Sebuah Kisah "Menemukan" Kembali Sejarah

Benih-benih ketertarikan saya pada sejarah sebenarnya sudah muncul sejak lama. Tepatnya sejak saya masih di sekolah dasar. Saya suka sekali membaca kisah-kisah kepahlawanan seperti Trunojoyo, perjuangan merebut kemerdekaan, hingga tragedi G30S/PKI yang menyayat hati. Lagu favorit saya pun waktu itu adalah lagu-lagu yang mengingatkan pada betapa jasa-jasa para pahlawan bangsa patut dikenang, antara lain "Gugur Bunga", "Jembatan Merah", dan "Jendral Ahmad Yani".

Selain sejarah, saya juga menyukai Sastra dan Matematika. Dan tampaknya dua yang terakhir ini lebih dominan mewarnai perjalanan hidup saya pada periode berikutnya. Ditambah lagi guru-guru sejarah yang kurang "asyik" saat mengajar. Ada satu guru sejarah yang lumayan berkesan, namanya Mukti Ali. Suaranya khas, intonasinya pas ketika menerangkan di depan kelas.

Tapi Sastra dan Matematika terlanjur membuat saya tergila-gila. Hingga SMA, waktu saya banyak disibukkan dengan mengurusi angka-angka, selebihnya menulis puisi dan opini. Tentu, kegemaran membaca tak boleh dilupakan. Sebagaimana saat masih SD, saya tetap haus buku-buku. Berlangganan majalah pun tak ketinggalan.

Mungkin inilah yang kemudian mengantarkan minat saya pada sejarah kembali tumbuh, mekar bak bunga sakura di musim semi. Jika waktu SD saya berlangganan majalah Mentari, saat SMA saya rutin membeli majalah Sabili. Majalah Sabili banyak mempengaruhi cara berpikir saya, termasuk menjadikan saya pribadi yang peka dan kritis. Tahun 2003 Sabili menerbitkan edisi khusus bertajuk Sejarah Emas Muslim Indonesia, disusul tahun berikutnya Islam Kawan atau Lawan. Seperti kehausan, saya menuntaskan membaca keduanya dengan sangat cepat. Dan saya pun kembali membuka lembar-lembar buku sejarah. Meski kemampuan menghafal saya lemah, saya tahu bahwa memahami lebih penting daripada sekadar menghafal.

Memasuki bangku kuliah, giliran Sastra dan Bisnis yang dominan. Meski saya kuliah di jurusan elektro, saya tak terlalu menikmatinya. Maka menulis menjadi pelarian utama. Tak lupa berjualan apa saja meski kecil-kecilan. Minat saya pada sejarah sedikit meredup, meski tak benar-benar lenyap. Sekali-dua saya masih membaca buku-buku sejarah di sela mengkhusuki novel dan buku motivasi.

Dan tampaknya belakangan ini, minat saya pada sejarah kembali menguat. Sepertinya kali ini pengaruhi oleh Majalah Panji Masyarakat dan Majalah Tempo lawas yang saya baca. Di dalamnya banyak memuat sejarah yang sebagiannya belum saya ketahui, belum pernah saya baca, dan belum pernah saya dengar.

Maka, demi memelihara ingatan saya yang lemah dan demi melestarikan ilmu untuk berbagi dan menginspirasi, saya membuat blog khusus yang berisi catatan-catatan saya dari apa yang sudah saya baca. Semacam "Mengikat Ilmu", kata Imam Ali, atau kata Bambang Trim, "Mengikat Makna". Blog itu saya berinama, "Taman Sejarah". Karena saya ingin membaca sejarah ibarat kita rekreasi ke masa lalu, melihat peristiwa-peristiwa untuk dijadikan renungan dan pelajaran melangkah menuju masa depan.

Ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa saya ahli sejarah. Masih sangat jauh kiranya. Buku-buku yang saya baca belum seberapa, belum seujung kuku. Saya menulis karena saya ingin memelihara ingatan, itu saja. Maka wajar jika tulisan saya masih banyak meyimpan kekurangan atau hal-hal yang keliru dalam penyampaian. Maka semoga pembaca sekalian berkenan mengingatkan. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Sebuah Kisah "Menemukan" Kembali Sejarah"