Istana Cahaya, Pertemuan Kedua

Enam tahun perjalanan kita, menuju Istana Cahaya. Kadang berlari. Kadang terjatuh. Kadang tertatih. Kadang istirah.

Tapi kita tahu, ini bukanlah akhir. Ini adalah awal perjalanan kita, mendaki bebukit cita yang terjal, melewati ngarai dan lembah duka. Perjalanan kita hanya akan dipisahkan oleh ajal.

Kita akan saling bergenggaman tangan, erat. Menyusuri sungai-sungai makrifat, meniti helai-helai rindu, menaiki sampan-sampan khalwat.

Kita harus yakin, bahwa pada akhirnya kita akan sampai. Pada purnama yang telah kita tulis di atas kertas cinta. Cinta yang gerimis, seperti Muhammad dan Khadijah, bukan yang menghancurkan seperti Qais dan Laila.

Dan, biarlah, perjalanan kita melukis takdirnya pada kanvas masa. Masa yang tak kita tahu berapa lama lagi menggenapi usia. Pada akhirnya kita hanya tanah, namun kebersamaan tak akan pernah musnah. Kau tahu, surga lebih indah sebagai tempat pertemuan kedua. Istana Cahaya! ya, di sanalah senyummu dan senyumku kembali bertemu. Kebahagiaan sempurna. Tak ada lelah. Tak ada airmata.

***

Dan kini kita telah menuntaskan enam tahun perjalanan. Masih ada tahun-tahun yang lebih cerlang. Tahun-tahun yang kita pungut darinya kuntum-kuntum mawar. Kita hirup bersama wanginya, melewati rahasia-rahasia indah milikNya. Rahasia tentang kapan Istana Cahaya itu kita mukimi.

Kita harus saling bergenggaman tangan, karena kesendirian hanya akan menjadikan jiwa kita perih dan sunyi. Tak ada rintangan yang tak dapat kita lalui sebab kita telah melewati tahun-tahun duka cita, tahun-tahun yang menguras airmata. Kita telah sama-sama belajar, bahwa kesulitan menjadikan kita tegar. Setegar karang yang dihempas gelombang lautan.

Yang perlu kita lakukan hari ini, hanya fokus. Fokus pada satu tujuan mulia itu. Istana Cahaya. Kita akan menjadi sepasang cahaya yang saling memantulkan, menggapai-gapai kesempurnaan. Kita harus berlari sekuat tenaga, karena kita tidak tahu napas kita akan berakhir dimana. Kita akan terus berlari hingga lelah, hingga kelelahan lelah menyertai kita. Ketika jatuh dan terluka, kita akan sama-sama mengusap perihnya untuk kemudian tersenyum dan kembali melangkah.

Kita sedang menuju Allah! (@Rafif Amir)

Persembahan untuk My Beloved, Ainul Nismala



Dan k
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Istana Cahaya, Pertemuan Kedua"