Ar-Rahman dan Mahar Pernikahan

Jauh sebelum menikah, saya berdoa dalam hati mudah-mudahan calon istri saya kelak menginginkan hafalan surat Ar-Rahman sebagai maharnya. Saya sangat menyukai surat itu dan saya sering mengulang-ulangnya. Saya pun mulai menghafalnya.

Ketika khitbah, saya penasaran kira-kira mahar apa yang akan diajukan oleh calon istri. Dan semakin membuat saya penasaran karena ternyata mahar tidak disampaikan langsung melalui lisan tetapi lewat SMS. Saya pun menunggu. Terus terang sempat khawatir juga karena saya benar-benar hanya modal nekat. Uang tabungan hasil kerja jadi karyawan swasta sudah dipastikan akan habis buat beli persiapan nikah.

SMS darinya akhirnya tiba, "Silakan pilih: Hafalan surat Al-Anfal atau Ar-Rahman." Saya langsung bersyukur karena bahagia. Bukan hanya karena maharnya tidak memberatkan tetapi juga mahar itu adalah impian dan doa saya. Saya langsung menjawab mantap, "Insya Allah surat Ar-Rahman." Dan saya pun semakin bersemangat menghafalnya, juga membuka-buka tafsirnya.

14 Maret 2010. Hari yang berbahagia itu pun tiba. Alhamdulillah, pada hari akad nikah saya bisa mempersembahkan hafalan surat Ar-Rahman saya dengan lancar. Saya menangis ketika membacanya, antara bahagia dan menyadari betapa beratnya amanah yang bakal saya pikul: mitsaqan galizha.







loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Ar-Rahman dan Mahar Pernikahan"