Berani Jujur, Harus!

Benarkah orang yang jujur itu hebat? Menurut saya, tidak. 

Berbicara dan berlaku jujur adalah suatu keharusan, tak perlu dihebat-hebatkan. Karena kalau kita menganggap orang yang jujur hebat sama seperti kita mengamini bahwa tidak jujur adalah sebuah kebiasaan.

Kalaupun kejujuran memang langka di negeri ini, tapi tetap saja, kejujuran adalah nilai universal yang harus dimiliki setiap manusia. Sekali lagi, harus! bukan sunnah atau "sebaiknya". Apapun agama, suku, bangsa, dan warna kulitnya. Jika kejujuran tidak melekat dalam pribadi manusia, bisa dikatakan bahwa ia adalah manusia yang rusak, cacat akhlaknya.


Semua kerusakan yang berujung pada kehancuran bermula dari ketidakjujuran. Mulai dari pribadi, rumah tangga, hingga negara. Ketidakjujuran merampas dan melenyapkan keadilan. Oleh karena itu, Allah memasukkan sumpah palsu ke dalam kategori salah satu dosa besar.

Ketidakjujuran yang menjangkiti seorang yang mengaku muslim pada akidahnya, membuatnya menyandang predikat munafik. Orang-orang munafik inilah yang seringkali merongrong barisan. Mereka bersikap seolah-olah muslim secara lahir padahal sejatinya hati dan pikirannya cacat, murtad. Orang munafik lebih berbahaya daripada orang kafir, karena ia berupaya merusak Islam dari dalam.

Maka kejujuran menjadi suatu syarat diterimanya syahadat. Meski ia berkali-kali mengucap syahadat tapi hatinya ingkar maka syahadatnya tertolak. Kejujuran adalah ajaran mulia yang harus dipegang teguh, harus melekat menjadi watak dan karakter. Harus menyatu dalam pribadi setiap manusia.

Itulah yang dimiliki oleh junjungan kita, Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam. Beliau dijuluki Al-Amin sejak kecil. Artinya, yang terpercaya. Beliau tak pernah berdusta meski hanya pada seekor binatang pun. Bahkan orang-orang kafir pun mengakui hal itu.

Kemudian kejujuran itu menjadi nilai yang diwariskan pada generasi setelahnya dan seluruh umat Islam. Kejujuran menjadi hal yang prinsip. Praktek dan turunannya banyak sekali, dalam semua bidang kehidupan. Dalam bidang ekonomi, kita dituntu menjadi pedagang yang jujur, tidak mengurangi timbangan. Dalam sektor politik, menjadi politisi yang jujur dan amanah, tidak korupsi. Dalam bidang hukum, menjadi pengacara dan hakim yang jujur, yang berpihak pada kebenaran. Dalam bidang pendidikan, menjadi murid dan guru yang jujur, tidak menyontek dan memberikan contekan.

Sehingga, sekali lagi, menjadi jujur adalah suatu keharusan. Tak perlu diberani-beranikan, karena memang harus berani. Tak perlu dihebat-hebatkan, agar tidak menganggap dusta sebagai hal biasa. Cukup katakan, "Anda Jujur, Anda Selamat!". Tentu yang terpenting bukan selamat dari jeratan KPK, tapi selamat dari siksa dunia-akhirat. ()
@Rafif Amir
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Berani Jujur, Harus!"