Bahaya Berprasangka Buruk Pada Orang Lain

Di antara bentuk kezhaliman, kata Abdul Hamid Jasim Al-Bilali, adalah menilai seseorang atas dasar satu peristiwa atau data dengan mengabaikan banyak data yang lain. Jangankan dengan seseorang yang baru kita temui, dengan seorang yang telah lama kita kenal pun, tidaklah boleh kita hanya melihat pada suatu peristiwa saja kemudian dengan ceroboh mencapnya sebagai orang yang buruk. Berprasangka buruk padanya. Telusurilah peristiwa-peristiwa sebelumnya, telusurilah sebab-sebabnya.

Saya jadi teringat sebuah video yang menayangkan seorang supir bajaj yang tidak begitu suka melihat peminta-minta. Seorang penumpang bajaj tersebut marah melihat peristiwa itu. Mungkin ia menilai si supir bajaj tak memiliki rasa belas kasihan. Namun sesuatu yang menakjubkan ia lihat dengan mata kepala sendiri. Saat sang penumpang turun dari bajaj, ia melihat si supir bajaj ternyata adalah orang yang cacat, hanya memiliki satu kaki. Maka, si penumpang bajaj terlihat sangat menyesal dengan penilaiannya semula.

Begitulah, dalam menilai orang lain hendaknya kita mengedepankan baik sangka. Karena kata seorang ustadz, lebih baik menyesal karena telah berbaik sangka daripada menyesal karena telah berprasangka buruk. Seorang bijak pun pernah berkata, jika kalian melihat saudara seiman melakukan sesuatu yang buruk maka carilah seratus alasan untuk berbaik sangka, jika tak juga ditemukan maka yakinlah bahwa hanya saja pengetahuan kita yang terbatas tentangnya.

Namun bukan berarti kita selalu tinggal diam. Dalam Islam, ada tabayyun, meminta klarifikasi secara langsung. Sehingga teranglah duduk perkaranya. Jika memang ia melakukan kesalahan, maka kita nasihati dengan cara yang baik. Tapi jika ternyata ada alasan yang bisa diterima, maka selamatlah hati kita dari buruk sangka yang jika dibiarkan akan menjadi penyakit.

Berbaik sangka terhadap saudara, adalah serendah-rendahnya ukhuwah, hal yang paling mendasar dalam menumbuhkan persaudaraan. Puncak tertingginya adalah itsar, mendahulukan kebutuhan saudara seiman daripada kebutuhan kita sendiri.

Prasangka buruk yang dibiarkan hanya menimbulkan penyakit hati. Jika yang disangkakan itu benar, maka tetaplah merusak jiwa. Jika dibiarkan tumbuh bisa menjadi benci atau dendam. Hati hanya akan diliputi gelisah, enggan memaafkan dan merasa diri lebih suci.

Akan tetapi kalau ternyata yang disangkakan itu salah, padahal sudah terlanjur menjadi sesuatu yang diyakini kebenarannya, bisa menimbulkan mudharat yang lebih besar lagi. Jika disebarkan kepada orang lain bisa menjadi fitnah. Kita tahu bahwa fitnah adalah perbuatan yang sangat keji, lebih keji dari pembunuhan. Tanpa sadar kita telah menghancurkan saudara sendiri dengan kalimat-kalimat dusta. Lalu kita merasa tidak melihat kebaikan dalam dirinya sedikit pun.

Baca Juga: Gunakan PPS Saat Berkomentar di Medsos


Padahal andai saja mau tabayyun, atau paling tidak, berbaik sangka padanya, maka kehormatan dan harga dirinya tetap terjaga.

Kalaupun salah, setiap orang pasti melakukan kesalahan dan memiliki kesempatan untuk bertaubat dari kesalahan yang dilakukan. Sebagai saudara, cara terbaik kita adalah menasihatinya dan mengajaknya pada kebaikan. (@RafifAmir)
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Bahaya Berprasangka Buruk Pada Orang Lain"