Perjuangan Buya Hamka Menulis Tafsir Al-Azhar

Jika sebelumnya saya bercerita tentang pengalaman berburu Tafsir Al-Azhar, itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kisah perjuangan Buya Hamka menulis tafsir setebal 30 jilid itu, yang oleh Saleh Basayut disebut-sebut sebagai tafsir Al-Qur'an pertama dalam bahasa Indonesia.

Kisah yang akan saya bagi ini, saya rangkum dari Majalah Panji Masyarakat edisi 317 berdasarkan penuturan Buya Hamka sendiri.

Mulanya, Tafsir Al-Azhar rutin disampaikan Buya Hamka dalam "Kuliah Subuh"-nya di Masjid Al-Azhar. Kemudian untuk pertama kalinya dimuat di Majalah Gema Islam pimpinan beliau sendiri. Namun dalam redaksi majalah, nama beliau tidak dicantumkan mengingat sebelumnya majalah Panji Masyarakat yang beliau pimpin dibredel, gara-gara memuat tulisan Bung Hatta berjudul "Demokrasi Kita" yang merupakan pukulan telak bagi pemerintahan Soekarno. Jendral Soedirman dan Kolonel Mukhlas Rawi lah yang membantu Hamka hingga akhirnya Gema Islam terbit. Dan kedua nama itu yang dicantumkan di jajaran pemimpin redaksi.

Tafsir yang dimuat pertama kali dalam majalah adalah Juz 18, dimulai dari surat Qad Aflahal Mu'minun atau surat Al-Mu'minun. Pujian dan dukungan datang dari berbagai kalangan umat Islam atas tulisan Buya Hamka itu, tapi di saat yang bersamaan pula cacian dan hinaan dari kaum komunis semakin menghebat. Hujatan dan kebencian itu sudah berlangsung sejak lama, bahkan ketika beliau masih menyampaikan tafsir Al-Azhar melalui ceramah subuh.

Puncak dari penghinaan itu adalah tuduhan plagiat yang disematkan pada beliau atas roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Namun ternyata tak berhenti sampai di situ, kaum komunis sepertinya mendesak pemerintah untuk menjebloskan Hamka dalam penjara. Mereka tak ingin Islam berkembang pesat. Mereka tak ingin Tafsir Al-Azhar menjadi buah bibir dan mendapat tempat di hati kaum muslimin.

Maka saat yang dikhawatirkan itu pun tiba. Buya Hamka masih mengingatnya dengan sangat detil. 29 Januari 1964, bertepatan dengan 12 Ramadhan 1384. Saat itu usia beliau 56 tahun. Beliau ditangkap dirumahnya atas tuduhan menjadi ketua GAS (Gerakan Anti Soekarno). Suatu tuduhan yang mengada-ada yang bahkan beliau sendiri pun tak mengenal GAS itu. Praktis, sejak itulah Tafsir Al-Azhar berhenti ditulis.

Beliau ditahan seorang diri di Bungalow Herlina di Puncak. Sungguh berat derita yang beliau rasakan, namun syukurlah Allah memberikan petunjuk. Di tengah kesendirian yang hampir-hampir menyesatkan fikir dan batin itu, beliau dikaruniai ilham untum melanjutkan Tafsir Al-Azhar.

Maka inilah penuturan Buya Hamka yang membuat mata saya berkaca-kaca, "Maka tidaklah ada hari yang terbuang. Siang dipergunakan untuk mengarang tafsir. Petang dan malam buat membaca Al-Qur'an sampai khatam berpuluh kali. Shalat selalu dapat dilakukan di awal waktu."

Beberapa lama kemudian beliau dipindahkan ke rumah tahanan di Megamendung. Sebelum akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit karena penyakit disentri. Tapi perjuangan beliau menulis Tafsir Al-Azhar tak pernah surut. Di Rumah Sakit Persahabatan Rawamangun itu beliau terus melanjutkan menulis. Beliau menulis dengan tangan dan pena.

Ketika meletus peristiwa G30S/PKI, Buya Hamka masih terbaring di rumah sakit. Beliau hampir-hampir juga menjadi sasaran penculikan kalau aparat tidak segara siaga menjaga tempat-tempat vital termasuk Rumah Sakit Persahabatan.

