Membentuk Karakter Muslim

Kita hidup dalam dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-raba namun tidak menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih, tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus. Dunia kita telah berubah menjadi hutan belantara; dimana bahasa bisnis kita adalah persaingan, bahasa politik kita adalah penipuan, bahasa sosial kita adalah pembunuhan, dan bahasa jiwa kita adalah kesepian dan keterasingan. Kita adalah masyarakat sipil yang berwatak militer. Kita adalah masyarakat peradaban yang berbudaya primitif. Kita adalah manusia-manusia sepi di tengah keramaian. Kita adalah manusia-manusia merana di tengah kemelimpahan.
Begitulah Anis Matta menulis dalam pendahuluan buku Membentuk Karakter Muslim ini. Itulah gambaran masyarakat kita dan sedikit banyak potret diri kita. Lemahnya karakter dan akhlak yang menjadikan kita terpuruk sedemikian dalam.

Rumus akhlak, kata Anis Matta, adalah Iman plus Amal Shalih.  Akhlak adalah sesuatu yang melekat, yang terpola dan bersifat tetap dan refleks. Jadi iman yang benar yang dibarengi dengan tekad untuk mengimpletasikan kebenaran itu pada akhirnya membentuk karakter seorang muslim sejati.

Dalam pada akhirnya, terbentuk kepribadian Islam dalam diri seseorang, menurut Anis Matta dalam bukunya ini sebagai berikut:

Islam datang membawa nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan; lalu nilai-nilai itu masuk dalam wadah fitrah manusia, berupa ruh dengan dorongan ibadahnya dan jasad dengan dorongan bertindaknya; lalu ada daya dukung lingkungan alam yang siap mewadahi aktivitas yang lahir dari manusia itu; lalu dari sisi manusia terjadilah proses-proses ini;

Ia mengenal dan mengetahui nilai-nilai itu melalui panca inderanya; kemudian akalnya mencoba memahami nilai-nilai itu dan mungkin memilih atau menolaknya; hasil pilihannya itu kemudian turun ke wilayah hati yang akan merasakannya lalu meyakini atau mengingkarinya; jika ia meyakininya maka ia akan menghendakinya, dan kehendak itulah yang turun menjadi tekad setelah ia memutuskan untuk melakukannya; lalu ia akan melakukan keputusan itu, maka lahirlah tindakan dan sikapnya; lalu apa yang kemudian dominan (karena sering terulang melalui kebiasaan) dari tindakan dan sikap itulah yang kita sebut dengan akhlak; yang terakhir inilah yang akan membentuk kepribadiannya.(Hal.57)
Metode Setan

Setan memilik tiga langkah untuk menjerumuskan manusia hingga pada akhirnya memiliki karakter jahat. Awalnya masuk melalui lintasan pikiran, menjadi memori, lalu lebih dalam lagi ke wilayah kesadaran, menjadi tekad dan kemauan, berubah menjadi perilaku, dan kebiasaan.

Maka untuk menghalau tiga metode setan itu, langkah yang harus ditempuh adalah memasukkan unsur-unsur kebalikannya. Melalui perbaikan cara berpikir dan senantiasa memikirkan hal yang positif, sampai kemudian menjadi karakter positif.

Ringkasnya, ada tiga terapi yang harus dilakukan untuk membentuk karakter muslim: terapi kognitif, terapi mental, dan terapi fisik. Tia-tiap terapi ini diuraikan oleh penulis langkah-langkahnya secara mendetail. Sehingga mudah sekali untuk dipraktekkan. Pada terapi kognitif misalnya, salah satunya adalah membiasakan menulis diary. 

Insya Allah, jika mengkaji dan mempraktekkan langkah-langkah yang dipaparkan Anis Matta dalam buku ini, saya berkeyakinan kita mampu mengubah karakter kita lebih baik lagi.  

Book Review #75. Review Membentuk Karakter Muslim. Anis Matta. Asy-Syaamil, C1, 2001. 81 halaman. Selesai baca pada 23 Mei 2016 
loading...

Silakan masukkan alamat email untuk menerima postingan dari blog ini secara rutin.

0 Response to "Membentuk Karakter Muslim "