Kesabaran Tanpa Batas



Barangkali sudah banyak kitab maupun referensi yang mendefinisikan tentang makna sabar. Bahkan Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, banyak memuat tentang kisah-kisah kesabaran, termasuk definisi dari sabar itu sendiri. Misalnya dalam surat Al-Baqarah ayat 156, Allah menyebut orang-orang yang sabar sebagai orang-orang yang apabila ditimpa musibah maka mereka menyebut kalimat “Innalillahi wa innailaihiroji’uun”.
Saya tidak hendak menafsirkan ayat di atas, karena selain bukan kapasitas saya juga sudah banyak kitab tafsir yang membahas dengan cukup baik dan tajam tentang salah satu “ayat sabar” itu. Saya hanya ingin memetik satu filosofi penting yang tersirat dalam firman Allah tersebut, yakni tentang kemampuan mengendalikan.
Dan bagi saya itulah yang dimaksud dengan sabar. Hakikat sabar yang sebenarnya. Yang menjadi poin penting dari semua definisi tentangnya. Kemampuan untuk mengontrol atau mengendalikan. Jika ia berkenaan dengan musibah yang menimpa seseorang, maka sabar adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dari sikap sedih berlebihan, rasa kecewa karena kehilangan, dan sikap tidak terima terhadap takdirNya. Kemampuan untuk mengendalikan emosi dan dengan dada lapang menerima dan menyadari bahwa semua hanyalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya jua.
Akan tetapi saya pun memasukkan syukur sebagai bentuk sabar terhadap suguhan nikmat. Karena dengan bersyukur berarti kita tidak berfokus pada nikmat yang didapat tapi bagaimana cara mengelola nikmat agar berkah dan manfaat. Disanalah kemampuan kita untuk mengendalikan diuji.
Nah, bagaimana sabar dengan hal-hal yang lain? Apakah menahan lapar di bulan ramadhan termasuk sabar? Apakah tidak melakukan dosa yang nikmat juga disebut sabar? Apakah berjuang dengan segenap jiwa, harta, dan pikiran untuk kebaikan juga termasuk sabar? Jika pertanyaan-pertanyaan itu disodorkan pada saya, maka saya jawab: Ya.

Oleh karenanya sabar melingkupi hampir semua aktivitas kehidupan. Saat kita menunggu, maka kesabaran diuji. Saat makan dan minum pun, kita diharuskan sabar agar tidak tersedak. Bahkan saat—maaf—kebelet BAB, kita juga dituntut bersabar, untuk berjalan beberapa langkah ke toilet, atau ketika dalam perjalanan kita justru lebih diharuskan untuk bersabar.
Maka sesungguhnya, sifat sabar yang mesti kita terapkan terus-menerus dalam setiap kondisi itu adalah cara Allah melatih kita untuk memiliki kesabaran yang luar biasa. Karena Dia menyediakan sesuatu yang indah di ujungnya. Ya! Sesuatu yang semakin kuat ditahan akan semakin terasa nikmat saat keluar. Semakin kita menahan rasa lapar dan dahaga maka akan terasa sangat nikmat ketika berbuka. Bandingkan dengan keseharian kita sebelumnya di luar ramadhan dengan jadwal makan tiga kali sehari, apakah nikmat yang dirasakan sama? Tentu tidak. Larangan-larangan yang ditegaskan Allah pun demikian, tak lain agar kita bisa merasakan kenikmatan yang sempurna. Minuman keras dilarang, berzina dilarang, jika kita mampu bersabar maka balasannya akan mendapatkan surga yang didalamnya khamar menjadi minuman sehari-hari, dan dipersilakan kepada kita mencumbu bidadari-bidadari bersilih ganti.
Bukankah sesuatu yang belum pernah kita cicipi nikmatnya akan semakin nikmat saat kita merasakannya pertama kali? Termasuk menikah. Mengapa pacaran atau sekadar berpegangan tangan dilarang, salah satu hikmahnya tak lain agar kita merasakan sentuhan pertama yang nikmat menyengat dan malam pertama yang begitu indah berkesan.

