dari jerigen, suara mesin yang sama, dan perahu mulai bergerak. Berat rasanya meninggalkan Gili Labak yang hanya sempat disinggahi sebentar. Saya juga belum sempat keliling ke pemukiman penduduk dan bercakap-cakap dengan mereka.

Tapi apapun, saya puas dan penuh kesyukuran. Pantai Gili Labak adalah pantai terindah yang pernah saya kunjungi. (@RafifAmir)


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Pesona Pantai Gili Labak yang Tak Ada Duanya "