Menulis Pendek Vs Menulis Panjang

Tulisan yang panjang hingga berpuluh-puluh halaman belum tentu lebih bagus daripada tulisan yang hanya satu halaman saja atau bahkan hanya satu paragraf. Sehingga janganlah kita menjadikan parameter banyak-sedikit tulisan untuk mengukur kualitas karya seseorang.

Begitu pula, meminjam istilah Bambang Trim, seorang yang menulis buku dengan model "butiran" belum tentu lebih rendah kualitasnya daripada penulis buku model tahapan/kerangka. Jika hanya mengatakan bahwa penulis buku model tahapan lebih pakar dari segi teknis kepenulisan saya setuju, tapi tidak dengan mutu karya.

Kualitas karya semata-mata, menurut saya, ditentukan oleh seberapa banyak orang yang tercerahkan setelah membaca karya tersebut. Semisal karya fenomenal Aidh Al-Qarni, La Tahzan, yang ditulis dengan model butiran tetapi banyak menginspirasi pembacanya, atau Shaid Al-Khatir karangan Ibnu Al-Jauzi yang disebut-sebut sebagai karya terbaik beliau serta meraih predikat best seller internasional juga ditulis dengan model butiran.

Jadi, tak perlu merasa takjub berlebihan jika ada teman yang menulis sampai berlembar-lembar dan jangan pula sedih jika hanya sanggup menulis status yang hanya satu-dua kalimat tapi murni dari pikiran sendiri. Terkadang sedikit tapi mengena pada pembaca itu lebih baik daripada banyak yang bertele-tele.

Lagipula, tulisan-tulisan yang hanya sedikit itu akan menjadi banyak jika kita konsisten menulis. Daripada menulis banyak kemudian cuti menulis berminggu-minggu.
Baca Juga: Menulis 10 Menit Seperti Dikejar Anjing
Menulis pendek juga bisa melatih kita untuk warming up atau pemanasan sebelum menulis panjang. Terkadang dari satu kalimat status di FB bisa dikembangkan menjadi satu paragraf, satu paragraf menjadi satu halaman, dan seterusnya. Inti dari menulis panjang yang berkualitas adalah memperkaya wawasan kita tentang tema yang sedang digarap. Kalau dalam cerita mungkin perlu berlatih membuat deskripsi atau detail dan dialog-dialog yang bernas.

Sebaliknya, seorang penulis yang sudah terbiasa menulis panjang perlu sesekali menulis pendek untuk tetap menjaga kualitas karyanya. Karena terkadang, ketika terbiasa menulis panjang, tapi mengalami kehabisan ide sebelum waktunya, akan tergoda untuk menuliskan hal-hal yang kurang penting bahkan di luar tema.

Banyak penulis fiksi yang saya dapati begitu mahir menulis novel tapi kesulitan ketika harus membuat cerpen. Setiap kali hendak menulis cerpen, ceritanya tidak bisa fokus pada satu konflik, pasti melebar sehingga jadilah novel. Banyak pula yang mahir menulis cerpen tapi kesulitan ketika bikin novel. Maka keluarlah dari zona nyaman.

Baik pendek atau panjang, yang terpenting adalah konsistensi dalam menulis. Sekali lagi jangan pernah menyepelekan tulisan diri sendiri, meski hanya berupa tulisan yang sangat singkat. Dari satu quotes tokoh, saya bisa menulis berlembar-lembar, dari frasa atau kalimat menarik yang saya pikirkan, saya bisa menulis cerpen beberapa halaman dan dimuat di media cetak. Dengan SMS-SMS yang rutin saya kumpulkan, saya bisa menulis tentang motivasi dan perenungan. (@RafifAmir)



loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Menulis Pendek Vs Menulis Panjang "