Kesabaran-kesabaran itu justru menjadikan kita tertata, teratur, dan menikmati setiap ujungnya dengan kebahagian yang sangat. Oleh karenanya kesabaran perlu dilatih, karena ia tak jauh beda dengan keterampilan-keterampilan lainnya. Perlu latihan yang banyak, agar semakin terasah dan mahir untuk bersabar dalam kondisi apapun. Latihannya tidak harus menunggu ramadhan akan tetapi setiap hari. Bisa dengan cara-cara sederhana, tidak harus dengan puasa, misalkan dengan menyisakan sedikit uang di dompet saat berbelanja agar tidak tergoda membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan, atau ketika di jalan raya dengan berkendara yang santun, pelan-pelan ketika mendekati Zebra Cross atau saat ada yang hendak menyeberang, dan lain-lain.
Tanpa kita sadari bahwa banyak kemudahan teknologi dan sarana yang kita dapatkan justru mengikis kesabaran kita. Jika dulu memasak menggunakan tungku harus bersabar untuk menunggu nasi matang beberapa lama, kini cukup dengan rice cooker hanya dalam hitungan belasan menit saja, nasi sudah siap dihidangkan.
Produk-produk makanan pun demikian; ada mie instan, sambal instan, bumbu instan, dan sebagainya. Yang sebenarnya secara tidak langsung membuat kita semakin dimanjakan dengan kemudahan dalam setiap hal, termasuk dalam proses membuat atau melakukan sesuatu.
Jika sarana-sarana untuk latihan sabar ini terus dikikis dan kita kurang kreatif dalam menciptakan hal-hal baru sebagai sarana latihan, maka bisa jadi suatu saat yang terjadi justru kesemrawutan dalam hidup ini. Karena-karena masing pribadi sudah kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.
Padahal sebagai seorang muslim, kita mengenal kesabaran yang tanpa batas. Kesabaran yang seharusnya tak berpangkal. Karena kita meyakini bahwa Allah tidak akan menguji hambaNya di luar batas kesanggupannya. Bukan ujian itu yang mesti diringankan tapi kesabaranlah yang harus ditingkatkan.
Bagaimana caranya? Dengan mengingat firmanNya dan QS Al-Insyirah, “Bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan.” Bahwa jarak antara kesulitan dan kemudahan adalah sangat singkat.
Agar kita bersabar ketika ditimpa musibah, maka kita mengingat pahala yang akan Allah berikan, dosa-dosa yang Allah luruhkan dengan cuma-cuma, dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan di masa yang akan datang. Kita juga terus-menerus menggali hikmah atas serangkaian takdirNya yang indah, karena terkadang ada sesuatu yang manis yang telah Dia persiapkan untuk kita.
Agar kita bersabar dalam menjalankan ketaatan, maka kita mengingat bahwa janji Allah kepada yang beriman dan bertakwa kepadaNya adalah surga yang seluas langit dan bumi. Nikmat yang tak terperi, rezeki yang barakah dan senantiasa mengalir, serta kedamaian jiwa dan puncaknya kelak, menatap WajahNya.
Agar kita bersabar dalam menjauhi maksiat, maka perbanyaklah mengingat akan akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat. Apalagi kita dikaruniai akal untuk menimbang baik-buruk dan memikirkan segala dampak dari setiap apa yang kita kerjakan. Setiap yang berakal, kata Ibnu Jauzi dalam Al-Thibb Al-Ruhani, mestinya menyadari bahwa tekad untuk melawan hawa nafsu lebih ringan dibandingkan resiko menurutinya. Artinya, sabar jauh lebih baik daripada kita menuruti bisikan nafsu yang akan mengakibatkan kehancuran selama-lamanya.
Masih kata Ibnu Jauzi, “Bertahan dalam penderitaan adalah sebaik-baik pengobatan.” Dan itulah yang akan menyelamatkan kita dari azab yang pedih. Wallahu a’lam.

(Dimuat di Majalah SQ Edisi Mei 2016). Bagi yang ingin mendapatkan majalah ini atau menjadi donatur Yayasan Dompet Al-Quran Indonesia (DeQI), sebuah lembaga sosial yang berfokus untuk menyantuni anak yatim penghafal Qur'an, bisa menghubungi saya atau situs resminya www.dompetalquran.org

loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Kesabaran Tanpa Batas"