Tanggal 21 Januari 1966 Buya Hamka keluar dari rumah sakit dan kembali menjalani tahanan rumah, sebelum kemudian dibebaskan pada 22 Mei 1966. "Saya bersyukur," kata Buya, "karena ditahan dua tahun empat bulan (22 Januari 1964-22 mei 1966) memberikan manfaat besar yang tak disangka-sangka. Keluar dari tahanan membawa Tafsir Al-Qur'an yang telah tamat." Allahu Akbar! Betapa skenario Allah adalah yang terindah. Saya ikut merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan Buya meski saya tak pernah bertatap muka dengannya. Kalau dalam majalah Gema Islam beliau sanggup menulis dua juz dalam dua tahun. Ketika berada di tahanan beliau dapat menyelesaikan 28 juz dalam 2 tahun empat bulan. Masya Allah! Maka kemudian Buya mengutip surat Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi: "Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itulah yang baik bagi kamu dan boleh jadi kamu menginginkan sesuatu padahal dia itu buruk bagi kamu. Allah lah yang Maha Tahu sedang kamu tidak mengetahui."

Perihal mengapa Buya Hamka memulai menulis Tafsir Al-Azhar dari juz 18. Karena ada rasa takut, kata beliau, kalau-kalau belum tammat kita sudah mati. Maka ketika di tahanan pun beliau memulai menulis dari juz 20 sampai juz 30 dulu. Baru setelah selesai, beliau mulai menafsirkan surat Al-Baqarah. Karena saking beliau ingin karyanya dibaca banyak orang dan memberikan manfaat sebanyak mungkin.

Berikutnya, karya beliau mulai dicetak oleh "Pembimbing Masa" milik Haji Mahmud. Dimulai dari juz 1,2,3, dan 4. Cetakan pertama tahun 1968 namun sayang kemudian tak dapat berlanjut. Buya Hamka berjuang, mencari cara bagaimana agar karyanya, Tafsir Al Azhar itu dapat kembali diterbitkan. Beliau bertemu dengan Haji Abdulkarim dan Engkau Haji Sayfi'i di Surabaya. Beliau berdua tertarik untuk menerbitkan, dimulai dari juz 30.

Menyusul kemudian Rusydi Hamka dengan penerbit Nurul Islam menerbitkan juz 5 sampai juz 14 dan Haji Mahmud dengan penerbit Pembimbing Masa dari juz 1 hingga juz 4. Sementara juz 15 sampai 29 diterbitkan Haji Abdulkarim.

Maka sempurnalah Tafsir Al-Azhar sebagai sebuah kitab tafsir yang dapat dibaca banyak orang. Dengan tafsir ini, kata Buya Hamka, saya tidak ingin lagi mencapai kemegahan dunia, melainkan ingin mendapat syafaat Allah di akhirat.

Padahal perjuangan beliau dalam menulis karya monumental ini tidaklah mudah. Selain harus melalui masa-masa sulit di tahanan, beliau harus membaca banyak referensi. Berikut beberapa referensi yang beliau pakai dalam menulis tafsir Al-Azhar: Tafsir Thabari, Tafsir Razi, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Al Kasysyaf, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Khazim, Al Futuhat Al Ilahiyah al Jamal, Tafsir Muhammad Abduh, Al Jawahir karya Syekh Thantawi Al Jauhari, Tafsir An Nasafi, Al Mizan karya Sayid Muhammad Husain Ath Thaba Thabai (Ulama Syiah), Fi Dzilalil Quran karya Sayyid Qutb, Al Furqan karya A Hassan, Al-Qur'an dan Terjemahannya oleh Depag RI. Semua kitab itu beliau baca khususnya ketika di rumah sakit, dibawa oleh istri dan anak beliau dari rumah.

Namun demikian, Buya Hamka sebagai seorang ulama yang tawadhu, menyadari bahwa karyanya itu tak mungkin lepas dari kekurangan. Beliau menerima semua masukan bahkan akan merevisi jika terdapat kekeliruan yang sifatnya prinsipil.

Mudah-mudahan, kata Buya mengakhiri kisahnya, dia (Tafsir Al-Azhar) dapat menjadi salah satu alat untuk menghidupkan Islam dalam hati kita dan menambah menyalanya semangat perjuangan dalam dada kita. (@RafifAmir)


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Perjuangan Buya Hamka Menulis Tafsir Al-Azhar "