Senyuman Bintang

Jika kalian rindu kepadaku suatu saat nanti, kalian bisa melihat bintang  di langit malam. Mereka adalah aku, Bintang. (Hal. 100)

Itulah yang pernah diucapkan bintang pada kedua sahabatnya; Andin dan Icha, sebelum ia tak lagi bisa berkata-kata.

Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, yaitu Andin sebagai "Aku", novel ini menceritakan kehidupan persahabatan yang indah, penuh tawa, sekaligus mengharukan dan berderai airmata antara Andin, Icha, Mikha, dan Bintang.

Keseruan mereka dalam menjalin persahabatan, tiba-tiba dikejutkan dengan penyakit kanker yang menggerogoti tubuh Bintang. Bintang harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Andin dan Icha setia menungguinya, sebelum secara tiba-tiba, Andin harus pergi ke Malaysia menjenguk neneknya yang sedang sakit. Semula Andin menolak permintaan orang tuanya itu, tapi ia tak bisa melihat papa dan mamanya sedih. Ia bahkan belum sempat berpamitan pada Bintang.

Empat bulan di Malaysia, Andin sangat merindukan Bintang, hingga ketika telah kembali ke Indonesia, betapa senang hatinya. Pertama kali yang ia lakukan, mengunjungi Bintang di rumahnya. Tapi ternyata, Bintang kembali dirawat di rumah sakit, tiga bulan lalu.

Andin kembali sedih. "Tak boleh ada yang memisahkan persahabatan kami," katanya. "Hanya kematian yang dapat memisahkan kami. Persahabatan kami harus tetap berdiri, harus tetap kukuh. Lebih kuat daripada gedung-gedung dan bangunan. Lebih kuat daripada pohon besar." (Hal. 70)

Alur yang menarik, ketegangan yang berfluktuasi, dalam sebuah tema yang tak pernah membosankan bagi anak dan remaja, persahabatan. Seingat saya, ini kali pertama saya membaca sampai habis buku KKPK.

saya dan Fani
Fani, penulis buku ini adalah murid saya di kelas menulis SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Saya telah membaca beberapa karyanya yang memang didominasi tema-tema seputar persahabatan, cinta, dan keluarga. Daffania Cahyani, nama lengkapnya, termasuk yang paling produktif diantara yang lain, dan cerpen-cerpennya menunjukkan kematangan dirinya dalam mengolah pengalaman dan memaknai hidup. Itu terlihat dari bagaimana ia menulis metafora, membangun dan menyelesaikan konflik, hingga karakterk yang hidup dalam tokoh-tokohnya.

Maka saya tak heran saat mendapat kabar, Fani menerbitkan buku. Bahkan buku ini telah jauh-jauh hari ditulisnya. Semenjak masih duduk di bangku SD. Saya ingin melihat ia menjadi penulis besar suatu saat nanti.

Lalu, bagaimana akhir dari kisah Bintang? sebagian besar mungkin sudah bisa menebak. Tapi lihat, bagaimana ia akan membuat pembaca tersedu-tersedu dengan kisahnya. Persahabatan, kenangan, kematian, dan tawa-canda yang diputar ulang.

Bintang masih melihat indahnya taman ini. Matanya berbinar-binar saat melihat kupu-kupu indah beterbangan. Tapi, wajah Bintang sangat pucat! sungguh, aku belum pernah mendengar Bintang mengeluh saat melawan penyakit ganasnya. Bintang memiliki ketabahan yang luar biasa! (Hal.77)

Book Review #63. Review Senyuman Bintang. Fani. Dar Mizan, C1, 2016. 109 halaman. Selesai baca pada 25 Januari 2015
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

1 Response to "Senyuman Bintang"