Lima Gaya Cari Duit Ala Mahasiswa

Sudah menyandang status sebagai mahasiswa tapi masih minta uang jajan sama orang tua? Malu gak, Sob? Mungkin sebagian ada yang menjawab, "Ah, biasa aja!" tapi ada juga yang dengan malu-malu mengatakan, "Malu, sih, tapi mau bagaimana lagi?"

Terus terang, ketika masih kuliah saya mengalami hal yang sama. Rasanya malu mau minta uang sama ortu, meski saya tahu beliau tak akan menolak jika memang untuk biaya kuliah atau kebutuhan sehari-hari. Apalagi sebagai seorang laki-laki yang sudah baligh, yang kata ustadz sudah tidak wajib lagi dinafkahi. Jadi kalau orang tua memberi uang pada saya, itu dihitung sebagai sedekah. Malu banget ya, Sob, kalau meminta-minta sedekah. Sudah gitu, masih ada juga yang meminta dengan nada tinggi alias gak sopan. Duh!

Saya ingin cerita nih, pengalaman pribadi saya sendiri. Ketika masih kuliah banyak hal yang saya lakukan untuk cari duit sendiri. Sampai sebelum lulus, saya sudah berhasil punya penghasilan yang lumayan untuk makan sehari-hari, membiayai skripsi, dan menikah. Saya ingin berbagi dengan sobat semua, mudah-mudahan menginspirasi.

1. Jualan Modal KTM
    Ya, KTM alias Kartu Tanda Mahasiswa. Cuma modalnya itu doang, Sob. Saya bersama teman saya menitipkan fotokopi KTM di sebuah toko roti, sebagai syarat agar dapat menjualkan produk mereka. Pagi-pagi sekali saya mengambil beraneka macam roti di toko itu untuk dijajakan di kampus, keliling kampung, hingga ke kosan dan kontrakan mahasiswa. Waktu itu saya hanya menggunakan sepeda onthel saja, Sob. Hasil penjualan saya setor ke pemilik toko dan saya mendapatkan komisi 20% dari roti yang sudah terjual. Alhamdulillah hasilnya lumayan buat nambah-nambah uang jajan.
     Tips: Cobalah cari toko-toko yang bisa diajak bekerjasama seperti ini. Dijamin tokcer. Tanpa modal bisa jualan. Kalau dengan KTM gak bisa mungkin jaminan lainnya mereka mau, Sob.

2. Jualan Tanpa Modal. Cuma T3 (Terima, Tunggu, Tunai)
    Saya punya teman penjual susu kedelai. Ia menjual produknya itu ke kontrakan-kontrakan. Nah, saya minta ia untuk men-supply ke kontrakan saya juga. Pagi-pagi dia antar ke kontrakan saya, saya taruh barang dagangannya itu di tempat yang mudah dijangkau teman-teman kontrakan. Jika ingin membeli, mereka akan menaruh uang di tempat yang telah saya sediakan dan mengambil sendiri susu kedelainya. Sore hari, saya sudah bisa panen. Tapi cara ini tidak saya sarankan kalau kontrakan Sobat kurang kondusif. Nanti, bukannya untung malah buntung.

3. Bikin Bisnis Sendiri Bersama Teman 
    Ketika pindah tempat kontrakan, saya bersama dua teman saya yang lain berdiskusi mencari ide bisnis. Muncullah ide buka catering. Kebetulan, ibu tetangga kontrakan jago masak, jadi beliau yang kami minta untuk menjadi kokinya. Modal awal dari kami bertiga. Sistem kami buat mirip MLM. Jadi siapa yang langganan catering kami dan berhasil mengajak temannya untuk ikut langganan nanti akan dapat komisi. Alhamdulillah, berjalan cukup lumayan, Sob. Namun akhirnya buyar karena kesibukan kami masing-masing.

4. Bisnis Sendiri Modal Sendiri
    Sebelumnya saja jualan pulsa, Sob. Tapi hanya beberapa bulan karena rugi banyak yang ngutang gak bayar. Hehe. Lalu saya beralih ke jualan buku. Alhamdulillah yang ini benar-benar sesuai passion saya. Sampai sekarang pun bisnis ini masih saya geluti. Awalnya, jualan kecil-kecilan ke teman-teman sendiri, lalu merambah dunia online, sampai buka toko kecil-kecilan di pojok kampus. Saya beri nama Cahaya Pustaka. Ternyata asyik juga, Sob.

Baca Juga : Memulai Bisnis dari Hobi 

5. Bekerja Sebagai Karyawan 
    Dua tahun sebelum diwisuda, saya benar-benar berjuang keras untuk mendapatkan penghasilan tetap. Karena memang bisnis saya waktu itu belum banyak mendatangkan pemasukan, Sob. Setelah mencari ke sana ke mari, saya memberanikan diri melamar di sebuah perusahaan kosmetik. Alhamdulillah diterima. Setiap hari saya ke kantor yang jaraknya jauh dengan kontrakan dengan bersepeda onthel. Sepeda onthel yang bunyinya bergemericing membangunkan semut tidur. Hehe. Karena tugas saya keliling dari toko ke toko untuk melakukan penagihan, saya juga melakukannya dengan mengendarai sepeda kesayangan saya itu.

Setidaknya itu, Sob, yang pernah saya lakoni. Kelima gaya itu yang membuat saya tetap eksis di tengah beban ekonomi yang mendera. Halah. Prinsip saya waktu itu, tidak akan meminta duit sama ortu kecuali mereka yang memberikannya terlebih dahulu. Hehe.

Ohya, Sob, kalau dulu itu saya masih belum punya HP android dan masih gaptek (sekarang pun masih gaptek, sih). Bisa saya tambahkan saran untuk Sobat sekalian di jaman yang canggih seperti sekarang, bisa jualan jualannya orang lain tanpa modal atau yang biasa disebut dropshipper. Sebenarnya mirip-mirip sama jualan susu kedelai yang saya ceritakan. Cuma, dengan menjadi dropshipper, tak perlu repot nyetok barang. Cuma tingga tawarkan sebanyak mungkin lewat WA, BBM, atau medsos lainnya. Kalau ada pesanan baru kita ambil barangnya. Lalu transaksi dan tinggal terima komisi. Menarik, kan? Ayo semangat cari duit mumpung masih jadi mahasiswa. Itung-itung cari pengalaman dan persiapan buat modal nikah? (@RafifAmir)

Baca: 7 Jurus Nikah Muda
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Lima Gaya Cari Duit Ala Mahasiswa"