Writing Without Teachers, Upaya Memerdekakan Penulis

Writing Without Teachers adalah sebuah buku yang harus dibaca oleh setiap penulis. Buku ini luar biasa. Ditulis oleh Peter Elbow, seorang yang berpengalaman dan telah menulis banyak buku. Edisi terjemahannya ini, dibubuhi kata pengantar dari seorang budayawan terkemuka Indonesia, Radhar Panca Dahana.

Kata pengantar berikutnya oleh Donny Gahral Adian, yang mengemukakan,"Orang yang melabrak aturan gramatika atau sosial dalam menulis jangan terburu-buru dipinggirkan." Dan buku ini memang bukan tentang teori bagaimana menulis buku yang bagus. Sebagiannya berisi pengalaman Peter Elbow dalam menulis bebas untuk kemudian diterapkannya pada anak didik dan pembaca karya-karyanya.

Bermula dari kegelisahannya saat ia melihat anak-anak berusia 4,5, dan 6 tahun menulis dengan penuh gairah dan bahagia namun ketika mereka sudah duduk di bangku SMA menjadi tidak suka atau takut menulis. Elbow melihat ada sesuatu yang salah. Semakin dewasa mereka semakin menyadari bahwa tulisan yang bagus harus mengikuti aturan-aturan yang berat dan mengekang.

Itu pula yang dulu membuatnya kesulitan untuk menulis. Sebelum ia mengenal "menulis bebas". Ia mulai memaksakan diri untuk menyelesaikan 20 halaman tugas menulis tujuh hari sebelum deadline. Namun itu tak maksimal. Ia mengakui tidak mampu menulis ketika ada seorang guru bersamanya namun bisa bekerja ketika tanpa guru.

Dalam bukunya ini, Elbow memaparkan apa saja poin-poin menulis bebas tanpa guru itu. Diantaranya, menulis tanpa proses penyuntingan, menulis dengan cepat tanpa berhenti selama 10 menit tanpa perlu dikoreksi, mengabaikan berlama-lama membuat kalimat pertama yang menarik.

Baca Juga: Menulis 10 Menit Seperti Dikejar Anjing

Ketika latihan menulis bebas rutin dilakukan, maka akan lahir juga sebuah tulisan yang padu dan menarik. "Hal itu terjadi karena pada bagian tulisan bebas yang padu-pada bagian-bagian di mana pikiran Anda melaju kencang dan memproduksi rangkaian kata yang tumbuh secara organis di luar pemikiran, perasaan atau persepsi--keutuhan makna berada pada level yang lebih tinggi daripada yang bisa dicapai dengan perencanaan atau pengaturan secara sadar," kata Elbow.

Elbow membagi proses menulis bebas ini dalam empat tahap: mulai dan terus menulis, disorientasi dan kekacauan, memunculkan titik imajinasi, memperjelas atau menyunting. Selanjutnya, diskusi bisa membuat tulisan semakin kaya. Dua kepala lebih baik dari satu kepala, kata Elbow. 

Pada bagian berikutnya, Elbow merinci bagaimana kelas menulis anpa guru itu. Sebaiknya kelas berisi 7-12 orang. Pastikan setiap orang menulis setiap minggu. Kemudian tulisan dibacakan bersuara dua kali diberi jeda satu menit setelah tiap bembacaan. Berikan respon tulisan dengan menggarisbawahi dan merangkum. Gunakan lima menit terakhir setiap pertemuan untuk memberi reaksi terhadap kelas itu sendiri. Yang paling penting adalah komitmen dan saling memotivasi.

Tertarik mencoba?

Book Review #70. Review Writing Without Teachers. Peter Elbow. iPublishing, C1, 2007. 222 halaman. Selesai baca pada Maret 2016
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Writing Without Teachers, Upaya Memerdekakan Penulis"