Lumajang Menuju Kota Literasi

Suasana pendopo Kabupaten Lumajang hari itu sangat ramai. Lebih dari dua ratus hadirin sudah memenuhi tempat duduk masing-masing. Saya, pengurus FLP Lumajang, Dukut Imam Widodo, dan Bupati Lumajang, As'at Malik beserta ibu memasuki ruangan pendopo yang tampak megah nan indah dengan ukiran-ukiran yang menghiasi tiang-tiang penyangganya.
Suasana Pendopo Lumajang. Tampak Bupati As'at (baju batik coklat)
Inilah hari yang bersejarah bagi kota Lumajang. Bapak Bupati, dalam sambutannya, mengamini gagasan untuk menjadikan Lumajang sebagai kota literasi. Beliau menyebutkan bahwa wacana ini sudah mulai dicanangkan sejak lama, bahkan telah diwujudkan salah satunya dalam gerakan 45 menit tilawah Al-Qur'an sebelum pelajaran dimulai di sekolah-sekolah. "Tinggal nanti kita atur waktunya, sebagian untuk membaca buku," tutur beliau disela diskusi kami sebelum acara dimulai.
sambutan Bupati Lumajang
Dalam sambutan itu pula, Bupati Lumajang yang tampil dengan busana santai dan sederhana, menyampaikan persetujuannya untuk proyek penulis buku sejarah "Lamadjang Tempo Doeloe" yang digagas oleh Pak Dukut Imam Widodo bersama teman-teman FLP Lumajang. Memang, dalam kitab-kitab kuno nama asli Lumajang tertulis "Lamadjang". Entah bagaimana asalnya tiba-tiba berubah menjadi Lumajang. Rupanya Pak As'at tergelitik untuk menelitinya. "Mungkin kalau alasan perubahannya kurang kuat, bisa kita kembalikan lagi ke nama asal, Lamadjang," tambah beliau.

Tentu, menurut saya, itu ide yang menarik. Sejarah memang harus terus digali sampai kebenaran terungkap. Dengan kebenaran itulah pada akhirnya kita bersikap. Benar-benar, aura menjadikan Lumajang sebagai kota literasi sudah demikian terasa. Semangat hadirin pun berkobar-kobar. Dalam sambutan saya sebagai ketua FLP Jatim, saya menambahkan, "Sudah sepatutnyalah Lumajang yang kaya beragam potensi dan budaya ini, selain dikenal sebagai Kota Pisang dan kota yang memiliki banyak tempat wisata, juga dikenal dengan kota seribu penulis. Mudah-mudahan FLP Lumajang bekerjasama dengan elemen lain bisa aktif mewujudkan cita-cita Lumajang sebagai kota literasi."
sambutan Rafif Amir, ketua FLP Jatim
Saya melihat kesungguhan dari Bapak Bupati untuk mewujudkan impian ini. Bukan tanpa alasan, mengapa sedemikian besar perhatian beliau terhadap dunia lietrasi. "Karena sebelum saya menjadi Bupati, saya adalah seorang pendidik, seorang guru," kata beliau. Jika berhasil, maka Lumajang akan menjadi kota pertama di Indonesia yang mengklaim sebagai kota literasi sekaligus membuktikannya dengan melahirkan masyarakat yang gemar membaca, penulis-penulis nonfiksi dan sastra, serta berbagai komunitas dan lembaga yang mendukung tumbuh sumburnya budaya literasi, iklim literasi yang akan menjadi percontohan bagi kota dan kabupaten lain di Indonesia.

Dan acara yang bertajuk "Ayo Menduniakan Lumajang. Menuju Lumajang Cinta Literasi" itu adalah langkah awal bagi FLP Lumajang. Resmi dibuka dengan pukulan gong sebanyak tiga kali oleh Bapak Bupati dan serah terima proposal kerjasama penulisan "Lamadjang Tempo Doeloe", acara yang mayoritas dihadiri oleh pelajar dan mahasiswa se Kabupaten Lumajang itu menyuguhkan motivasi menulis oleh Dukut Imam Widodo. Dimeriahkan juga dengan penampilan musikalisasi puisi dan tarian khas Lumajang.
pembukaan acara oleh Bapak Bupati
serah terima Dukut Imam Widodo dengan Bupati Lumajang
tarian khas Lumajang
FLP Lumajang, sebagai salah satu organisasi yang fokus pada agenda literasi, akan terus berkiprah, bergandengan tangan dengan komunitas yang lain termasuk juga dengan pemerintah dan dinas terkait menjadikan harapan Lumajang sebagai kota literasi berbuah manis. Semanis buah kepel yang tumbuh subur di halaman pendopo. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Lumajang Menuju Kota Literasi"