Perkembangan Kebatinan di Indonesia

Aliran Kebatinan, kata Buya Hamka, kemungkinan berasal dari salah satu firqah, yaitu Bathiniyah. Kelompok Bathiniyah memahami Al-Qur'an tidak seperti yang tertulis tapi pada makna lain yang simbolik. Misalnya pada kisah Nabi Ibrahim yang masuk ke dalam api tapi tidak terbakar, golongan Bathiniyah mengatakan bahwa sebenarnya itu bukanlah api tapi simbol panasnya pemerintahan Raja Namrudz.

Kebatinan adalah turunan kepercayaan nenek moyang terhadap roh-roh yang disebut animisme dan dinamisme. Ditambah masuknya agama Hindu dan Budha yang banyak mengajarkan tentang kejiwaan dan filsafat. Maka ketika Islam datang, muncul upaya sinkretisme, mencocok-cocokkan atau menyesuaikan Islam dengan agama sebelumnya.

Bahkan sinkretisme masuk pada penggunaan istilah atau kata-kata. Misalnya, sembahyang, yang artinya menyembah Hyang. Padahal Hyang artinya arwah nenek moyang. Dalam masyarakat primitif, arwah nenek moyang dianggap sebagai Tuhan atau dewa (Hal. 13)

Kebatinan yang kita kenal dan banyak dianut masyarakat adalah paham Kejawen. Paham Kejawen inilah yang sering dicampur adukkan dengan ajaran Islam. Sehingga kita mengenal istilah Islam Abangan. Mereka terus mencari titik temu antar ajaran agama; Hindu, Budha, dan Islam. Beberapa buku Kejawen yang terkenal misalnya, Kitab Darmogandul, Kitab Gatoloco, dan Kitab Hidayat Jati. Dalam kitab-kitab itu seringkali Islam dianggap inferior dibandingkan agama lainnya. Bahkan banyak yang memuat penghinaan terhadap Islam. Darmogandul dikarang (sejatinya), kata Buya Hamka, bukanlah untuk sinkretisme, tetapi untuk menghina, mengejek dan menghabiskan segala pengaruh ajaran Islam.

Dalam buku ini juga dijelaskan secara ringkas kesimpulan Prof H.M Rasjidi dari Kitab Darmogandul dan Kitab Gatoloco. Juga beberapa takwil dari aliran Bathiniyah. Misalnya, Ka'bah ditakwilkan Nabi Muhammad, Nabi Isa yang menyembuhkan orang buta ditakwilkan menyadarkan orang yang masih buta mata hatinya.

Di Bab 5, dijelaskan tentang peranan R Ngabehi Ronggowarsito sebagai Bapak Kebatinan. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah Hidayat Jati tahun 1852. Dengan mempelajari kitab ini, dapat disimpulkan bahwa Kebatinan adalah campuran antara faham Bathiniyah dan Tasawuf Wihdatul Wujud.

Sedangkan Kejawen sendiri mulai populer sejak mas Kerajaan Pajang. Penganut Kejawen seringkali menolak syariat-syariat Islam. Pernah ketika  Sidang Konstituante, seorang yang menganut Kejawen, mengatakan bahwa Islam itu kejam, Islam disebarkan dengan kekerasan, Islam membunuh orang lain yang tak sepaham.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Di masa kekuasaan belanda, Amangkurat I, yang notabene penganut Kejawen, memrintahkan menangkapi para kyai dan santri. Sehingga tersebutlah dalam sejarah Jawa, bahwa lebih dari  6000 (enam ribu) Kyai dan Santri dibunuh. Disuruh berdiri di alun-alun lalu ditembaki; habis perkara! (Hal. 61) Aklibat perbuatannya, Amangkurat I harus menanggung tekanan batin dan gangguan jiwa di akhir hidupnya.

Di buku ini juga dijelaskan khusus pada bab 8 tentang masukknya Gerakan Wahabi  ke Keraton Mataram. Kapan? tahun 1790. Gerakan Wahabi membawa ajaran tauhid ke dalam Keraton. Melihat hal itu, rupanya Belanda tidak suka. Ia memaksa Keraton untuk menyerahkan guru-guru pembawa ajaran Wahabi itu. Maka sejak saat itu, Kejawen kembali tumbuh subur, Gerakan Wahabi diberangus, kitab-kitab anti Wahabi marak dan tersebar di seluruh pelosok Jawa. Hingga 10 tahun kemudian Tiga orang  dari Mekkah yaitu Haji Miskin, Haji Piabang, dan Haji Sumanik datang ke Jawa untuk kembali mendakwahkan tauhid, tetapi terhalang hingga akhirnya mereka berdakwah di Sumatera. Dan meletuslah Perang Paderi.

Dua bab berikutnya membahas Diponegoro dan Perang Diponegoro. Apa yang dipaparkan Buya Hamka dalam bukunya ini tentang Pangeran Diponegoro bertolak belakang dengan informasi yang beredar belakang ini bahwa Diponegoro adalah seorang penggila wanita, pembuk, dan haus kekuasaan. Bahkan kata Buya Hamka, berdasarkan pengakuan seorang Belanda sendiri yang pernah melihat Diponegoro, matanya selalu memancarkan sinar tajam berwibawa.

Kembali ke soal Kebatinan. Aliran ini berkembang pesat di Jawa, khususnya di Jawa Tengah. Sementara itu, antar golongan sesama Islam sedang cekcok mengenai perkara furu'. Khilafiyah atau perselisihan itu, kata Buya Hamka, menyebabkan jiwa menjadi kasar. Orang yang tak sefaham dianggap musuh hingga akhirnya tenaga ummat Islam habis dalam pertengkaran (Hal. 91).

Islam, kata Buya, menggabungkan kesucian lahir dan kesucian batin. Syarat diterimanya ibadah adalah niat (batin) dan benarnya amal (lahir). Tapi Kebatinan justru seringkali mengabaikan amalan lahir. Misalnya saja, Taman Siswa yang dipelopori Ki Hadjar Dewantara, yang menganjurkan Shalat Daim atau shalat dalam hati. Bertentangan dengan ajaran Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan, yang juga banyak mendirikan lembaga pendidikan.

Keduanya, menurut Buya, menciptakan dua poros besar yang kelak akan sangat menentukan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, yaitu, Ki Hadjar Dewantara-Taman Siswa-PNI dan Kyai H.A. Dahlan-Muhammadiyah-Masyumi. Kalau sekarang mungkin sudah berganti nama parpol, tokoh, dan ormas-ormas dan lembaga-lembaganya.

Book Review #66. Review Perkembangan Kebatinan di Indonesia. Hamka. Bulan Bintang, C3, 1986. 95 halaman. Selesai baca pada 2015
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Perkembangan Kebatinan di Indonesia "