Ikrar Husnul Khatimah

Ikrar Husnul Khatimah yang digagas Cak Nun dalam bukunya ini boleh dibilang ide brilian yang berusaha mengantarkan bangsa pada kedamaian.Sebuah konsep dan cara yang ditawarkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menjejaki reformasi dengan lapang dada dan kebahagiaan tak terkira.

Ikrar Husnul Khatimah, kata Cak Nun, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, serta di mana saja, dengan terlebih dahulu menanggalkan kesombongan, sujud kepasrahan pada Allah, menyusun kembali pemahaman tentang kebenaran dan kebaikan.

Cak Nun mengajak kita bernapas di zaman reformasi dengan mencuci segala kebencian yang menjangkiti hati. Kepada siapapun, termasuk pada orang yang dianggap telah melakukan dosa besar selama lebih dari 32 tahun.

"Kita menjadi bangsa yang tidak dewasa, dengan hanya sanggup memperlakukan Suharto hanya dengan kebencian, dendam dan sikap brutal. Kita tidak punya kesanggupan kolektif untuk memperlakukannya secara berbudaya: di satu sisi memproses secara hukum kesalahan-kesalahannya sampai ke penjara kalau perlu. Sedangkan Allah sendiri, yaitu Dzat yang menciptakan kuku-kuku dan bulu-bulu kita, membuka pintu demokrasiNya, menyuruh Musa as. untuk mendatangi Fira'un dan menanyakan kepada diktator takabur itu apakah ia mau bertobat." (Hal. 31)

Kesudahan yang baik, setelah perjuangan melelahkan menciptakan alam demokrasi. Tak perlu ada teror dan dendam. Semua memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Kira-kira itu yang ingin disampaikan Cak Nun lewat puisi-puisinya.

Kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kitan sudah berlari ke sana ke mari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum.Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun kita biarkan ajaran-ajarannya terus hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan, yakni melarangnya untuk insaf dan bertobat. (Hal. 110)

Cak Nun dengan Ikrar Husnul Khatimah-nya menelanjangi aib-aib diri untuk menumbuhkan kesadaran bahwa tak layak keburukan dibalas dengan keburukan yang lebih besar. Kita diajak berbenah, merangkul bukan menghakimi, menyadarkan bukan mencaci-maki. Betapa elok suasana bangsa yang dibangun dengan keharmonisan dan saling memaafkan. Inilah kurang lebih ajaran dari Husnul Khatimah-ya Cak Nun yang dituangkan lewat buku kecil, bersampul putih, tepat setahun pasca reformasi. 

Book Review #69. Review Ikrar Husnul Khatimah. Emha Ainun Nadjib. Hamas, C1, 1999. 158 halaman. Selesai baca pada 19 April 2016
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Ikrar Husnul Khatimah"