Ketika Orang-Orang Besar Dikritik

Seorang pemuda datang "melabrak" Bung Hatta. "Kami, para pemuda Islam," katanya dengan nada tajam, "sangat kecewa kepada Bapak, karena kami menganggap Bapak tidak bertanggungjawab kepada bangsa ini."

Ia menunggu reaksi Sang Proklamator. Tapi yang pemuda itu lihat, justru senyum bangga dari wajah beliau. Lalu menanggapinya dengan ketenangan bak telaga, "Mengapa demikian?"

Pemuda itu melanjutkan, "Bapak tinggalkan kursi kewakil-presidenan, jadi Bapak tahu kalau Sukarno itu tidak pernah mendengarkan perkataan orang lain kecuali kalau Hatta bicara. Sekarang, setelah Bapak meninggalkan dia, dia jadi merajalela. Buku Bapak mengenai ilmu klasik itu saja dilarang."

Bung Hatta kembali tersenyum, "Saya bangga pada kalian, karena walaupun kalian insinyur kalian tetap memperhatikan politik..."

***
Saya pernah mengirim email berisi kritikan kepada seorang penulis besar. Seorang penulis yang sebenarnya saya kagumi. Saya mengkritik tulisannya di koran minggu yang menurut saya sangat tendensius, terlalu meliuk-liuk dan miskin data.

Ia membalas email saya dengan pembelaan diri yang tak wajar, nada kemarahan terlihat jelas dari kata-kata yang dipilihnya. Selanjutnya ia malah "curhat" tentang hal-hal di luar topik yang kami sengketakan. Saya menilai, ia gagal dalam menyikapi perbedaan pendapat dan kritik.

Saya kecewa. Tentu. Karena ia seringkali menulis kritik yang tajam pada pemerintah, hiperbolis bahkan tak jarang sarkastik. Kegemarannya mengkritik ternyata tak menumbuhkan kedewasaan dirinya dalam bersikap ketika dikritik balik.

***
Bung Karno, menurut saya, juga adalah diantara tokoh besar yang antikritik. Kritik-kritik yang ditujukan kepadanya berbalas penjara. Sjahrir, Natsir, Hamka, Mochtar Lubis, adalah sederet nama yang diasingkan karena tidak sejalan dengan kehendak Soekarno. Bung Hatta bahkan sampai mengundurkan diri dari kursi wakil presiden karena kengototannya. Majalah Panji Masjarakat yang memuat tulisan Hatta berjudul "Demokrasi Kita" pun dibredel karena isinya dianggap kritik pedas terhadap kebijakan Soekarno.

***
Para imam mazhab: Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad seringkali dikritik bahkan saling mengkritik satu sama lain. Beliau adalah para imam mujtahid, yang bisa mengeluarkan fatwa berdasarkan pertimbangan Al-Qur'an dan Hadist. Namun beliau sama sekali tidak anti terhadap perbedaan pendapat. Tidak lantas bersikeras mengatakan bahwa pendapatnya yang paling benar. Bahkan beliau mengatakan jikalau ternyata fatwanya salah maka jangan diikuti.

Baca Juga: Kekuatan Lahir Vs Kekuatan Batin 

Orang-orang yang anti terhadap kritik, menurut saya, telah menutup ruang diskusi untuk menemukan kebenaran, untuk menemukan jalan keluar terbaik. Ada kalanya memang pendapat kita yang paling bagus, tapi kritik bisa menyempurnakannya atau paling tidak mengingatkan akan resiko-resiko yang bisa saja terjadi. Kritik bisa memperkaya jika tidak dianggap sebagai serangan besar-besaran untuk menyembelih "harga diri" kita.

Meski memang tidak setiap kritik harus dijawan dengan anggukan. Paling tidak, mendengarkan sebuah sikap menghargai. Selama tidak diiringi dengan kekerasan, kritik adalah hal yang wajar dalam suasana keterbukaan apalagi di sebuah negara yang menganut demokrasi.

Menerima kritik dengan tulus sejatinya memang sulit jika tidak terlebih dahulu menanggalkan pakaian ke-Aku-an, kebanggaan yang berlebihan terhadap yang berasal dari diri sendiri. (@RafifAmir)


loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Ketika Orang-Orang Besar Dikritik"