Mie Akhirat, Pedasnya Surga dan Neraka

Sebenarnya tagline dari depot Mie Akhirat adalah Nikmatnya Surga, Pedasnya Neraka. Sengaja saya plesetkan menjadi Pedasnya Surga dan Neraka. Karena itulah kenyataannya. Hehe. Semula saya pikir, menu "surga" tidaklah pedas, yang pedas hanyalah menu "neraka", tapi ternyata saya salah. Baik surga maupun neraka sama-sama membakar lidah.

Kejadiannya siang tadi. Saya dan istri iseng mencoba dahsyatnya Mie Akhirat ini. Pertama karena penasaran, kedua karena termakan iklan. Tapi iklan itulah yang bikin terbitnya rasa penasaran. Whahaha. Begitu sampai di tempat parkir, kondisi sudah sangat rame. Saya sempatkan jeprat-jepret sejenak, yang sebagiannya saya share di artikel review ini.

Menunggu antrian, yang tidak terlalu panjang sebenarnya. Hanya saja, sepertinya rombongan muda-mudi terlihat alot dalam menyelesaikan transaksi di kasir. Jadi ya, bersabar aja. Sambil jeprat-jepret lagi, istri berdiri mengantri. Kami memesan 1 porsi ramen surga seharga Rp 18.000,-, dan 1 porsi dimsum tim siomay kepiting seharga Rp 13.000,-. Entah seperti apa bentuknya, saya hanya pasrah. Melihat jajaran menunya, namanya unik-unik bikin penasaran mencobanya satu-satu.

Petugas kasir menanyakan dengan ekspresi datar (maaf, saya sedikit mengkritik bab ini karena tak terlihat sama sekali si kasir tersenyum. Atau mungkin karena mata saya yang kelilipan ya. Wkwkwk) level berapa yang diinginkan. Saya gak berani terima tantangan level 10 yang tak lain tak bukan adalah level tertinggi. Awalnya bilang tanpa level alias tanpa sambel. Tapi tak pikir-pikir lagi, lah jadi gak berasa akhirat nanti. Hehe. Akhirnya, saya putuskan level 1 aja, mengingat di video yang saya lihat, level 1 aja sudah bikin lidah kelilipan.

Kami mendapatkan nomer punggung, eh, nomer meja dan memilih dengan bingung meja-meja yang tersedia. Pilihan terakhir jatuh pada meja yang paling dekat dengan kipas angin. Maklum, panasnya tiada terkira. Benar-benar neraka nih, pikir saya. Tak berapa lama datanglah dua porsi yang ditunggu-tunggu. Sengaja saya tak pesan banyak, karena khawatir pedasnya melenyapkan selera.

Saya coba menikmati Ramen Surga yang disajikan Mie Akhirat ini. Masya Allah, panas dan pedasnya lumayan bikin lidah sedikit keriting. Tapi sesuai tagline-nya, memang benar-benar nikmat. Mie kuah yang dipadu dengan jamur kuping, wortel, stik telur, sejenis nugget, dan semacam penganan berbentuk udang, entah apa namanya. Meski pedas, jujur saya suka. Keringat pun mulai bercucuran. Mulut terus mengunyah dan menyeruput kuah yang membanjiri mie. Untuk ukuran lidah saya, pedasnya sudah sangat pas. Kalau level 2 mungkin saya akan KO di tengah jalan.

Bagaimana dengan dimsum tim siomay kepiting? memang bukan tim sepakbola, karena bukan kesebelasan melainkan hanya empat biji saja. Mantap dimakan dengan saos tomat, karena memang menu ini tidak ditaburi sambal level-levelan. Sebagian saya celupkan, saya rendam dalam kuah ramen surga. Maka jadilah dimsum neraka. Hehehe.

Sembari makan, tak lupa saya mengamati sekitar. Bukan mencari sesuatu yang hilang. Biasalah, sebagai penulis yang ingin tulisannya kaya, mencari sebanyak mungkin bahan. Saya menemukan promo yang menarik, yang ditempel di dinding. Ada peringatan untuk berdoa dulu sebelum makan lalu foto dan upload di instagram, ada tiket nonton gratis bagi yang terpilih. Wah, seru juga!

Visi Mie Akhirat 

Saya juga menemukan tulisan begini, Visi Mie Akhirat: Mengingatkan manusia tentang kehidupan akhirat melalui makanan. Wah, menarik juga. Lalu ada tulisan yang agak panjang, yang saya catat untuk dibawa pulang: Mie akhirat adalah sebuah nama brand yang terinspirasi dari renungan hidup manusia yang kelak akan ke akhirat sebagai destinasi akhirnya. Menu surga dan neraka mengingatkan kita bahwasanya  nanti di akhirat akan ada 2 tempat yang dimana itu adalah hasil yang kita peroleh selama hidup di dunia. Kata-kata itu persis seperti yang tertulis. Tidak saya tambahi, tidak saya kurangi. Menurut saya bahasanya kurang tertata, mungkin perlu diperbaiki agar lebih enak lagi dibaca (naluri ke-editor-an saya mengatakan demikian).

Dari tulisan-tulisan itu, saya menduga bahwa pemilik Mie Akhirat ini adalah orang yang relijius. Apalagi ketika saya temukan juga kalimat-kalimat motivasi di dinding. Bahkan ada ajakan untuk mengenakan jilbab pula. Yang agak mencolok itu ajakan buat para jomblo untuk menjauhkan diri dari maksiat. Mungkin seruan tersirat untuk tetap menjomblo sampai jodoh datang. Hehehe.


Demikianlah ulasan sekilas. Datang dan buktikan sendiri pedasnya surga dan neraka di Mie Akhirat ini. Tersedia banyak menu pilihan. Mulai Nasi Goreng Api, Nasi Goreng Neraka, Mie Ceker, Mie Blackpaper, juga snack seperti jamur crispy, hingga menu andalan kita bersama: Nasi Putih.
daftar menu. gambar via mieakhirat.com

Untuk lokasi di Sidoarjo, tepatnya di Jalan Raya Ponti No.16 (Utara GOR Delta). Kalau Surabaya di Citarum No.2 dan Medokan Ayu No.21. Buka 10 pagi-10 malam. Parkirnya nyaman untuk motor. Free juga plus pelayanan dari pak tukang parkir yang istimewa. Silakan ajak keluarga, jangan lupa berdoa sebelum mencicipi pedasnya. (@RafifAmir)
lokasi, no telpon, dan peta. rafifamir.com

                                                             ****

Tertarik produk atau bisnis Anda diulas di www.rafifamir.com? bisa kontak saya di rafif_amir@yahoo.co.id atau hubungi 081554421577. Beberapa hasil review yang sudah muncul di halaman pertama google antara lain: Bebek Sinjay Kini Hadir di Sidoarjo dengan keyword "Bebek Sinjay Sidoarjo" dan Cepat, Nyaman, dan Murah dengan Bus Trans Sidoarjo dengan keyword "Trans Sidoarjo".

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Mie Akhirat, Pedasnya Surga dan Neraka"