Menulis 10 Menit Seperti Dikejar Anjing

Manusia harus bisa menulis, bahkan menjadi penulis (Radhar Panca Dahana, Budayawan)

Menulis telah menjadi kebutuhan. Hampir tak ada seorang pun yang melek aksara yang tidak pernah menulis. Setidaknya satu paragraf. Tidak melulu harus dibayangkan berupa karya di media cetak atau blog pribadi. Seseorang bisa menulis SMS/WA/BBM yang cukup panjang, status di facebook, kicauan di twitter yang berisi curhatan atau pengalaman kesehariannya. Atau ribuan kata yang terlontar saat mengomentari sesuatu, saat berdiskusi, juga saat menyapa teman dan menanyakan kabarnya. Bukankah ini bukti bahwa menulis telah menjadi kebutuhan personal yang tak bisa dielakkan. Mungkin sebagaimana kebutuhan berbicara, karena di jaman yang serba canggih seperti sekarang ini kebutuhan berbicara banyak diwakili oleh tulisan. Kalau dulu menggunakan telpon, sekarang lebih memilih menggunakan media sosial yang notabene penyampaian informasinya melalui tulisan.

Namun demikian, oleh sebagian besar orang, menulis dianggap masih saja sulit. Padahal, melakukan suatu pekerjaan yang sulit belum tentu tak berhasil melakukannya. Dan belum tentu karyanya akan sangat buruk, seperti yang dibayangkan. Peter Elbow, bahkan menyimpulkan dalam bukunya Writing Without Teacher, bahwa mereka yang realtif lebih mudah menulis tidak ada jaminan akan menjadi penulis yang lebih baik daripada yang menulis dengan penuh kesulitan. Yang diperlukan, menurut Elbow, hanyalah konsistensi untuk menulis.

Elbow menggagas menulis selama 10 menit setiap hari. Tidak perlu persiapan apapun. Tidak perlu belajar teori apapun. Cukup sediakan kertas dan bolpen atau komputer/laptop lalu mulailah menulis. Menulis bebas. Tentang apa saja. Menulislah dengan cepat dan jangan berhenti sebelum 10 menit berlalu. Jangan pedulikan kesalahan tanda baca. Hiraukan kata, kalimat, atau paragraf yang gak nyambung. Abaikan semuanya. Tugasmu hanya menulis tanpa berhenti sedetikpun.

Jika tidak ada ide, maka tulislah "Aku bingung... aku bingung..." begitu seterusnya. Sebanyak-banyaknya, sampai menemukan kata-kata yang lain di kepalamu. Teruslah menulis. Menulislah seperti dikejar anjing. Menulislah seperti ada bom yang akan meledak jika kamu berhenti menulis. Begitulah setiap hari. Cukup sediakan 10 menit saja.

Baca Juga: Menggabungkan Dua Ide Menjadi Sebuah Cerita

Saya yakin ini akan berhasil. Saya yakin latihan ini akan membuatmu menjadi penulis. Lakukan dengan konsisten. Anggaplah sebagai sarana menumpahkan emosi, uneg-uneg, lintasan pikiran atau segala hal yang membuatmu bahagia, gelisah, tak tenang, atau segala hal yang kamu lihat, dengar, rasakan. Keluarkan itu semua dalam dirimu. Dengan itu, menulis akan menjadi jalan untuk terus memperbaiki diri, pengingat akan kekurangan dan optimis terhadap potensi yang dimiliki. Menulis akan membangkitkan semangat, menjadikan hidup menjadi lebih tenang dan plong sehingga kualitas hidup menjadi lebih meningkat. Seperti kata Radhar, "Kerja menulis akan selalu menempatkan kita dalam level atau derajat kemanusiaan yang lebih tinggi." (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Menulis 10 Menit Seperti Dikejar Anjing"