Silaturahim ke Rumah Dukut Imam Widodo, Penulis Sejarah Kota-Kota

Meski sudah dua kali bertemu dan bertegur sapa dengan Pak Dukut Imam Widodo dalam acara yang berbeda, terus terang saya masih ingin ngobrol secara khusus dengan beliau. Banyak hal yang ingin saya diskusikan. Tidak hanya tentang proses kreatif dan lika-liku dunia kepenulisan, tetapi juga bagaimana menjaga stamina untuk terus menulis. Karena saya melihat, di usia beliau yang tak lagi muda, masih menyimpan energi kepenulisan yang luar biasa.

Maka di siang yang cukup terik itu, Utha, salah seorang anggota FLP Surabaya, telah mengatur pertemuan kami. Rumah Pak Dukut Imam Widodo di daerah Wiguna Tengah, Surabaya. Dari UPN masih lurus ke arah timur. Utha dan temannya sebagai pemandu arah, saya mengikuti dari belakang. Maklum, masih asing daerah situ. Selain juga trauma karena sering tersesat di Surabaya. Hehe.

suasana ngobrol bersama Dukut Imam Widodo
Kami terlambat sekitar tiga menit ketika sampai di rumah beliau. Namun Pak Dukut menyambut kami dengan sangat ramah. "Selamat datang di gubuk saya," kata beliau merendah. Saya melihat ke dinding sekitar ruang tamu yang dipenuhi dengan foto-foto lawas, iklan-iklan lawas, karikatur, patung, dan gambar cover karya-karya beliau, antara lain: Soerabaja Tempo Doeloe, Grisse Tempo Doeloe, Malang Tempo Doeloe, dan Hikajat Soerabaja Tempo Doeloe. Benar-benar karya yang spektakuler. Beliau juga menunjukkan foto kedua orangtua beliau, yang bagi beliau sangat menginspirasi. "Ibu saya menguasai banyak bahasa," tutur beliau, mengenang. Mungkin itu pulalah yang mendasari gagasan beliau menerbit sebuah buku kumpulan cerpen bersama berjudul "Ibuku Perempuan Super".
dinding ruang tamu

Maksud kedatangan saya dan Utha ke rumah beliau, selain ingin silaturahim, juga bermaksud mengundang beliau menjadi pembicara dalam acara upgrading FLP Jawa Timur yang akan dilaksanakan bulan Februari 2016 di Malang. Temanya "Be A Writerpreneur". Bagi kami, Pak Dukut Imam Widodo sangat layak menyampaikan materi satu ini. Beliau tidak hanya seorang penulis yang telah menghasilkan banyak buku tentang sejarah kota-kota di Jawa Timur, tetapi juga memiliki penerbit sendiri bernama Dukut Publishing. Buku-buku beliau pun bukan buku ecek-ecek, selain isinya yang berbobot, berat bukunya pun sampai 3 kg, menggunakan kertas artpaper, sampul hardcover+box. Saya hanya punya satu buku beliau yang berjudul Grisse Tempoe Doeloe. Soal harga, silakan ditaksir sendiri, untuk buku tebal yang kaya riset dan fakta sejarah.

Tak terlalu lama kami ngobrol, diselingi joke-joke segar dan kue-kue buatan Bu Dukut, akhirnya kami harus beranjak pulang. Tak lupa meninggalkan jejak dengan berfoto ria terlebih dahulu. Saat itu, kebetulan ada dua lagi personil FLP Surabaya yang ikut bergabung. Jadi lengkap berenam dengan Pak Dukut. Tapi maaf, yang nampak di gambar cuma lima, karena satu lagi berperan sebagai juru foto. Hehe. (@RafifAmir)

Kenangan silaturahim ke rumah Pak Dukut Imam Widodo, 18 Januari 2016
bersama teman-teman FLP Surabaya
Rafif Amir bersama Dukut Imam Widodo

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Silaturahim ke Rumah Dukut Imam Widodo, Penulis Sejarah Kota-Kota"